Books on Wheels

(A Literacy Project by IRangers)

Reading books have long been known as beneficial for one’s future. Reading helps people to view the world from a different perspective. Reading allows people to expand knowledge. Reading also brings people to various places. Above all, reading teaches tolerances.

Students of MI Al Ikhlash are enthusiastic readers, given the fact that they still re-read secondhand magazines given to them last year during their recess time. They also ask for more books and magazines as they find reading is enjoyable and fun.

However, the school cannot provide books for the students due to some financial issues they encountered. It is difficult for the school committee to buy books as they also struggle to pay teachers’ salaries and improve the school facilities.

Knowing this, IRangers (a nonprofit organization based in Malang) proposed a project called “Books on Wheels”. The idea is to distribute borrowed books from libraries to the students. As the school is located in a rural region, it is hard for the students to borrow the books by themselves. The borrowed books will be returned in two weeks and be restocked with other books.

The team also struggled to collect secondhand books and borrow books from various institutions and people. Although the movement is not in large scale, the benefits have already been felt by the teachers. The students are now more enthusiastic and knowledgeable. The students also spend more time to read.

Advertisements

Belajar dari Finlandia

“Kita bisa mencapai kesetaraan (pendidikan) dan meraih kualitas secara bersamaan. Bahwa dua hal itu bukan hal yang bertentangan.” (Virkkunen, Menteri Pendidikan Finlandia)

SEKUMPULAN bocah lelaki tengah menata be­berapa batu, buah pinus, buah berry, dan ranting-ranting pohon membentuk beberapa bangun geometri. Anak-anak itu kemudian harus mendeskripsikan bangun yang mereka buat dengan menggunakan rumus geometri, se­hingga anak-anak lain yang tidak diperbolehkan melihat bangunannya dapat membayangkan bangunan itu. Itulah pemandangan di sebuah kelas di sebuah sekolah di Fin­landia.

maxresdefault

Menurut Veli-Matti, seorang guru di Helsinki, Finlandia, hasil dari metode pembelajaran ini akan berbeda dibandingkan mengonsepkan teori matematika menggunakan pena dan kertas. Dengan metode ini, pemahaman teori akanlngsung diserap secara optimal oleh otak. Menarik bukan?

Finlandia, sebuah negeri kecil dengan hanya total penduduk sekitar 5 juta, berhasil meraih prestasi inter­nasional dengan memegang skor tertinggi survei PISA (Programme for International Student Assessment) yang diadakan OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), selama tiga kali berturut-turut. Hal ini mengundang banyak tanya di benak para pemerhati pen­didikan. Tentu bukan sebuah kebetulan jika mereka bisa memimpin skor selama tiga kali berturut-turut, mengalah­kan negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Inggris. Lalu, apa yang sebenarnya membuat sistem pen­didikan negeri ini sedemikian berhasil?

Buell_Childrens_Museum_Art_Room_by_David_Shankbone-700x525.jpg

Faktor utama keberhasilan sistem pendidikan di Finlandia ada pada kualitas gurunya. Guru di Finlandia diharuskan lulus master degree di bidang pendidikan ke­guruan yang ditempuh lebih dari enam tahun. Pendidikan ini juga bukan pendidikan asal-asalan. Ujian masuknya setara dengan ujian masuk Universitas Harvard (sebuah universitas paling terkenal di Amerika Serikat).

Karena tingginya kualitas guru, profesi ini sangat dihormati di kalangan masyarakat Finlandia, melebihi profesi pengacara atau dokter. Guru memiliki wewenang utuh atas siswa yang dididiknya, termasuk menggunakan metode mengajar yang kontroversial sekalipun. Guru juga tidak perlu mengikuti uji standardisasi untuk menguji ke­mampuannya. Di sisi lain, profesi ini juga ditunjang dengan gaji yang memadai. Hasilnya, guru di Finlandia ada­lah sosok yang berdedikasi tinggi dan profesional. Continue reading

Trik Membaca Artikel Ilmiah di Jurnal Internasional

Saya sering tersesat saat membaca artikel di jurnal, lalu memutuskan putar balik, alias mencari aktifitas lain yang lebih membahagiakan. Hingga akhirnya saya ketemu buku karangan Philip Shon yang dibagikan gratis di jurusan saya. Bukunya tipis, tapi greget. Rupanya membaca artikel ilmiah itu ada stepnya, Shon memakai kode khusus untuk membaca artikel artikel di jurnal ilmiah (ilmu sosial);

Image may contain: text

1. WTD (What They Do)
Author menjelaskan apa yang dia teliti, menjelaskan main research question dalam penelitiannya. Kode ini biasa ditemukan di Introduction dan Literature Review.
2. SPL (Summary of Previous Literature)
Kode ini bisa ditemukan di bagian Introduction, Literature Review, atau Abstract. Ciri cirinya, ada citation yang isinya menceritakan bagaimana penelitian penelitian lain yang dilakukan sebelumnya. Kita bisa memakai SPL sebagai trik untuk mencari tahu sejarah penelitian di topik yang kita ambil.
3. CPL (Critique of Previous Literature) dan GAP (Gap)
Sesuai dengan namanya, CPL berisi kritik dari sang penulis kepada penelitian penelitian sebelumnya, ciri-cirinya ada conjunction seperti “however, but” dll yang kemudian menjelaskan GAP alias “hole”, topik penelitian yang belum tersentuh. GAP inilah yang nantinya dijadikan justification oleh sang penulis untuk menulis topik tersebut dalam RAT.
4. RAT (Rationale)
Setelah menemukan GAP, biasanya kita akan menemukan RAT alias justification dari penulis “mengapa kamu harus baca artikel ini, mengapa artikel ini penting”.
5. ROF (Results of Finding)
Kode ini biasanya ditemukan bagian #Results atau #Discussion. Author akan menjelaskan hasil penelitiannya. ROF ini bisa kita gunakan sebagai SPL dalam tulisan kita.
6. RCL (Results Consistent with Literature) dan RTC (Results To the Contrary)
Dalam discussion biasanya author akan membandingkan hasil penelitiannya dengan penelitian sebelumnya, menjelaskan apakah hasilnya senada atau tidak. Dua kode ini untuk mengelompokkan mana yang senada, dan mana yang tidak senada.
7. WTDD (What They Did)
Kode ini bia ditemukan di Conclusion. Isinya menjelaskan apa yang mereka telah lakuka dalam penelitiannya dan berhubungan dengan WTD. Apakah si author telah melakukan apa yang dia klaim dalam WTD akan terlihat dalam WTDD, termasuk pertanyaan apakah si author telah menjawab main research question dalam penelitiannya.
8. RFW (Recommendation of Future Works)
Si author biasanya akan menjelaskan limitation dari penelitian yang dia lakukan, kemudian akan memberikan rekomendasi untuk penelitian berikutnya.

Dengan menulis kode kode ini di margin kanan artikel, kita bisa fokus saat baca sekaligus save time saat mencari rujukan. Selamat mencoba!