Imaji

Imaji

Awan menggelayut lebat di langit. Pekat. Sepertinya hujan akan segera turun. Tak berselang lama, angin bertiup ugal-ugalan dan langit mulai menumpahkan airnya. Sedikit demi sedikit, agak deras, dan akhirnya sangat deras. Air hujan kali ini sedikit kurang ajar. Selain berangin, butiran airnya juga kasar. Aku bisa merasakan wajah dan punggung tanganku yang perih saat gerombolan air itu menghempas. Belakangan, angin menjadi topik pembicaraan hangat di Malang Raya. Maklum, angin beberapa hari ini memang agak semena-mena. Hujan juga tidak kalah heboh. Seakan ikut menyemangati angin, bala airnya terjun dengan posisi miring. Membuat payungku tidak berguna, membuat wajahku terluka.

Aku yang baru saja selesai kuliah akhirnya nekat pulang. Aku benci menunggu hujan reda. Menunggu hal yang tidak pasti. Menunggu petang menjemput dan membuatku semakin takut pulang. Jarak gedung kuliah dan rumah kontrakanku memang tidak terlalu jauh,  namun tetap saja, aku suka takut pulang. Petang itu sama menakutkannya dengan film horor. Aura gelap yang datang dari langit membawa imajinasi imajinasi yang tidak perlu, seperti sore ini. Continue reading

Advertisements

Nothing but Love

Cerpen romantis saya yang gak jadi….hahahaha, met baca dheh..

Nothing but love
Sudah lama Astrid memperingatkanku untuk tidak berurusan dengan lelaki ini. Mengingat posisiku sebagai Redaktur Karya Ilmiah, akan sangat mungkin bagiku punya urusan dengan Bayu. Sejauh ini, aku tak dekat dengannya. Kami bertemu seminggu sekali saat Rapat Redaksi dan Ia terlihat normal. Aku jadi penasaran, bahaya apa yang ia tawarkan hingga Astrid begitu getol menyuruhku menghindarinya?
Astrid paling takut aku patah hati lagi. Continue reading

Delegasi Masa Lampau

Delegasi Masa Lampau
“Besok saja Kai,kau bisa mati kedinginan malam-malam begini di luar ……” Andika menepuk bahu Rakai yang masih bersikukuh meneruskan membersihkan bagian dalam arca dengan kuas. Rakai menggeleng sambil tersenyum.
“Kau duluan saja… hampir selesai… tinggal bagian ini” Rakai menunjukkan bagian tangan arca Roro Jonggrang yang hampir selesai ia bersihkan. “Keras kepala sekali bocah ini….Oke, aku duluan,” Andika akhirnya memutuskan berbalik arah menuju kontrakan mereka.
Rakai mengganti kuasnya yang sudah penuh debu dan tanah, menyemprotkan lagi cairan alkohol ke area tangan arca. Dadanya agak sesak. Malam ini memang dingin sekali. Angin pegunungan berhembus kencang sejak sore. Walau sudah memakai jaket rangkap, tetap saja angin menyergap pori-porinya. Continue reading

The Seventh

The Seventh
Legator pertama: Joan Kazao Voldavinne
Seorang laki-laki sedang duduk di bangku kayu. Ia terlihat masih sangat muda dan tidak sopan. Tangan kirinya memegang buku. Tangan kanannya sibuk menjejalkan roti ke dalam mulutnya. Seorang lelaki yang nampak jauh lebih tua berdiri di dekatnya.
“Kau tahu artinya Legator?” lelaki yang lebih muda bertanya pada lelaki tua disebelahnya.
“Itu sebutan bagi pangeran-pangeran abad pertengahan, Yang Mulia”
“Apa mereka hebat?” Continue reading

Bengkel Patah Hati

Bengkel Patah Hati
(Hari ini)
Digta menyeka keringatnya sambil memarkir sepedanya di depan warung. Dimas sedang duduk-duduk bersama Radit di depan warung. Kevin sepertinya sedang di dalam warung, karena motornya terparkir dan sosoknya tak kelihatan.
Warung mereka terlihat ramai hari ini. Rencananya, sore ini Digta akan mengganti dekorasi warung bagian depan. Plang warung yang bertengger di depan pagar sudah terlihat tua dan miring. ‘Bengkel Patah Hati’, begitu bunyinya. Warung Lesehan ini mereka dirikan lima bulan lalu dengan saham investasi penuh dari Dimas. Saat mereka SMA dulu, mereka sering bermimpi memiliki warung yang pas untuk kumpul bareng, dan hari ini mimpi itu sudah kokoh berdiri di depan matanya.
Bengkel patah hati milik mereka jelas bukan warung lesehan biasa. Mereka yang bukan laki-laki dan tidak patah hati dilarang masuk kawasan ini. Di pintu masuk warung, bertengger tulisan angkuh ‘Cintamu seperti Bensin. Cintaku seperti api. Beruntunglah Tuhan tidak merestui hubungan kita. Setidaknya dunia tidak bisa menyalahkan kita atas kebakaran-kebakaran yang terjadi akhir-akhir ini’. Continue reading

LOST

LOST
Aku tak menyangka riset ilmiah pak Tanor membuat banyak petaka. Pak Tanor, guru besar Biologi kami adalah sosok tak banyak suara yang mampu membuat mahasiswanya mengangguk dan tersaruk-saruk mengerjakan tugas yang diberikannya. Tampangnya sangar, seram, sekaligus berwibawa .
Petaka pertama, Kelompok risetku. Pak Tanor sepertinya tahu pasti kalau secara akademis aku dan ke dua puluh tujuh anak didiknya di kelas spesialisnya ini sudah layak lulus. Ia melihat lubang lebar yang membuat kami belum layak keluar dari universitas ini. Kurangnya rasa kekeluargaan diantara kami, meskipun kami sudah empat tahun berada di kelas yang sama.
Di matakuliah Taksonomi ini kami jarang mengerjakan tugas bersama. Sejak awal masuk, kami sudah ditekankan menjadi mahasiswa yang mandiri dan tak usah menunggu bantuan orang lain untuk menyelesaikan tanggungjawabnya. Continue reading