The Light Rains on June (2)

03_F4DF4A93
Tak banyak yang kuingat tentang Ren di Hokkaido. Dia telah tinggal di Tokyo lebih dari lima tahun sejauh yang bisa kuingat. Mengingat itu aku jadi sedikit lega karena aku tak perlu melihat bayangannya di rumah kedua orangtuaku. Ren bukanlah kakak yang manis. Dia takkan datang sekalipun misalnya aku menangis karena dikeroyok bocah bocah begundal dari SD-ku. Ren juga bukan lelaki yang banyak bicara. Aku ingat benar bagaimana dia bisa bersahabat karib dengan tiga temannya sekarang dan bagaimana Ren sangat menyayangi ketiganya. Sejauh yang kuingat, aku memang tak pernah terlalu dekat dengan Ren.

Satu-satunya yang terasa pekat dan tajam adalah ingatanku tentang ayah dan ibu. Meski keduanya pendiam, nyaris di tiap sudut rumah, aku melihat bayangannya. Kehilangan mereka bertiga sekaligus adalah hal yang tak pernah kubayangkan, bahkan dalam mimpi terburukku. Saat itu terjadi, seakan separuh kepalaku melayang, dan aku tak bisa berhenti menangis.

*

Haru, Kai, dan Ryuu ikut menginap di Hokkaido selama upacara pemakaman berlangsung. Satu-satunya kerabat ayahku kini tinggal di Edinburgh, dan baru akan datang dua hari lagi, sementara ibuku adalah anak tunggal yang telah kehilangan kedua orangtuanya semenjak SMA. Kai dan Haru memutuskan kembali ke Tokyo sehari kemudian, namun Ryuu masih tinggal di kamar Ren hingga hari ketiga. Ia terlihat sangat depresi, dengan kantung mata tebal dan mata lebam di pagi hari. Di antara mereka bertiga, memang Ryuu-lah yang paling dekat dengan Ren. Aku bisa melihat betapa mereka bahkan lebih mesra dari orang pacaran.

“Shiba, kau masih ingin kembali ke Tokyo,kan?” tanya Ryuu sambil memegangi segelas air di depan pantri. Malam itu Tokyo terasa hangat. Siluet Ryuu yang tengah berdiri di depan jendela dapur tertimpa cahaya lampu dapur terlihat sekilas seperti bayangan Ren.

“Tentu saja,” kataku singkat. Meski Haru, Kai, dan Ryuu berada di rumahku, sudah beberapa hari ini kami tak banyak berbincang.

“Kau mungkin akan bilang ini aneh, namun aku harap kau setuju dengan keputusanku. Aku sudah lama memikirkannya, Haru dan Kai pun setuju,” Ryuu melanjutkan sambil tak berani menatapku. Aku meliriknya balik. Jarang sekali lelaki jangkung itu terlihat serius, dan saat sekali saja dia sedikit serius, aku bisa melihat aura berbeda dari wajahnya yang mendadak terlihat dewasa.

“Tentang apa? Harta warisan?”

Kali ini ia menjitak kepalaku dan mendengus. Ia berusaha menatapku serius dan bahkan kedua tangannya memegangi pipiku –hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan.

“Maukah kau jadi anak angkatku?”

Aku menatapnya dengan mata melebar. Ia masih menatapku dengan posisi yang sama seperti semenit yang lalu.

“A-nak angkat?” tanyaku balik.

Bagiku, pertanyaannya barusan adalah salah satu skenario paling aneh yang pernah aku dengar. Baiklah dia memang lima tahun lebih tua dariku, telah lulus kuliah, telah bekerja dan lumayan mapan, tapi menjadi anak angkat tetap saja terdengar sangat absurd. Entah darimana Ryuu bisa mendapat ide bodoh ini.

“Kau tahu, aku tak bisa tinggal denganmu kalau kita berdua tidak memiliki hubungan yang jelas. Akan sulit menjelaskan pada kedua orangtuaku kalau aku mendadak tinggal denganmu, meskipun, yah, mereka tahu benar kau adalah adik Ren. Juga kalau semisal aku punya pacar, akan sedikit sulit menjelaskan kau siapa dan mengapa kau tinggal serumah denganku. Lagipula –“

“Apa maksudmu aku akan tinggal serumah denganmu? Aku bisa tinggal di apartemen Ren,” selaku segera. Aku tahu bahwa Ryuu adalah lelaki yang baik –meskipun dia sangat aneh dan seperti alien-, namun mendadak ingin mengadopsiku sebagai anak sepertinya sama sekali bukanlah ide yang normal dan bisa dengan simple disetujui.

“Sebenarnya Ren dan aku telah membayar apartemen baru. Haru dan Kai juga akan tinggal di blok yang sama. Ren bilang aku akan tinggal serumah juga denganmu,” lanjut Ryuu dengan sedikit ragu.

“Dan mengapa mendadak aku harus jadi anak angkatmu? Kita bisa saja tinggal berdua dan aku akan pindah setelah itu,” balasku lagi. Kali ini dia diam dan sesekali membuang pandangannya ke jendela dapur.

“Kau tahu, sebenarnya bisa saja aku menikah denganmu dan kita bisa ti-“

Aku menginjak kakinya keras-keras.

“Apa kepalamu hilang, hah? Kenapa aku harus menikah denganmu hanya agar bisa tinggal disana?” Mungkin salah kalau aku bilang Ryuu adalah alien, karena lelaki itu bahkan lebih aneh lagi dari makhluk luar planet.

“Ren memberikan seluruh tabungannya untuk membeli apartemen itu bersamaku, jadi kau tahu –“ kali ini ia tersendat setelah melihatku melotot lebar.

“Apa? Kau membeli apartemen berdua dengan Ren? Kau berencana menikah dengan kakakku, hah?” kali ini nada suaraku makin tinggi. Ryuu mundur selangkah dan nampak sedikit takut-takut melihatku.

“Kami berencana membuat perusahaan start up bersama. Jadi, yah, kau tahu, Ren juga memberikan tabungan orangtuamu untuk membeli kantor pertama kita.” Ryuu mengatur nafasnya dan melirikku beberapa kali. Ryuu tahu benar bahwa aku suka berbuat kekerasan dan dia mungkin mulai mengantisipasi jika aku mendadak memukulnya atau melemparnya dengan benda-benda berat. Aku tak habis pikir karena lelaki itu masih berani meneruskan, “Jadi, apa kau bersedia jadi anak angkatku, Shiba?”

“Katakan padaku, berapa sisa tabungan yang bisa kupakai untuk menyewa apartemen lain,” sahutku cepat. Ryuu tampak kelabakan hingga entah sejak kapan dia mendadak telah berjongkok didepanku dengan tangan menggumpal –seperti seorang lelaki yang tengah melamar kekasihnya.

“Shiba, kumohon jadilah anak angkatku. Aku benar benar menyayangimu seperti anakku sendiri!” teriaknya. Aku memegang tangannya dengan mata melotot.

“Sejak kapan kau pernah punya anak,” lanjutku kesal. Ryuu pun masih jongkok dengan pose anehnya itu sambil melihatku penuh harap. Entah mengapa, aku mendapat firasat bahwa dia akan memberiku kabar buruk.

“Sebenarnya, Ren menggunakan semua sisa tabungannya untuk membeli mobil untuk perusahaan. Jadi, kau tahu sendiri, mobil itu kemarin tertabrak truk –“

“YAH!! KENAPA KALIAN BERDUA BODOH SEKALI, HAH?!”

*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s