Posted in Serial

The Light Rains on June (3)

03_F4DF4A93Seusai permintaannya yang aneh itu, Ryuu kabur ke kamar Ren, tempat ia tidur dari dua hari yang lalu. Aku belum sempat melemparnya ataupun memakinya karena keputusan bodohnya untuk membeli mobil dan apartemen dengan uang Ren. Mungkin dia tahu benar bahwa aku akan murka dan memutuskan lari ke kamarnya daripada menghadapiku sendirian. Aku berencana menggedor pintu kamarnya saat kurasakan ponselku bergetar. Nama Ryuu terpampang di layar.

“Shiba, kumohon jangan marah. Aku mencintaimu.”

Aku melongo membaca pesannya.

“Maksudku aku mencintaimu seperti anakku sendiri.”

Dan lebih melongo lagi saat membaca pesan keduanya. Continue reading “The Light Rains on June (3)”

Posted in He's Our Girl

TBMN and TLE Will Be Officially Dropped

Malam ini (setelah sesiangan nulis disertasi), saya iseng baca ff yang saya tulis di masa lalu, dan sekalian baca feedbacknya juga. It was 4 years ago I started writing such stuff, and I got piled up with bunch of comments, which surprised me (thank you, guys, you rock!). Sebelumnya saya nggak sempat baca baca (apalagi nulis) fanfic sejak 2014 karena pontang panting kesana kemari nggak jelas ngapain aja (lupa). Dan dengan berat hati saya putuskan bahwa dua fanfiction saya This Boy and My Nightmare dan The Lost Empire akan sepenuhnya hiatus, alias tidak lanjut.

Saya nggak tega liat komentar komentar yang masih berharap dua ff itu lanjut. Ada beberapa alasan mengapa saya drop TBMN; saya udah nggak bisa bikin comedy lagi, mungkin efek lama banget nggak nulis. Dan akhirnya gaya tulisan saya balik ke genre genre awal saya nulis dulu (kalau pernah baca The MOST, that’s my very first fanfic and that’s my original genre). Saya sendiri nggak habis pikir mengapa genre saya bisa banting setir ke comedy, yang bahkan ketika saya lama banget nggak baca, saya ngakak pas baca tulisan saya sendiri. Ternyata dulu saya gila, parah. Di Edinburgh, saya dijejali buku berat dan diwajibkan nulis serius tiap hari jadi saya takut kepala saya kehilangan jati diri kalau semisal saya paksa nerusin TBMN. Untuk TLE alasan ngedropnya sebenarnya agak ambigu juga: saya lupa sama plotnya, dan pas saya baca lagi saya tetep lupa sama plot awalnya gimana dan harus gimana setelah part lima itu, jadi saya memohon maaf kepada para pembaca atas ketidaksopanan ini.

Belakangan karena stres sama tugas kuliah (uwowow kuliahnya bikin kepala bolong sumpah) saya nulis fiksi lagi, dan settingnya lompat ke Jepang. Alasannya sih simple, karena saya lagi suka banget baca manga dan barusan saya mampir Jepang bulan April kemarin. Jadilah tulisan saya belok ke Jepang, dengan tokoh tokoh Jepang dan genre romance yang agak fluffy. Somehow, it will and may never be that hilarious anymore. Bagi kalian yang kurang kerjaan (atau mungkin kangen sama tulisan saya), bisa dibaca di dua postingan terbaru saya The Light Rains on June. Dan bagaimana dengan Kyu-Kara? Saya bisa bilang kalau masih sangat mungkin saya ngelanjutin cerita mereka, karena bagi saya Kyuhyun dan Kara adalah bagian yang tak terpisahkan dari kepala saya, jadi kemungkinan besar pas saya dapet ide bakalan langsung saya tulis dan share (kan, nggak konsisten, padahal Kyu-Kara sekeluarga lebih comedy dari TBMN). Jadi intinya Kyuhyun di HOG itu beneran berasa kayak suami saya sendiri (maafkan), jadi ide nulis itu masih sering kelayapan di kepala. They will be forever alive here.

Terakhir, terimakasih karena telah membaca semua fanfic saya yang selalu menyalahi kaidah bahasa, penuh typo, dan selalu nggak konsisten. Kalianlah saksi bagaimana tulisan tulisan saya bertransformasi dari masa jahiliyah menuju masa masa akademis (apalah). Semoga suatu hari nanti saya bisa publish buku dan kalian semua mau beli, haha.

Posted in Serial

The Light Rains on June (2)

03_F4DF4A93
Tak banyak yang kuingat tentang Ren di Hokkaido. Dia telah tinggal di Tokyo lebih dari lima tahun sejauh yang bisa kuingat. Mengingat itu aku jadi sedikit lega karena aku tak perlu melihat bayangannya di rumah kedua orangtuaku. Ren bukanlah kakak yang manis. Dia takkan datang sekalipun misalnya aku menangis karena dikeroyok bocah bocah begundal dari SD-ku. Ren juga bukan lelaki yang banyak bicara. Aku ingat benar bagaimana dia bisa bersahabat karib dengan tiga temannya sekarang dan bagaimana Ren sangat menyayangi ketiganya. Sejauh yang kuingat, aku memang tak pernah terlalu dekat dengan Ren.

Satu-satunya yang terasa pekat dan tajam adalah ingatanku tentang ayah dan ibu. Meski keduanya pendiam, nyaris di tiap sudut rumah, aku melihat bayangannya. Kehilangan mereka bertiga sekaligus adalah hal yang tak pernah kubayangkan, bahkan dalam mimpi terburukku. Saat itu terjadi, seakan separuh kepalaku melayang, dan aku tak bisa berhenti menangis.

*

Haru, Kai, dan Ryuu ikut menginap di Hokkaido selama upacara pemakaman berlangsung. Satu-satunya kerabat ayahku kini tinggal di Edinburgh, dan baru akan datang dua hari lagi, sementara ibuku adalah anak tunggal yang telah kehilangan kedua orangtuanya semenjak SMA. Kai dan Haru memutuskan kembali ke Tokyo sehari kemudian, namun Ryuu masih tinggal di kamar Ren hingga hari ketiga. Ia terlihat sangat depresi, dengan kantung mata tebal dan mata lebam di pagi hari. Di antara mereka bertiga, memang Ryuu-lah yang paling dekat dengan Ren. Aku bisa melihat betapa mereka bahkan lebih mesra dari orang pacaran. Continue reading “The Light Rains on June (2)”

Posted in Serial

The Light Rains on June (1)

03_F4DF4A93
My brother, Kaidou Ren, is an idiot. And his three friends are what you called a bunch of morons.

Lahir lima tahun lebih muda dari Ren, aku adalah saksi hidup betapa hidup ini penuh ironi karena empat pemuda yang entah mengapa selalu bergerombol itu menyia nyiakan masa muda mereka dengan hidup tak produktif secara berjamaah. Sebagai satu satunya adik Ren, aku terjebak di antara mereka berempat sejak pindah ke Tokyo setahun yang lalu. Aku dan Ren lahir dan besar di Hokkaido. Saat Ren memasuki usia SMA, dia pindah ke Tokyo. Lima tahun kemudian, saat aku masuk SMA, ayah dan ibuku memaksaku tinggal satu flat dengan Ren untuk menekan biaya sewa kamar, yang ternyata, di luar dugaanku, tinggal bertetangga dengan tiga teman begundalnya, Haru, Kai, dan Ryuu.

Nagasawa Haru adalah lelaki pertama yang dekat dengan Ren. Mereka berdua dekat sejak SMP, dan dia adalah laki laki paling aneh di antara mereka berempat. Meskipun berwajah lumayan, Haru paling malas mandi. Dia juga sangat suka makan, dan memakan apapun yang bisa dia telan saat dia lapar. Dan dia selalu lapar. Haru hanya memilih pacar yang jago masak, lebih kurang karena dia sangat suka memamah biak. Haru lahir sebagai sulung dari lima bersaudara, dan itu membuatnya selalu kelihatan lapar dan kurang gizi. Meski tinggi menjulang, badannya sangat tipis dan putih pucat. Walaupun Haru kelihatan selalu mengantuk dan mengerjakan semua hal serampangan, dia adalah kakak yang sangat penyayang. Haru telah bekerja part time sejak dia masih SMA.

Sakai Kikuchi adalah lelaki kedua yang dekat dengan Ren, lima hari setelah Ren dan Haru berteman akrab. Kai –begitu aku biasa memanggilnya- terlihat lebih akademis, dengan kacamata tebal, jam tangan besar di tangan kirinya, dan kemeja lengan panjang yang selalu ia tekuk setengah. Dia adalah gamer, otaku, dan penyuka drama Korea. Meski semua hal yang ia sukai kontradiktif, Kai adalah seorang introvert sejati. Dia hanya mau bicara dengan tiga teman se gengnya dan selalu kelihatan seperti tersedak lintah saat harus berkomunikasi dengan orang orang baru. Ia akan jadi seperti malaikat saat seseorang sudah mengenalnya dengan baik. Di antara tiga begundal itu, Kai-lah teman Ren yang paling manis dan baik padaku. Kai lahir dari keluarga yang cukup kaya, dan dia hanya punya seorang kakak perempuan. Kai sangat dekat denganku, karena kami punya hobi yang sama: membaca manga dan seharian memantengi drama Korea.

Continue reading “The Light Rains on June (1)”

Posted in Cuap-Cuap

Sometimes, You Just Need to Do It

Saya adalah satu dari sekian juta orang yang perfeksionis. Herannya, saya benar-benar pemalas, dan penyakit ini makin hari makin menjadi. Saya enggan diskusi jika tak mampu menguasai setidaknya 80% materi, namun saya selalu kehabisan waktu karena keasyikan nonton Drama, keasyikan facebook dan banyak sosial media lainnya. Maka, saya pun mempertanyakan pilihan saya; menjadi perfeksionis atau menjadi malas, dan jawabannya: Just do it, Fida. Bukan jadi perfeksionis, dan bukan pula jadi pemalas, untuk pertama kalinya dalam hidup saya memutuskan untuk “menjadi biasa saja”, mengambil jalan tengah.

CIMG5099

Saya menyerah. Saya hanya akan melakukan sebaik yang saya bisa tanpa harus sempurna, karena sempurna itu berat, dan sering membuat saya sakit hati atau kecewa. Maka saya putuskan untuk melakukannya sebisa saya. Saya tidak perlu jadi yang terbaik, tak perlu jadi yang pertama, saya hanya akan jadi mereka yang mengerjakan sebisanya.

Mengapa saya memutuskan untuk melakukan sebisanya saja dan tidak jadi saya yang dulu, “yang harus serba luar biasa dan sempurna”? Karena bisa menikmati pekerjaan dan waktu itu sesuatu yang mahal. Dengan melakukan sebisanya, saya akan menikmati apa yang saya lakukan, dan tentu saja menghabiskan waktu dengan bahagia. Akankah saya menyesal? Mungkin, tapi kebahagiaan saya detik ini, menit ini, dan hari ini, saya yakin sebanding dengan harga yang harus saya bayar di masa depan.

Saat ini, dengan tumpukan buku, dan waktu saya yang terbatas, saya merasa cukup bahagia berhasil keluar dari kandang “perfeksinisme” saya di masa lalu. Saya lebih takut stres dan sedih, dibanding dapat nilai jelek. Mungkin ini yang disebut dewasa; tidak lagi bernafsu jadi nomer satu.

Posted in Cuap-Cuap

Random Stupid Things I’ve Done So Far

Jika manusia dibagi menjadi beberapa kategori, mungkin saya akan masuk dalam beberapa kategori yang berlawanan sekaligus. Saya suka debat, namun alur pikiran nggak logis dan nggak berarah. Saya pemarah namun jadi sangat sabar saat saya merasa sendiri dan kesepian. Saya cukup banyak membaca dan tahu beberapa hal dengan mendalam, namun sangat bodoh dalam hal hal yang common sense, alias hal hal yang seharusnya semura orang tahu. Inilah yang terjadi beberapa hari di Edinburgh:

  1. Sistem oh sistem!

Sebagai orang yang gaptek, ini adalah cobaan hidup yang cukup berat. Dua hari pertama di Edinburgh, saya tidak bisa mengakses Wi-Fi kampus ataupun akomodasi karena ketinggalan info E-Induction di email, akibatnya saya terdeteksi sebagai “Guest”, dan begitulah, saya kini belajar dengan hati-hati untuk selalu rajin buka email. Saya berurusan dengan system, bukan manusia, yang tentunya susah diajak kompromi.

  1. Pronunciation!

Something is wrong with the way I pronounce some words and people keep saying “excuse me, what do you mean by that?” Sudah bukan perkara aneh lagi kalo “pronunciation” saya agak bermasalah, sepertinya saya akan bekerja sangat keras utuk urusan satu ini. Point tambahan: listening skill. So I mistakenly heard, beneran salah denger pas lagi belanja sama teman teman: dia nyari cutting board (talenan), lalu saya -dengan semangat menolong teman setanah air- bawain cotton bud (nggak usah ditanya gimana malunya).

CIMG5123 CIMG5124 CIMG5125

  1. I need to learn the basics (the map, I mean)

Saya kurang menaruh perhatian pada pelajaran Geografi dan teman-temannya. Hasilnya: saya kurang mengenal negara negara berikut benua-benuanya. The worst part happened yesterday, saat saya bilang ke teman saya yang asli Mexico: Sebagai orang Eropa pasti kamu nggak ada masalah dengan bahasa Inggris, dan ternyata Mexico adalah bagian dari Amerika Utara, dan saat saya bilang pada teman saya yang Taiwan, bahwa Taiwan adalah ibukota Hong Kong.

  1. Belajar masak

Sungguh saya sangat menderita karena nggak punya skill memasak. Sekalinya bikin dadar jagung, rasanya entah kenapa seperti makan Masako dikasih tepung. Dan sekalinya bikin nasi goreng, rasanya seperti nasi bakar (maksud saya nasi gosong). Beberapa benda dapur pun jadi korban: sendok plastik bengkok, panci mengelupas, tupperware berubah bentuk dan beragam wadah yang tidak berfungsi semestinya karena salah perlakuan.

Bismillah, I will definitely survive!

Posted in Cuap-Cuap

Random Things About Flowers

Pertama datang ke kota ini, saya sudah punya niatan; saya akan nulis novel. Sehari kemudian apa yang baru saja saya niatkan itu mendadak menguap entah kemana. Saya selalu berkhayal menjadi tokoh novel yang hidup di kota tua nan magis seperti Edinburgh, namun sepertinya menulis novel bakalan terlalu berat buat saya. Pertama: menyita waktu sementara saya banyak tugas. Kedua; harus imaginatif, sementara saya banyak tugas. Iya, masalahnya emang cuma tugas. Saya bakalan kuliah Master setahun; semua tugas mulia itu bakalan dimampatkan dalam setahun, dan thesis saya akan dikerjakan dalam 3 bulan. Membayangkannya saja saya udah pengen masuk rice cooker.

Namun niat membuat novel itu saya yakin akan masih suka muncul. Apalagi saat jalan-jalan di sekitar kota, dan menemukan beragam warna warni bunga yang seolah menyapa saya dan minta dijadikan setting novel. Oke, it’s stupid, but let me tell you why I said this stupid line:

20150919_161216(1) 20150919_161200(1) 20150918_103351 20150918_103157 20150915_115000 20150915_114632 20150915_104038 CIMG4901(1) CIMG4900 CIMG4894

See, those flowers are magical!

Tentu saya tidak akan membuat cerita perdongengan dengan peri bunga, nenek sihir, dan bunga bangkai atau sejenisnya: dan tentu saja saya masih tetap setia dengan cerita pangeran-pangeran ganteng yang kesasar di kota tua, atau entah mungkin seperti itu; yang jelas sebuah cerita yang saat saya menulisnya akan bikin gendut ceria, dan saat kalian membacanya bakalan bikin tersenyum, terhibur, dan bersyukur pernah mengenal saya. Hahaha.