Belajar dari Finlandia

“Kita bisa mencapai kesetaraan (pendidikan) dan meraih kualitas secara bersamaan. Bahwa dua hal itu bukan hal yang bertentangan.” (Virkkunen, Menteri Pendidikan Finlandia)

SEKUMPULAN bocah lelaki tengah menata be­berapa batu, buah pinus, buah berry, dan ranting-ranting pohon membentuk beberapa bangun geometri. Anak-anak itu kemudian harus mendeskripsikan bangun yang mereka buat dengan menggunakan rumus geometri, se­hingga anak-anak lain yang tidak diperbolehkan melihat bangunannya dapat membayangkan bangunan itu. Itulah pemandangan di sebuah kelas di sebuah sekolah di Fin­landia.

maxresdefault

Menurut Veli-Matti, seorang guru di Helsinki, Finlandia, hasil dari metode pembelajaran ini akan berbeda dibandingkan mengonsepkan teori matematika menggunakan pena dan kertas. Dengan metode ini, pemahaman teori akanlngsung diserap secara optimal oleh otak. Menarik bukan?

Finlandia, sebuah negeri kecil dengan hanya total penduduk sekitar 5 juta, berhasil meraih prestasi inter­nasional dengan memegang skor tertinggi survei PISA (Programme for International Student Assessment) yang diadakan OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), selama tiga kali berturut-turut. Hal ini mengundang banyak tanya di benak para pemerhati pen­didikan. Tentu bukan sebuah kebetulan jika mereka bisa memimpin skor selama tiga kali berturut-turut, mengalah­kan negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Inggris. Lalu, apa yang sebenarnya membuat sistem pen­didikan negeri ini sedemikian berhasil?

Buell_Childrens_Museum_Art_Room_by_David_Shankbone-700x525.jpg

Faktor utama keberhasilan sistem pendidikan di Finlandia ada pada kualitas gurunya. Guru di Finlandia diharuskan lulus master degree di bidang pendidikan ke­guruan yang ditempuh lebih dari enam tahun. Pendidikan ini juga bukan pendidikan asal-asalan. Ujian masuknya setara dengan ujian masuk Universitas Harvard (sebuah universitas paling terkenal di Amerika Serikat).

Karena tingginya kualitas guru, profesi ini sangat dihormati di kalangan masyarakat Finlandia, melebihi profesi pengacara atau dokter. Guru memiliki wewenang utuh atas siswa yang dididiknya, termasuk menggunakan metode mengajar yang kontroversial sekalipun. Guru juga tidak perlu mengikuti uji standardisasi untuk menguji ke­mampuannya. Di sisi lain, profesi ini juga ditunjang dengan gaji yang memadai. Hasilnya, guru di Finlandia ada­lah sosok yang berdedikasi tinggi dan profesional.

Masalah Gaji Guru

Sebaliknya di Indonesia, kualitas guru menjadi masalah utama dalam dunia pendidikan. Hal ini dilatarbelakangi banyak faktor, di antaranya tidak memadainya gaji guru. Gaji yang tidak memadai menyebabkan guru di Indonesia mencari pekerjaan lain untuk menunjang biaya hidup. Akibatnya, guru tidak memiliki cukup waktu un­tuk mempelajari kondisi siswanya.

Kondisi tersebut ditambah lagi dengan kurang di­hargainya profesi guru di Indonesia. Masyarakat Indone­sia cenderung lebih menghormati profesi dokter, polisi, atau pengacara daripada profesi guru. Atas alasan-alasan inilah, banyak lulusan terbaik dari perguruan tinggi pencetak guru memilih tidak menjadi guru, sehingga banyak lembaga pendidikan kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni di bidang pendidikan.

Beban guru masih ditambah dengan tugas-tugas administratif yang dipanggul guru. Guru di Indonesia di­haruskan membuat rencana program pengajaran (RPP), silabus pembelajaran, media pembelajaran, dan lain se­bagainya, yang menyita waktu dan tenaga. Jangan kaget bila siswa terbengkalai, karena guru sibuk mengurus ad­ministrasi untuk kelulusan uji standardisasi profesi guru. Pemerintah belum percaya sepenuhnya pada kemampuan guru dan merasa perlu melakukan sertifikasi. Sementara di pihak lain, guru merasa tertekan dan terbebani dengan banyaknya persyaratan akademik.

Rahasia keberhasilan pendidikan Finlandia selan­jutnya terletak pada pemerataan pendidikan. Pemerintah negara itu menjamin biaya pendidikan sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Sebanyak 99% sekolah dikelola oleh pemerintah, sehingga kompetisi antarse­kolah bisa dihindari. Semua anak berhak memilih belajar di sekolah mana saja –yang banyak macamnya–, namun dengan kualitas yang setara. Dengan kesetaraan ini, selu­ruh lapisan masyarakat mendapatkan hak akan pendidikan secara adil.

Berbeda dengan di Indonesia. Meskipun hak mem­peroleh pendidikan yang sama dijamin oleh UUD 1945, kenyataan membuktikan, bahwa masyarakat Indonesia memeroleh pendidikan dengan porsi yang berbeda-beda, sesuai tingkat ekonominya. Komersialisasi pendidikan bu­kan lagi hal yang tabu dalam wacana pendidikan di Indo­nesia. Dengan banyaknya pilihan sekolah, sekolah saling bersaing meningkatkan kualitas sarana-prasarana, yang mengakibatkan mahalnya biaya pendidikan.

Sekalipun pemerintah telah mengusahakan pendidikan gratis melalui program bantuan operasional sekolah (BOS), ini akan percuma jika sekolah mengadakan pungutan-pungutan untuk membiayai sarana-prasarana ekstra demi mengejar status sekolah terbaik. Akibatnya, hanya anak orang kaya atau konglomerat yang mendapat­kan pendidikan terbaik.

Sisi lain pendidikan Finlandia yang juga patut di­contoh adalah aspek humanitasnya. Sistem edukasi Fin­landia memposisikan murid sebagai ‘manusia yang se­dang belajar untuk berkembang’, bukan ‘mesin pekerja’. Pengetahuan diperoleh dengan memahami dan menerap­kan langsung, bukan dengan menghafal.

Begitu juga dalam kebijakan jam belajar di kelas dan pekerjaan rumah. Jika pendidikan Indonesia identik dengan waktu belajar yang panjang dan pekerjaan ru­mah yang menumpuk; sebaliknya, siswa Finlandia hanya menghabiskan waktu empat jam di kelas. Siswa juga tidak dibebani dengan pekerjaan rumah yang memusingkan, melainkan menyelesaikan pekerjaan rumah di luar kelas dengan bimbingan guru. Siswa tidak akan kehilangan waktu santainya dengan mengerjakan pekerjaan rumah yang menggunung.

Menengok sistem edukasi Finlandia, kita juga perlu mempertimbangkan orientasi pendidikannya yang tidak terpusat pada nilai akademik. Guru, pemerintah, dan masyarakat Finlandia tidak menjadikan nilai akade­mik sebagai cermin utuh kualitas seseorang. Kondisi ini berbalik 180 derajat dari kondisi pendidikan di Indonesia. Nilai akademik menentukan kelulusan, kemampuan, dan kecerdasan seseorang.

Dengan pandangan sempit ini, siswa akan termoti­vasi belajar bukan untuk berkembang, melainkan untuk mendapat nilai yang bagus. Hal ini akan menimbulkan persaingan yang tidak sehat, yang berujung pada maraknya budaya menyontek, membeli kunci jawaban, dan ber­bagai cara instan untuk memperoleh nilai yang memuas­kan.

Pertanyaannya, bagaimana pendidikan di Finlan­dia mampu menghasilkan siswa-siswa yang hebat, se­mentara mereka tidak menganggap nilai akademik seba­gai tujuan belajar?

Jawabannya ada pada tingginya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Siswa, guru, pemerintah, ataupun masyarakat Finlandia menganggap pendidikan adalah ke­butuhan urgen bagi seorang manusia untuk berkembang dan mencapai kehidupan yang lebih baik, bukan hanya sebagai parameter kualitas personal.

Hal ini bisa dilihat pada tingginya minat membaca masyarakat Finlandia. Masyarakat yang apresiatif pada pendidikan tidak akan mungkin lepas dari tradisi mem­baca. Tidak perlu terkejut jika ditemukan perpustakaan dalam pusat perbelanjaan atau mobil perpustakaan keliling. Budaya membaca dan menulis memang bukan hal yang luar biasa lagi di Finlandia.

Selain memfasilitasi minat membaca dan menulis dengan membangun perpustakaan-perpustakaan di lokasi strategis, pemerintah Finlandia juga menggunakan me­tode unik lain untuk membangun hobi membaca. Salah sa­tunya adalah dengan tradisi memberikan tiga buah buku pada bayi yang lahir sebagai hadiah untuk ayah, ibu, dan bayinya. Diharapkan, dengan tiga buah buku ini, keluarga akan mengutamakan pentingnya gemar membaca sejak usia dini.

Ada lagi undang-undang unik yang diberlakukan di Finlandia, yaitu larangan menggunakan dubbing untuk film-film mancanegara yang masuk ke televisi nasional. Dengan adanya larangan tersebut, seorang anak akan be­lajar membaca teks (subtitle) secara cepat untuk mengeta­hui isi perbincangan tayangan televisi yang tengah ia ton­ton. Betapa berbedanya dengan kebijakan pertelevisian di Indonesia yang justru menganjurkan dubbing (sulih suara).

Kurangnya kesadaran dan apresiasi pada pent­ingnya pendidikan masih menjadi masalah di negeri kita hingga hari ini. Minat baca yang rendah, tingginya an­gka buta huruf, dan sedikitnya jumlah buku yang terbit tiap tahunnya, menjadi indikator nyata akan minimnya penghargaan pada dunia pendidikan. Bahkan pemerin­tah sendiri kurang menghargai pentingnya pendidikan, terbukti dengan banyaknya penyimpangan alokasi dana pendidikan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Ini terjadi karena sistem birokrasi pemerintah yang ruwet dan tidak transparan. Maka untuk memperbaiki keadaan ini, yang pertama harus dilakukan adalah membenahi sistem birokrasi di bidang pendidikan.

Indonesia memiliki peluang yang sama untuk me­majukan pendidikan sebagaimana Finlandia. Pendidikan di Finlandia menjadi baik karena sistemnya. Indonesia bisa berguru dengan mulai mengevaluasi sistem pendidikan dan menyiapkan guru-guru yang andal. Memang, tidak perlu menerapkan mentah-mentah sistem edukasi Finlandia, karena bagaimanapun juga pendidikan adalah produk budaya suatu bangsa. Namun, aspek-aspek positif dari sistem pendidikan di Finlandia bisa ditiru dan men­gombinasikannya dengan kultur bangsa Indonesia. Dengan formulasi yang tepat, bukan tidak mungkin Indone­sia mampu merajai sistem pendidikan dunia. Indonesia, mari berbenah!“

Dimuat dalam Buku Kumpulan Esai Mahasiswa “Pemuda dalam Pusaran Nasionalisme Semu” terbitan UNESA Press 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s