Kronologi “Levi”

I’m falling in love with a person I created.

Dulu, saat saya masih SMA, saya sudah hobi menulis. Saya ingat betul bagaimana saya sangat terobsesi dengan Dewi Lestari, dan JK Rowling. Belakangan saya juga terobsesi dengan buku buku Andrea Hirata, such a common taste, huh? Selera sastra saya memang sangat mainstream.

Saat itu, mungkin tiga tahun yang lalu, saya menciptakan sebuah karakter; Levi. Saya melabelinya dengan nama yang sangat Spanyol, yang kalau saya ingat sekarang, malah bikin geli dan suka bikin ketawa sendiri; Alessandro Aleffio Gospel. Bagian Alessandro mengingatkan saya dengan telenovela jaman prasejarah, Aleffio mengingatkan saya pada Aliando (yang sangat alay), dan Gospel mengingatkan saya pada nama Gereja. Entahlah bagaimana saya bisa melabeli “lelaki” favorit saya dengan nama seaneh itu.

CIMG5065

Tapi saya menyukainya. Saya jatuh hati dengan karakternya yang tak berarah, temperamental, dingin, dan kekanakan. Saya jatuh hati dan bahkan cemburu dengan Reina, tokoh perempuan yang saya ciptakan. Seiring dengan waktu, saya kemudian sedikit mencampakkan Levi, Reina, dan seluruh plot yang saya tulis saat itu. Saya menemukan hobi yang lebih menyengankan: travelling. Dan saya kehilangan minat menulis.

Tiga tahun berlalu, hingga kemudian setelah cerita yang sangat panjang, saya terdampar di Edinburgh; kota tua yang manis dan sangat romantis. Dan tahukah kamu, Levi hidup kembali! Saya bisa melihatnya berjalan mengelilingi Edinburgh, dengan syal coklat tua dan rambut hitam pekat. Saya melihatnya termangu menatap langit, menikmati angin di Arthur’s seat, dan mendecak kesal saat hujan gerimis mengguyur Edinburgh. Mungkin Levi akan lahir kembali. Dan mungkin dia akan menemukan Reina di sudut-sudut Edinburgh.

Sometimes, You Just Need to Do It

Saya adalah satu dari sekian juta orang yang perfeksionis. Herannya, saya benar-benar pemalas, dan penyakit ini makin hari makin menjadi. Saya enggan diskusi jika tak mampu menguasai setidaknya 80% materi, namun saya selalu kehabisan waktu karena keasyikan nonton Drama, keasyikan facebook dan banyak sosial media lainnya. Maka, saya pun mempertanyakan pilihan saya; menjadi perfeksionis atau menjadi malas, dan jawabannya: Just do it, Fida. Bukan jadi perfeksionis, dan bukan pula jadi pemalas, untuk pertama kalinya dalam hidup saya memutuskan untuk “menjadi biasa saja”, mengambil jalan tengah.

CIMG5099

Saya menyerah. Saya hanya akan melakukan sebaik yang saya bisa tanpa harus sempurna, karena sempurna itu berat, dan sering membuat saya sakit hati atau kecewa. Maka saya putuskan untuk melakukannya sebisa saya. Saya tidak perlu jadi yang terbaik, tak perlu jadi yang pertama, saya hanya akan jadi mereka yang mengerjakan sebisanya.

Mengapa saya memutuskan untuk melakukan sebisanya saja dan tidak jadi saya yang dulu, “yang harus serba luar biasa dan sempurna”? Karena bisa menikmati pekerjaan dan waktu itu sesuatu yang mahal. Dengan melakukan sebisanya, saya akan menikmati apa yang saya lakukan, dan tentu saja menghabiskan waktu dengan bahagia. Akankah saya menyesal? Mungkin, tapi kebahagiaan saya detik ini, menit ini, dan hari ini, saya yakin sebanding dengan harga yang harus saya bayar di masa depan.

Saat ini, dengan tumpukan buku, dan waktu saya yang terbatas, saya merasa cukup bahagia berhasil keluar dari kandang “perfeksinisme” saya di masa lalu. Saya lebih takut stres dan sedih, dibanding dapat nilai jelek. Mungkin ini yang disebut dewasa; tidak lagi bernafsu jadi nomer satu.

Random Stupid Things I’ve Done So Far

Jika manusia dibagi menjadi beberapa kategori, mungkin saya akan masuk dalam beberapa kategori yang berlawanan sekaligus. Saya suka debat, namun alur pikiran nggak logis dan nggak berarah. Saya pemarah namun jadi sangat sabar saat saya merasa sendiri dan kesepian. Saya cukup banyak membaca dan tahu beberapa hal dengan mendalam, namun sangat bodoh dalam hal hal yang common sense, alias hal hal yang seharusnya semura orang tahu. Inilah yang terjadi beberapa hari di Edinburgh:

  1. Sistem oh sistem!

Sebagai orang yang gaptek, ini adalah cobaan hidup yang cukup berat. Dua hari pertama di Edinburgh, saya tidak bisa mengakses Wi-Fi kampus ataupun akomodasi karena ketinggalan info E-Induction di email, akibatnya saya terdeteksi sebagai “Guest”, dan begitulah, saya kini belajar dengan hati-hati untuk selalu rajin buka email. Saya berurusan dengan system, bukan manusia, yang tentunya susah diajak kompromi.

  1. Pronunciation!

Something is wrong with the way I pronounce some words and people keep saying “excuse me, what do you mean by that?” Sudah bukan perkara aneh lagi kalo “pronunciation” saya agak bermasalah, sepertinya saya akan bekerja sangat keras utuk urusan satu ini. Point tambahan: listening skill. So I mistakenly heard, beneran salah denger pas lagi belanja sama teman teman: dia nyari cutting board (talenan), lalu saya -dengan semangat menolong teman setanah air- bawain cotton bud (nggak usah ditanya gimana malunya).

CIMG5123 CIMG5124 CIMG5125

  1. I need to learn the basics (the map, I mean)

Saya kurang menaruh perhatian pada pelajaran Geografi dan teman-temannya. Hasilnya: saya kurang mengenal negara negara berikut benua-benuanya. The worst part happened yesterday, saat saya bilang ke teman saya yang asli Mexico: Sebagai orang Eropa pasti kamu nggak ada masalah dengan bahasa Inggris, dan ternyata Mexico adalah bagian dari Amerika Utara, dan saat saya bilang pada teman saya yang Taiwan, bahwa Taiwan adalah ibukota Hong Kong.

  1. Belajar masak

Sungguh saya sangat menderita karena nggak punya skill memasak. Sekalinya bikin dadar jagung, rasanya entah kenapa seperti makan Masako dikasih tepung. Dan sekalinya bikin nasi goreng, rasanya seperti nasi bakar (maksud saya nasi gosong). Beberapa benda dapur pun jadi korban: sendok plastik bengkok, panci mengelupas, tupperware berubah bentuk dan beragam wadah yang tidak berfungsi semestinya karena salah perlakuan.

Bismillah, I will definitely survive!

Random Things About Flowers

Pertama datang ke kota ini, saya sudah punya niatan; saya akan nulis novel. Sehari kemudian apa yang baru saja saya niatkan itu mendadak menguap entah kemana. Saya selalu berkhayal menjadi tokoh novel yang hidup di kota tua nan magis seperti Edinburgh, namun sepertinya menulis novel bakalan terlalu berat buat saya. Pertama: menyita waktu sementara saya banyak tugas. Kedua; harus imaginatif, sementara saya banyak tugas. Iya, masalahnya emang cuma tugas. Saya bakalan kuliah Master setahun; semua tugas mulia itu bakalan dimampatkan dalam setahun, dan thesis saya akan dikerjakan dalam 3 bulan. Membayangkannya saja saya udah pengen masuk rice cooker.

Namun niat membuat novel itu saya yakin akan masih suka muncul. Apalagi saat jalan-jalan di sekitar kota, dan menemukan beragam warna warni bunga yang seolah menyapa saya dan minta dijadikan setting novel. Oke, it’s stupid, but let me tell you why I said this stupid line:

20150919_161216(1) 20150919_161200(1) 20150918_103351 20150918_103157 20150915_115000 20150915_114632 20150915_104038 CIMG4901(1) CIMG4900 CIMG4894

See, those flowers are magical!

Tentu saya tidak akan membuat cerita perdongengan dengan peri bunga, nenek sihir, dan bunga bangkai atau sejenisnya: dan tentu saja saya masih tetap setia dengan cerita pangeran-pangeran ganteng yang kesasar di kota tua, atau entah mungkin seperti itu; yang jelas sebuah cerita yang saat saya menulisnya akan bikin gendut ceria, dan saat kalian membacanya bakalan bikin tersenyum, terhibur, dan bersyukur pernah mengenal saya. Hahaha.

Edinburgh!

Let me tell you something: they said Edinburgh is beautiful. Completely wrong: Edinburgh is soooo beautiful! It was my first impression when I first landed and literally walking around the city, from the airport, across the city, and reached my “home”, Richmond Place. It is a quiet place, surrounded by brownish building, with cute garden and apartment, and a church, an old one.

20150918_153742 CIMG4861 CIMG4835 CIMG4830

Edinburgh is not too small, or too big: just as they said. It is so appealing that I dropped my jaw the first time I did my shopping. I was only walking around the city centre, but I never expected to meet such beautiful streets, and medieval buildings are almost everywhere. Surprisingly, Edinburgh has everything people would love to see: valley, parks, castles, and sea!

So I did my tour and found out that each corner of this city is quite magical. Though it’s surrounded by old buildings, it’s so cute and beautiful at the same time. The other thing that I envy the most: each tourism sites are within reach. You can pop in for shopping, and be surprised by the old castle appearing before your eyes, or seeing the sea, within your sight while you were in the centre of the city. Even its shopping mall has medieval touch!20150918_153736 20150915_103049 20150915_102316

The thing I still find it hard to deal with is the weather. It’s cold, no, it’s freezing. It’s windy and wet, but sometimes sunny. I came here during the summer, and it was 8 to 5 Celsius every day. I wore thick jackets, and dress by layers. I hid my hands inside my pockets a whole day. Another thing which is quite frustrating; Edinburgh is expensive! I lived in a standard building for students and need to pay 500pounds each month which is equal to 10 million rupiah! The prices of everything are quite depressing; I need to pay 5pounds for a set of meal (without drink) which is equal to one hundred thousand rupiah. So I decided to cook my own meals. I cooked everything with my very own basic skill: and it’s painful. I don’t think I can eat something decent during these times. But it’s okay.

It is a small price, compared to where I’m living now; and for what I am going to get in the future. Here I am: trying to adjust my self, cure my heart (this is so bad: homesick level 90%), and begin to study. Now that I get a scholarship from Indonesia fund, I’m responsible for being a good student, and do something BIG and USEFUL for my country in the next 12 months.

Bismillahirrohmanirrohim.

(I know that His plans are always better than my dreams)

Tentang Blog dan Jati Diri Abu-abu

20150425_105324To be precise, I never find my self, and I find my self struggling to find what is inside me, what matters a lot for me. Termasuk perkara Blog ini. sudah tiga kali saya bikin Blog dan ini adalah Blog dengan traffic paling heboh (pernah mencapai 1000 klik sehari). Pastilah para pembacatahu mengapa Blog ini laris manis, apalagi kalau bukan karena artis-artis Korea yang nongol sebagai aktor utama di Blog saya.

Dan dari sinilah cerita saya bermula. Saya merasa seringkali sangat abu-abu. Saya adalah anak pesantren, dan mondok selama 4 tahun. Selepasnya, entah bagaimana bisa saya banting setir menjadi penulis genre fiksi yang paling abal-abal dari semua jenis fiksi; fanfiction artis Korea. Lebih kaget lagi karena saya juga seorang reporter aktif di kampus. Saya tak ikut-ikutan teman-teman Pesantren saya yang aktif di PMII, dan malah asyik sendiri jadi reporter, dan penyuka “mbolang”. Saya mengunjungi banyak tempat di sekitar Malang, kota tempat saya kuliah. Saya bahkan nekat melancong ke Malaysia dan Singapura dengan tiket promo.

20150519_071921

Saya sering kehilangan diri saya di tengah penemuan diri saya yang lain. Jujur saya kadang merasa tak nyaman, karena kadang ada yang aneh saat saya nostalgia dan menemukan betapa tak berarahnya hidup saya. Maka saat lulus kuliah, saya pun kerja dengan dedikasi yang Cuma sepersekian persen. Saya adalah tipe orang yang tidak kuat menjalani rutinitas yang menyita waktu namun monoton setiap hari.

Pekerjaan pertama yang saya ambil adalah menjadi guru di sebuah sekolah mahal, SMA Sabilillah. Setelah menjalani uji rangkap tiga, saya lolos menjadi guru. Baru saja menjalani seleksi dan masuk seminggu, saya memutuskan keluar sebelum dikontrak oleh sekolah lantaran larangan kuliah lagi, larangan menikah dalam setahun, dan larangan PNS seumur hidup.

Bukan soal uangnya, bukan pula soal PNS, namun sungguh saya tak tega mendedikasikan diri saya untuk sebuah sekolah berikut murid-muridnya yang kaya raya, sementara di luar sana, ada banyak sekali siswa yang lebih membutuhkan saya. Apalagi dalam jangka bertahun-tahun. Kedua, larangan kuliah lagi. Duh, meski saya benci tugas yang emnggunung, toh saya masih lebih menyukai tumpukan tugas itu daripada bekerja.

Lepas dari sekolah , saya kebetulan mendapat tawaran menjadi Content Writer di Netwerk, sebuah perusahaan web branding di Malang. akibat takut berstatus pengangguran, dan telah berkali-kali disindir ibu saya karena melepas profesi guru, akhirnya saya pun bekerja di Netwerk, lagi-lagi dengan kurang dedikasi. Saat itu, saya juga mendapat panggilan dari EF Surabaya. Berhubung saya benci setengah mati dengan kota bersuhu panas, saya pun emmilih tetap di Malang.

20150314_103726

Beruntung Netwerk memiliki banyak pegawai yang asyik. Saya bertemu dengan para programmer dan penulis, which is quite awesome. Saya sangat krasan di tempat ini meskipun harus menulis 12 artikel sehari hingga migrain beberapa kali. Pulang kerja, energy saya seolah disedot Voldemort. Saya kehilangan banyak waktu berharga saya, dan saya juga tak lagi punya kesempatan untuk mengembangkan diri. Maka dua bulan kemudian saya keluar dari Netwerk. Ini bukan panggilan hati saya. Mengajar jauh lebih asyik dari pada menulis maraton seperti ini.

Saya memutuskan untuk lebih selektif lagi memiih pekerjaan. Pilihan saya jatuh pada Royal English. Saya menjadi instruktur TOEFL dan TOEIC yang digaji perjam. Lepas mengajar saya bebas pulang, yang artinya saya punya banyak sekali waktu nganggur. Inilah yang saya nanti-nanti, saya ingin mengajar di sekolah alam!

Selain bergantung pada gaji di Royal English, saya juga menjadi penulis artikel di U Creator, web milik teman dekat saya. Ini adalah saat terbaik dalam pencarian kerja saya. Ada pembedaan yang saya tekankan dengan serius antara cari uang, mengabdi, dan menyenangkan diri. Saya pun masih memiliki waktu nganggur dan tetap banyak uang.

Di Kepanjen, tempat saya mengajar volunteer, saya menemukan lagi panggilan hati untuk mengajar dan belajar lagi. Keinginan saya untuk mengikuti Indonesia Mengajar yang pupus lantaran terhalan ijin orangtua, tumbuh dengan subur. Karena ijin mentok, saya pun memutuskan balik kanan; I’ll do something which is as good; mendaftar beasiswa LPDP.

Dan disinilah saya, di bulan September yang panas menyengat menyayat di kota kecil Jombang, tengah mengetik sambil tiduran, menunggu tanggal 11. Itu adalah tanggal keberangkatan saya ke Edinburgh, UK. Indeed my wish is granted. Perhaps you feel me, getting lost in the middle of nowhere. Just move. You’ll get something much more better.

Asyiknya Sekolah Di Sawah!

11066536_1424924194482178_2935498153355337796_nPertama kali saya datang di MI Al-Ikhlas Kepanjen, saya cukup kaget dengan banyak hal. Pertama, siswanya. Jarang sekali saya melihat siswa SD yang terlihat begitu antusiasnya sekolah seperti yang saya lihat di sekolah ini. Anak-anak berebutan bersalaman dengan guru, dan sebaliknya guru juga terlihat bersemangat menyambut kedatangan para siswa. “Mereka selalu protes kalau sekolahnya libur panjang, “ ungkap salah satu guru menambahi keterkejutan saya.

Baca lebih lanjut