Siapa yang lebih Menyebalkan?

Tokoh dalam cerita ini adalah aku dan dia.

Temanya: siapa yang lebih menyebalkan.

Aku atau dia?

*

Dia menyebalkan. Sebenarnya sedikit baik, tapi – lebih tepat disebut-  menjengkelkan.

Aku tidak tahu dan malas peduli kenapa dia bisa begitu menyebalkan, apakah karena ayah atau ibunya punya gen menyebalkan, atau lebih canggih lagi, dia memproduksi sendiri gen menyebalkan itu, dan jengjengjeng, lihatlah betapa menyebalkannya dia.

Dia tidak bisa diandalkan –namun aku masih saja mencari alasan membuat urusan dengan bocah ini-. Dia cerewet –sangat-. Suka komentar –paling pas untuk dijitak-.

Jika mulutku seperti bom, maka mulutnya seperti nuklir. Aku –yang ehm, pintar bicara pun- bisa gelagapan membalas kata-katanya. Kata-katanya –yang sangat masuk akal dan sistematis- adalah kutukan bagi mulutku yang berantakan.

Dia adalah tipe orang yang tidak mudah panik. Menghadapi masalah dengan otak dingin. berbeda denganku yang mudah panik dan ceroboh. Sekali lagi, ini mungkin efek dari otaknya yang sistematis, sehingga dia tidak mengalami kesulitan mengendalikan masalah-masalah –termasuk mulutku yang berantakan- yang dia hadapi.

Dia rajin ibadah –semoga-. Dia tidak suka membaca –tapi pernah keceplosan bilang baca Blogku-. Dan anehnya ia berkacamata. Karma darimanakah itu?

Game.

Yupz, Dia suka main game –kayaknya mirip seseorang di Korea sana-.

Dia merepotkan –tapi aku jauh lebih merepotkan-. Dia stabil –sedikit agak dewasa-. Dia tidak suka berbelit-belit –salut-. Dia pintar –sedikit-. Dia sistematis –seperti komputer-.

Dia suka mengeluh –lumayan parah-. Dia banyak alasan. Dia narsis –ya tuhan jangan lihat akun facebooknya-.

Dia suka memanfaatkan –sebelas duabelas denganku yang sangat merepotkan-. Dan pastinya –korban utamanya adalah: aku. mungkin dia punya antenna parabola diatas kepalanya yang bisa mendeteksi bahwa aku diciptakan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Apa aku marah?

Bodohnya, tidak.

Dan sebaiknya jangan tanya kenapa.

Dia sudah tahu jawabannya.

*

Silahkan tertawa.

*

Dia teman SMA-ku. Salah seorang sekretaris yang jarang berkeliaran, sehingga aku kurang tahu bahwa ada manusia –dan masih bernafas-  yang hidup dan berurusan dengan OSIS sama sepertiku.

Aku baru mengenalnya setahun ssebelum aku lulus SMA.

Kesan pertamaku: Dia itu keren. Kenapa? Karena berkacamata –silahkan tertawa, aku memang penyuka orang berkacamata- dan menurutku otaknya sistematis. Dibanding denganku yang sangat berantakan, gaya bicaranya mengatakan bahwa otaknya sudah merancang ini dan itu. benar-benar berbanding terbalik denganku, yang sekalipun bicara panjang lebar, tak satupun rencana berkelebat dengan pasti dalam kepalaku.

Kesan pertama itu ternyata membawa kutukan di masa depan.

*

Tahun pertama kuliah. Kutukan itu mulai bekerja, kampus kami bersebelahan. Dan kebetulan, teman SMAku tidak ada yang sekampus denganku.

Instingku mengatakan bahwa dia enak diajak bicara. Dan secara otomatis, enak juga dimintai tolong.

Saat itu, aku snagat berterimakasih padanya karena dia berbaik hati mau menolongku melakukan beberapa hal yang tak bisa kulakukan sendirian.

Apakah kalian tahu bahwa mulut yang banyak bicara membawa banyak petaka?

Begitulah aku.

Aku, dengan bodohnya, berjanji banyak hal padanya. Salahkan mulutku, kenapa dia sebegitu kurang kerjaannya menawarkan ini dan itu tanpa banyak pertimbangan.

Sejauh itu, aku hanya merasa bahwa aku merasa nyaman dan itu sebabnya aku suka berurusan dengannya.

*

Kutukan itu berlanjut.

Orang yang kubutuhkan, mendadak tak ada lagi didekatku. Orang yang sangat kupercaya, yang kepadanya aku bercerita banyak hal, mendadak tak bisa lagi kuperlakukan begitu.

Rasanya seperti mimpi buruk. Seperti kehilangan rumah. Kehilangan tempat bernaung.

Selama sebulan aku mati rasa. Tubuhku berfungsi, namun sebagian bermutasi menjadi zombie.

Aku, tanpa kusadari, berubah menjadi orang lain. Sosok yang pendiam, tidak punya teman, dan tidak berkembang.

Aku lebih suka mengurung diri di kamar dan memilih bermain laptop seharian. Apa itu berhasil?

Sedikit. Aku bisa lupa, tapi sedikit. Sekali lagi, aku kehilangan tempatku bernaung dan bisakah terbayangkan bagaimana sulitnya hujan dan sengatan matahari tanpa tempat bernaung?

Aku mulai tertekan.

Dan sakit.

*

Berubah menjadi orang lain sama sekali tak pernah terpikirkan olehku. Semua orang mengenalku sebagai sosok yang tidak bisa diam. Sangat cerewet dan menyebalkan.

Namun Tuhan selalu Maha Hebat. Aku berubah hanya karena satu orang.

Aku yang sekarang adalah aku yang diam.

Dan tentu saja, tetap pintar.

*

Aku bersyukur karena aku baik-baik saja. Mungkin ada yang tidak benar dengan kepribadianku sekarang ini, namun selebihnya aku merasa baik-baik saja. Aku sudah lupa m-a-n-u-s-i-a yang telah hilang itu. aku menganggap semua yang sudah terjadi adalah fiksi, dan kebetulan aku jadi tokohnya. Aku selalu membuatnya sesederhana itu, walaupun kadang, masih sakit. Bagaimanapun aku ini wanita, sekuat, setegar apapun, aku ditakdirkan untuk lebih mudah menangis dan mabruk saat terlalu sakit.

Setahun berlalu dan sudut hatiku telah membentuk benteng baja untuk tidak lagi berurusan dengan laki-laki. Laki-laki disekitarku adalah kabut, yang tidak perlu kuhiraukan. Cukup dilewati, dan lupakan.

Mulanya, aku selalu mudah menyukai seseorang yang nyaman kuajak bicara. Namun  belakangan aku merasa aku menyukai satu orang, dan orang itu adalah dia. Selebihnya, ada berderet-deret manusia tampan yang kukagumi dari jarak jauh.  Manusia-manusia Korea yang hanya bisa kulihat di laptop, diaman fungsi utama mereka adalah membuatku tertawa dan lupa kalau aku sedang sakit hati.

Mengenai dia, Aku banyak berurusan dengannya. Sengaja. Dan tidak sengaja. Saat aku ingat aku menyukainya, aku mundur teratur. Tahu diri untuk tidak membuat urusan lebih dulu. Namun seringnya aku lupa kalau aku dalam upaya menghindar, dan yang terjadi adalah aku semakin banyak berurusan dengan manusia satu itu.

Pada dasarnya, aku memang suka menjadi orang yang merepotkan. Merepotkan teman-temanku, merepotkan tetanggaku, dan merepotkan orang-orang yang sering kupikirkan. Bagiku, merepotkan mereka seperti tugas yang dibebankan Tuhan untukku agar teman-temanku menjadi orang baik –dengan menolongku-. Sangat tidak masuk akal dan kekanakan. Dan begitulah aku. aku nyaman-nyaman saja meskipun seantero dunia menghujat sikap menyebalkan-ku.

Kesalahan. Mengenalku adalah kesalahan.

Jadi jangan salahkan aku kalau aku merepotkan.

Itu namanya takdir.

*

Jadi, siapa yang lebih menyebalkan?

Sepertinya aku.

*

Karena aku menyebalkan, orang-orang disekitarku juga bertransformasi menjadi sosok yang tak kalah menyebalkan. Kata mereka, aku cuek, menyebalkan, dan tak bisa diajak bicara.

Siapa bilang? –sangkalku dalam hati-

Aku ini enak diajak bicara. Hanya saja, kalau aku tidak menyukai lawan bicaraku, aku lebih suka menjadi tembok, dan lawan bicaraku jadi radio. Silahkan bicara, dan maaf kalau aku tidak merespon dengan baik, aku kan tembok.

*

Sudah lama sejak aku mengalami gejala aneh yang menggelikan menurutku.

Aku suka mengamatinya. Ya Tuhan, aku kenapa?

Tentu saja aku tahu aku kenapa. Dan aku tahu betul kenapa aku bisa begitu.

Aku memutuskan untuk menghindar. Walaupun tentu saja dia mungkin tak merasakan ada yang berubah dariku. Mana dia tahu. Aku snediri tak pernah bilang, dan sepertinya juga tidak kelihatan. Dan menurut perkiraanku, dia tak ambil pusing. Toh, kemunculanku di ponselnya atau didepannya adalah pertanda aku butuh pertolongan, dan itu artinya dia akan kerepotan. Jadi  kusimpulkan, dia pasti sangat berbahagia kalau aku mendadak hilang begitu.

Bukankah itu artinya dia akan aman dari manusia merepotkan bernama ‘aku’?

Mungkin baginya, aku ini angin. Kadang sepeerti angin putting beliung yang ramai dan meresahkan, kadang juga jadi udara yang sepi dan tidak mengusiknya.

*

Aku mengamatinya dari jauh –silahkan tertawa-.

Aku jadi suka salah tingkah –dan ini sangat menyebalkan-. Mengapa mesti salah tingkah? Dia itu temanku, dan aku sudah lama mengenalnya. Dan hei, dia selalu kelihatan ‘nyantai’. Ini adalah siksaan terbaru. Mulai saat itu, aku semakin semangat menghindarinya.

*

Muncul tokoh baru. Dan dia adalah teman SMAku juga. Seorang gadis. Yang juga menyebalkan sepertiku.

Dia bilang: aku harus mengatakannya.

Dan kesalahanku adalah: aku menurutinya siang itu.

Aku mulas-mulas saat ujian berlangsung.

*

Sore itu, dia menyuruhku menulis. Menulis Fanfiction dengan tokoh orang Korea yang sebenarnya adalah dia. Dia ingin tahu bagaimana orang-orang mengomentarinya.

Ya Tuhan, bagaimana bisa aku berurusan dengan orang model begini?

9 thoughts on “Siapa yang lebih Menyebalkan?

  1. Ada apa denganmu fiida?? Siapakah si menyebalkan itu??

    Aku tauk kau itu menyebalkan, karena aku juga sama menyebalkannya denganmu..

    Orang mengira kita ini terlalu cuek, terlalu acuh, tidak peduli dan susah diajak berkomunikasi.. Siapa peduli, salahkan lawan bicara kita..

    Mereka tidak tau, justru orang2 menyebalkan seperti kita sebenarnya adalah orang2 yang sangat peduli terhadap hal2 kecil.. Bahkan menyangkut orang yang kita sukaa… Hehe#ngomong apa sich gueee…

  2. Ten6ok kanan ten6ok kiri blik la6i kekanan ehh kekiri l6i
    Kanan” kiri”(?)
    Sya bin6un6… IQ mentok d’tembok.. 6′ bsa men6arikn barisn kta” d’ats…
    Ahh y6 pntn6 comen.. Kekek(?)
    Fi6htin6.. Fi6htin6..!!!!

  3. Hahahahaa.. *ketawa setan* kok banyak orang Korea muncul di curhatan ini?

    yang menyebalkan pertama kali ya si “dia” itu. kenapa harus masuk dan merusak semua tatanan hidup dan sistem kerja otak yeoja muda yang di ceritakan sbg tokoh “aku” itu???

    aish, fid, bukan hanya kau yang d uji seperti itu. aku pun pernah. tapi aku tidak bodoh, dengan mengatakan bahwa aku cinta padanya dengan cara yg gamblang. Saat itu “dia” dan “aku” satu tempat kerja, dan kau tau apa, tentu saja aku harus banyak berurusan dengannya. dan dengan menyebalkannya aku membawakan makanan2 enak untuknya, memperhatikan kesehatannya, menjamin bahwa dia tersenyum setiap aku bertemu dengannya. haish, cinta itu lah yang menyebalkan. bukan aku, bukan dia… mari SALAHKAN CINTA yang datang begitu tiba2 tanpa permisi, tanpa sms terlebih dahulu, tanpa ijin. HYAKKK !!!!

    eh eh itu kan katanya ada kisahnya yang dijadiin FF pdhl kisah mu dan dia. FF YANG MANA YA SAENG-ah??????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s