The Light Rains on June (3)

03_F4DF4A93Seusai permintaannya yang aneh itu, Ryuu kabur ke kamar Ren, tempat ia tidur dari dua hari yang lalu. Aku belum sempat melemparnya ataupun memakinya karena keputusan bodohnya untuk membeli mobil dan apartemen dengan uang Ren. Mungkin dia tahu benar bahwa aku akan murka dan memutuskan lari ke kamarnya daripada menghadapiku sendirian. Aku berencana menggedor pintu kamarnya saat kurasakan ponselku bergetar. Nama Ryuu terpampang di layar.

“Shiba, kumohon jangan marah. Aku mencintaimu.”

Aku melongo membaca pesannya.

“Maksudku aku mencintaimu seperti anakku sendiri.”

Dan lebih melongo lagi saat membaca pesan keduanya.

Aku benar-benar tak habis pikir darimana Ryuu mendapat ide mengadopsi anak orang, yang merupakan adik temannya sendiri, dan bahkan calon anak adopsinya ini kini hampir lulus SMA. Dan lagi, darimana si bodoh itu mendapat kata-kata mencengangkan seperti ‘aku mencintaimu seperti anakku sendiri’. Apa dia tidak sadar bahwa dia belum punya anak? Apa dia lupa bahwa dia belum menikah?

Kali ini aku menggedor pintu kamarnya beberapa kali. Setelah gedoran keempat ia membuka pintu kamarnya dengan enggan. Aku menatapnya sambil berkacak pinggang.

“Hei, coba katakan padaku dengan jujur, kau pernah punya anak?”

Matanya melotot lebar.

“Kau pernah lihat aku punya pacar?” jawabnya tak terima. Ryuu memang tak terlalu dekat dengan wanita. Dimanapun aku melihatnya, dia selalu bersama Ren, atau berempat bersama Haru dan Kai.

“Dan kenapa kau berkali-kali bilang menyayangiku seperti anakmu sendiri, hah?” balasku sengit.

Dia diam dan menatapku sekilas sebelum kemudian kembali menatap daun pintu kamarnya, masih terlihat bingung. Melihat seorang Ryuu kikuk sampai kehabisan kata-kata seperti ini adalah moment yang langka, karena biasanya dia tak pernah berhenti menimpaliku.

“Shiba, aku berjanji aku akan terus bersamamu sampai kau dewasa, dan aku berjanji akan jadi ayah yang baik untukmu,” lanjutnya dengan wajah serius, meskipun ia terlihat menghindari pertanyaanku barusan.

“Apa alasannya aku harus menjadi anakmu?”

Ryuu mendesah panjang. Kedua tangannya mengulur dan entah mengapa, mendadak memelukku.

“Agar aku punya alasan bisa tinggal bersamamu sampai kau besar nanti.”

Aku mendorong tubuh Ryuu mundur, dan mengamati wajahnya, memastikan bahwa laki-laki di depanku ini sedang serius. Ia melarikan pandangannya ke jendela dan jari tangannyamenggaruk rambut seperti laki-laki yang ketahuan selingkuh. Saat itulah aku mendengar seseorang berteriak dari ruang tamu.

“Shiba! Buka pintunya!”

*

Bibi Kyoko datang malam itu dengan koper besar dan beberapa tas tenteng. Setelah berkunjung ke makam ayah, ibu, dan Ren, ia menemaniku duduk di ruang tamu. Matanya masih sembab dan dia tak banyak bicara. Ia bahkan tak bertanya tentang Ryuu yang sejak semalam menginap di kamar Ren, dan saat ini duduk di depannya. Bibi Kyoko telah lama bercerai dengan paman, dan memutuskan tinggal di Edinburgh bersama Keiichi, anak laki-lakinya yang kurang lebih seumuran denganku. Bibi Kyoko adalah satu-satunya kerabat ayahku yang masih bisa dihubungi.

“Shiba, kau mau pindah ke Edinburgh?” tanyanya sambil memegangi tanganku.

Aku menggeleng pelan. Aku tak banyak mengerti tentang kota yang saat ini ditinggali bibi Kyoko. Ayah pernah bilang bahwa Edinburgh adalah kota yang indah, meskipun kemudian dia bilang bahwa Edinburgh adalah kota yang mahal. Meski tinggal disana mungkin akan menyenangkan, aku tak sanggup membayangkan berapa banyak hal yang harus kupelajari lagi untuk bisa lulus SMA disana.

“Aku akan tetap tinggal di Tokyo. Aku tidak tahu banyak tentang bahasa Inggris,” lanjutku lagi.

“Sendirian?” bibi Kyoko kelihatan keberatan.

“Aku akan tinggal dengan ayah angkatku,” kataku sambil meringis. Ryuu yang sedari tadi duduk diam, melirikku curiga.

“Ayah angkat? Siapa?”

Ryuu mendadak berdiri dan mengangsurkan tangannya. Wajahnya terlihat kikuk dan ia bicara dengan volume yang lebih pelan dari biasanya, “Onodera Ryuu, ayah angkat Shiba.”

Bibi Kyoko menatap Ryuu tak percaya. Ia bahkan lupa menjabat balik tangan Ryuu. Dari tatapannya, aku tahu bahwa bibi Kyoko pasti tengah menganalisa laki-laki aneh di depannya itu. Dengan wajahnya yang masih kelihatan mahasiswa, pasti sulit bagi bibi Kyoko untuk percaya bahwa Ryuu-lah yang akan jadi ayah angkatku.

“Ini pacarmu, Shiba?”

Kali ini bibi Kyoko malah balik menanyaiku.

“Bukan, Bibi. Dia ayah angkatku.”

*

Tak banyak yang terjadi setelah perkenalan Ryuu dengan bibi Kyoko, karena aku dan Ryuu harus segera kembali ke Tokyo. Semakin lama berada di Hokkaido, aku hanya merasa semakin sendiri. Untungnya bibi Kyoko tak banyak berkomentar tentang Ryuu dan bagaimana dia bisa mendadak menjadi ayah angkatku, namun aku sempat melihat Ryuu dan bibi Kyoko berbicara empat mata semalam. Aku sedikit penasaran dengan apa yang mereka bicarakan semalam, tapi entah mengapa aku hanya malas bertanya dan Ryuu pun kelihatan sedang tak ingin bicara banyak. Sebelum berangkat ke Tokyo, bibi Kyoko memelukku erat dan masih kembali menanyai rencanaku pindah ke Edinburgh. Aku menjawab singkat bahwa mungkin aku bisa saja pindah kesana saat kuliah, namun untuk setahunan ini, aku hanya akan fokus menyelesaikan sekolahku di Tokyo. Aku mengakhiri percakapanku dengan memeluk bibi Kyoko dan berjalan berdua sambil menenteng ransel bersama Ryuu, menuju ke stasiun kereta.

Pagi itu, kami memutuskan kembali ke Tokyo, tepat enam hari setelah pemakaman ketiga anggota keluargaku. Ryuu kelihatan lelah. Matanya redup, dan dia jadi sangat irit bicara. Kereta api yang kami naiki meninggalkan Hokkaido. Aku dan Ryuu hanya sibuk bermain ponsel sambil sesekali menatap keluar jendela kereta. Jepang di penghujung musim panas selalu terlihat lebih muram, mendung dan gerimis bahkan di pagi hari.

“Shiba,” Ryuu menyenggol lenganku.

“Hm?” jawabku malas.

” Aku akan segera mengurus surat adopsimu,” balas Ryuu dengan suara seperti orang yang tengah sakit tenggorokan. Mungkin efek karena kelelahan atau kurang tidur selama berada di Hokkaido.

“Lalu?” aku tak menangkap arah pembicaraannya.

“Apa kau sudah memutuskan akan memanggilku apa setelah ini?”

Baiklah, jadi laki-laki bodoh di sebelahku ini masih sangat antusias untuk membicarakan ide hebatnya tentang anak-ayah angkat? Dari jendela kereta, aku melihat pantulan wajahnya yang tengah menatapku.

“Apa namamu ganti?”

Ryuu memukul kepalaku dengan bantal leher.

“Mulai sekarang, aku adalah ayahmu. Jadi, kau bisa sedikit pura-pura sopan saat kita bersama, dan terutama saat kita berada di tempat publik,” jawabnya dengan wajah kaku. Aku menatapnya tak percaya. Oh Tuhan, jadi orang ini benar-benar serius?

“Bukannya malah aneh kalau aku harus menjadi anakmu di tempat umum? Mereka bisa bilang aku perempuan simpanan. Kau tidak sadar wajahmu masih kelihatan sangat ‘mahasiswa’ dan wajahku masih kelihatan sangat ‘SMA’?”

Ryuu berdehem sambil memegang tanganku. Aku meliriknya aneh.

“Baiklah, kau bisa tetap memanggilku Ryuu dan aku akan tetap memanggilmu Shiba. Tapi mulai sekarang, kau harus selalu cerita tentang masalahmu, karena aku ayahmu.”

Entah sampai kapan aku harus bergidik takut saat Ryuu bilang aku anaknya, dan entah sampai kapan si bodoh itu akan mengulang-ulang pernyataan bahwa dia ayahku, tapi aku tahu pasti -dan aku benar benar takut- bahwa dia memang serius.

“Kau akan menanggung SPP dan uang sakuku sampai aku kuliah, kan?”

Ryuu mendesah. “Sudah kuduga. Pasti hal pertama yang kau tanyakan adalah masalah uang.”

“Jangan lupa, kau memakai uang Ren untuk beli mobil, beli apartemen, dan meninggalkan adiknya yang masih muda dan tidak bersalah tidak punya uang tabungan untuk hidup sendiri,” balasku panjang. Ryuu mendesah lagi. Kali ini aku merasakan tangannya yang besar mengelus kepalaku.

“Aku akan memberimu uang saku sampai kau nanti bekerja dan mandiri, sampai kau menikah.”

Aku menurunkan tangan besarnya dari kepalaku dan menatapnya malas, “Kau sendiri kapan akan menikah?”

“Aku patah hati, Shiba. Sementara ini kau tak akan punya ibu,” Ryuu kembali dengan wajah menyebalkannya yang kelihatan sama sekali tak serius. Aku melihatnya meringis sekilas.

“Ryuu, aku punya satu pertanyaan lagi,” aku memegang lengannya dan memaksanya menatapku.

“Apa?”

“Kau tidak jatuh cinta pada Ren kan?”

“Kau mau mati, hah?”

*

5 thoughts on “The Light Rains on June (3)

  1. kak ini sebenernya gak tau komedinya dimana, tapi tiap baca bagian nya ryuu sama shiba ketawa muluu bener..
    percakapn mereka itu loh absurd bangettt wkwkwkw ryu nya niat banget jadi bapak angkatnya shiba 😂😂

  2. Entah gak tau kenapa . aku ngakak mulu baca dr part pertama .. Bahahhhahaha . si ryuu itu kok konyol bgt pemikirannya . dan shiba jd ngingetin kayak kara tingkahnya . sumpah sangat menghibuur . pgn buru2 baca kelanjutannya .
    Semangat ngelanjutin ceritanyaa ya fidaa

  3. Aku suka ini, tulisannya rapi dan lucunya dapet.. ngakak terus pas moment shiba ama ryuu 😂😂😂 Kara Kyuhyun versi Jepang 😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s