Belajar dari Sistem Edukasi di Skotlandia

No automatic alt text available.

Maret lalu lalu, saya dan beberapa mahasiswa University of Edinburgh diberi kesempatan selama dua hari untuk studi banding ke Forrester High School (FHS), salah satu Middle School (SMP dan SMA) di Edinburgh, sekolah Publik yang didanai pemerintah Skotlandia. Kami mengobservasi sistem edukasi juga metode mengajar yang digunakan oleh para guru di sekolah ini. Ada beberapa pola yang kemudian saya pelajari dalam sistem edukasi di sekolah ini, yang umumnya juga berlaku di sekola-sekolah publik lain di Edinburgh.

15443048_10211384054019060_5945907521227390585_o-1

 

Pertama, mata pelajaran yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selama ini, saya sering bertanya mengapa banyak sekali pelajaran yang saya pelajari selama di sekolah (baik SD, SMP, ataupun SMA) sangat jauh dari apa yang biasa kita butuhkan dan lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Di FHS, mata pelajaran didesain sesuai dengan kebutuhan anak, misalnya Social Education (belajar tatakrama), Modern Studies (mempelajari kehidupan masyarakat modern), Home Economics (kelas masak dan olah makanan), Computer Design Technology, Bahasa asing (Bahasa Jerman dan Spanyol), Bahasa Inggris, Kelas Seni (Seni 3D, melukis, mengukir, menggambar, dsb.), Kelas Olahraga (tinju, basket dan senam), Kelas Bisnis, Musik dan Drama, Matematika, Sains, dan Pelajaran Keagamaan.

Kedua, guru yang super kreatif. Salah seorang guru di FHS membawa beruang besar dan melemparkannya bergantian ke para siswa sambil berhitung. Bagi siswa yang terkena lemparan pada hitungan tertentu, ia diharuskan menjawab pertanyaan sederhana yang diajukan oleh sang guru. Ada juga guru yang menggunakan media papan whiteboard mini seukuran laptop 12 inch plus spidol yang dibagikan pada para siswa. Tiap siswa menulis jawaban soal matematika di papan ini lalu mengacungkannya ke atas, lalu guru akan memeriksa jawaban mereka sambil menerangkan jawaban yang benar, sehingga siswa pun menjadi antusias untuk berhitung dengan cepat dan tepat.

Ketiga, sarana prasarana yang mendukung. Tak mengejutkan jika negara maju seperti Skotlandia memiliki sarana dan prasarana yang lengkap untuk mendukung pendidikan di sekolah. Agak berbeda dengan di Indonesia, siswa di FHS tidak memiliki kelas tetap, mereka berpindah kelas tiap bel ganti pelajaran, seperti siste perkuliahan di Indonesia. Siswa juga tidak membawa buku paket karena telah disediakan dalam kelas, dan tiap siswa akan mengambilnya sebelum pelajaran dimulai sehingga tidak memberatkan siswa. Spidol, krayon, kertas, penggaris, gunting, lem, disediakan dalam kelas. Kelas memasak bahkan dilengkapi dengan puluhan blender, mixer, oven, microwave, cetakan kue, dan beragam alat masak lainnya untuk mendorong siswa semakin kreatif dalam mengolah makanan. Untuk mempermudah pengajaran, siswa dibekali dengan IPad yang terhubung ke Wi-Fi dengan akses yang terbatas pada sistus-situs pendidikan. Untuk kelas seni, siswa difasilitasi dengan manekin dan beragam kain bagi siswa yang tertarik mendesain dan menjahit baju, kayu untuk yang tertarik mengukir, juga alat lukis lainnya.

Keempat, tatakrama itu penting. Guru akan menegur tiap siswa yang misalnya melempar penghapus ke temannya, dan menyuruh siswa segera minta maaf. Guru akan mengingatkan siswa yang buang sampah kertas di sampah organik. Siswa yang “melakukan banyak pelanggaran” akan dikirim ke kelas Enhanced Learning Provision  yang nantinya siswa ini akan diawasi guru khusus sampai dia selesai mengerjakan tugas.

Kelima, kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat. Meski baru berusia 13 tahun, siswa di FHS diberi kebebasan untuk memikirkan masa depan mereka, misalnya guru bertanya, “Menurut kalian menikah itu penting atau tidak? Pada usia berapakah yang ideal untuk menikah? Memiliki rumah penting atau tidak?”, dan uniknya para siswa juga telah memiliki jawaban yang matang dan bertanggungjawab. Mereka tidak lagi berkutat dengan menghafal definisi-definisi, tapi bahkan telah berpikir lebih jauh ke ranah berpikir kritis.

Keenam, sekolah didesain sebagai persiapan untuk masa depan anak. Banyak sekali siswa yang tidak meneruskan hingga tamat, karena warga Skotlandia memiliki hak untuk tidak sekolah setelah mereka mencapai 16 tahun, dengan catatan mereka melanjutkan kuliah, atau bekerja, tentunya masih dengan pengawasan pemerintah dan orangtua. Ada pelajaran yang wajib diambil di kelas 1 dan 2, selebihnya mereka bebas memilih pelajaran yang sesuai dengan minat mereka yang nantinya akan menjadi bidang mereka saat kuliah atau kerja. Hasilnya, siswa tidak merasa tertekan saat belajar dan mereka pun belajar memutuskan karir sejak masih belia. Siswa menjadi lebih mandiri dalam mengambil keputusan dan menjadi lebih bertanggungjawab.

Nah, dari enam poin di atas, apa yang bisa kita ambil pelajaran?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s