The Teacher’s Diary: Parodi Dunia Pendidikan

maxresdefault

Judul                    : The Teacher’s Diary

Sutradara            : Nithiwat Tharatorn

Produksi              : GSC Movies

Rilis                       : 31 Juli 2014

Durasi                  : 110 menit

***

The Teacher’s Diary  adalah bukti bahwa film edukasi tak melulu “berat” dan penuh pesan moral. The Teacher’s Diary bahkan berhasil  mengemas fenomena pendidikan dan kemiskinan rakyat pedalaman dalam komedi romantis yang lucu. Film besutan Nithiwat Tharatorn ini menggambarkan suasana pendidikan di daerah terpencil di Thailand yang sekilas mirip dengan program Indonesia Mengajar atau SM3T di Indonesia.

Bedanya, para guru yang ditugaskan di daerah super terpencil dalam film ini tidak mendapatkan jaminan apapun pasca mengajar. Mereka hanya mendapatkan perpanjangan kontrak sebagai guru, jauh berbeda dengan program SM3T yang menjanjikan karir cemerlang sebagai guru PNS atau Indonesia Mengajar yang menyediakan dana untuk melanjutkan program Magister.

Cerita dimulai dari Ann (Chermarn Boonyasak), seorang guru perempuan muda yang mendapatkan teguran keras dari kepala sekolah karena membuat tatto bergambar tiga bintang di tangannya. Ann yang bersikeras tak mau menghapus tattoonya pun dihukum menjadi guru di sekolah rumah kapal, yang jaraknya mencapai 6 jam dari kota.

Sekolah rumah kapal dibangun mengapung di atas danau dengan konstruksi kayu, layaknya rumah kayu orang Kalimantan. Sekolah ini menjadi tempat belajar bagi tujuh siswa-siswi anak desa sekitar, yang juga tinggal di rumah kapal. Sekolah ini tidak menyediakan listrik dan hanya dibekali satu genset. Tidak ada air mengalir dan seluruh siswa tidak mengenakan seragam. Hal ini diperparah dengan jarak antar rumah yang mencapai puluhan meter, membuatnya seperti bangunan tak dihuni yang terpencil dan menakutkan.

Ann yang diasingkan bersama Gigi, seorang guru perempuan lain, merasakan hidup serba kekurangan, mulai dari keterbatasan air, penyakit ruam karena alergi, tidak ada sinyal dan listrik, serta tidak tersedia transportasi yang memadai. Ann dan Gigi pertama-tama dikagetkan dengan cicak mati yang terjebak di keran bak penampungan air, tempat mereka biasa mengambil air untuk memasak dan gosok gigi. Belum reda rasa shock keduanya, Ann dan Gigi dikejutkan dengan mayat yang mengapung di toilet.

Penduduk setempat mengaku bahwa tiap musim hujan, selalu ada warga yang mati dan baru ditemukan seminggu kemudian lantaran terbatasnya akses komunikasi dan transportasi. Gigi pun menyerah dan memutuskan mundur dari sekolah rumah kapal, meninggalkan Ann sendirian. Setelah itu, Ann disibukkan dengan siswa yang sekolah dan menginap di rumah kapal dari Senin hingga Jum’at. Ann menghabiskan hari Sabtu dan Minggu dengan pacarnya, Nui, yang sering bertengkar dengannya. Ann juga menyempatkan diri menulis diari, buku yang menghubungkannya dengan tokoh kedua bernama Song (Sukrit Wisetkaew).

Song adalah guru laki-laki rumah kapal tahun berikutnya. Berbeda dengan sosok Ann yang cerdas dan terampil, Song adalah guru olahraga yang tidak pandai berhitung dan tidak mengerti teknik mengajar sama sekali. Song mengawali hari pertamanya mengajar dengan menjemput satu persatu siswa di sekolahnya. Di tengah jalan, ia terantuk mesin kapal dan mematahkan tangan kirinya.

Song yang tak pernah mengajar dikagetkan dengan 4 orang muridnya yang sangat susah diatur. Song bahkan memukul tangan muridnya saat merasa kesal. Rasa frustasi Song saat berada di sekolah rumah kapal diperparah dengan kekasihnya yang selingkuh dengan laki-laki lain. Song pun patah hati dan putus asa.

Saat murid-muridnya pulang ke rumah, Song tak sengaja menemukan diari Ann. Ia merasa memiliki teman senasib, apalagi Ann juga mengalami banyak kisah yang mirip dengannya, seperti patah hati di minggu pertamanya mengajar, serta beragam masalah rumit yang menyangkut kondisi sekolah rumah kapal dan kompetensi belajar siswanya. Seiring waktu, Song pun menemukan teknik mengajar yang sesuai dengan kebutuhan muridnya, dengan mengadaptasi cara mengajar Ann seperti yang ditulis Ann dalam diarinya.

Song pun jatuh cinta pada sosok Ann melalui diari yang saban hari dibacanya. Suatu hari, Song memutuskan ke kota untuk bertanya dimanakah Ann sekarang. Kepala sekolah pun menjelaskan bahwa Ann tengah mengajar di Mong Fah, bersama kekasihnya, dan merencanakan menikah tiga bulan lagi.

Lagi-lagi Song patah hati. Kali ini Song merasa seperti seluruh kekuatan dan semangatnya lenyap sudah. Song sangat frustasi dan menulis pesan dalam diari Ann menggambarkan betapa ia sangat kecewa mendengar kabar pernikahan Ann. Meski begitu, Song tetap mengajar dan disibukkan dengan keempat muridnya di sekolah rumah kapal hingga enam bulan berikutnya.

Chon, salah satu murid Song yang sempat putus sekolah, mengalami kesulitan dengan soal pecahan matematika, hal yang tidak dikuasai Song. Suatu kali, soal Matematika mewajibkan Chon menghitung jarak tempuh seseorang yang naik kereta api. Chon dengan polos mengaku bahwa tak sekalipun ia melihat kereta api dan bagaimana cara kerjanya.

Song pun menarik lepas rumah kapalnya dan mengikatkan talinya di ujung perahu, membuat sekolah rumah kapal mengapung dan bergeak layaknya perahu, memutari danau. Para murid sekolah rumah kapal pun sangat senang dibuatnya. Chon sendiri untuk pertama kalinya mengerti soal pecahan.

Ujian kenaikan kelas pun tiba, dan murid-murid sekolah rumah kapal harus mengikuti ujian di sekolah kabupaten. Murid-murid sekolah rumah kapal berhasil lolos ujian dan naik kelas, kecuali Chon. Song menangis hebat saat Chon mengaku ia bukannya tak bisa, melainkan kehabisan waktu untuk menjawab soal pecahan yang pernah dipelajarinya.

Song sangat sedih dan memutuskan untuk berhenti mengajar di sekolah rumah kapal untuk belajar kembali. Ia merasa belum mampu menjadi guru yang baik. Saat itulah kepala sekolah memberitahu Song bahwa Ann akan menggantikan posisinya. Rupanya, Ann membatalkan rencana pernikahannya dengan Nui karena Nui menghamili gadis lain. Ann kembali mengajar di sekolah rumah kapal dan menemukan diari yang pernah ditinggalkannya telah penuh dengan coretan dan noda dimana-mana.

Ann yang patah hati kini dihibur dengan berbagai tingkah konyol Song yang ditulisnya dalam diari. Ann tak lagi kesepian dan jatuh cinta pada Song yang memiliki banyak kemiripan dengannya. Menjelang liburan sekolah, Song memberitahu para murid sekolah rumah kapal bahwa ia akan berkunjung. Ann merasa sangat senang dan mengajak murid-muridnya membersihkan sekolah.

Saat itulah, Nui mengunjungi Ann, menunjukkan penyesalan dan permintaannya untuk kembali bersama Ann. Setelah 13 tahun berpacaran, jelas bukan hal yang mudah bagi Ann untuk begitu saja mengabaikan Nui. Ann dan Nui memutuskan berdamai dan pulang sementara ke kota, tepat sehari sebelum Song datang.

Ann dan Nui mengendarai mobil kembali menuju kota saat keduanya kembali berbeda pendapat. Ann kemudian mengatakan alasan mengapa mereka berdua tak seharusnya bersama, karena mereka tak pernah saling mengerti satu sama lain. Ann memutuskan berbalik arah menuju sekolah rumah kapal, dimana untuk pertama kalinya ia bertemu Song.

Plot yang tak terduga dan dikemas ringan membuat The Teacher’s Diary menuai banyak pujian. Film ini bahkan dinobatkan sebagai The Best Foreign Language Film Honor dalam perhelatan Oscar 2015. The Teacher’s Diary berhasil menggambarkan betapa kemiskinan bukanlah sesuatu yang harus diratapi. Film ini juga menunjukkan dilema yang dialami para pendidik yang ditempatkan di daerah terpencil.  Masih ragu berburu film keren ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s