Dear God, Is This Heaven?

Pasca disertasi, saya berniat mengasingkan diri di pedesaan (kepala saya berasa habis di cor). Setelah googling kanan kiri, saya akhirnya memilih Lauterbrunnen sebagai destinasi (sempat terpikir untuk menginap di desa diatasnya, cuma demi keselamatan saya pilih yang lebih deket dari stasiun). Lauterbrunnen adalah lembah di daerah Jungfrau region dengan 72 air terjun dan sungai mengalir dari glacier gunung Jungfrajouch (gunung tertinggi di Eropa), Eiger, dan Monch. Lauterbrunnen bisa dijangkau dengan kereta api, namun desa-desa di atasnya (Murren, Gimmelwald, Wanderweg, dan Gruschalp) hanya bisa dijangkau dengan kereta gantung. Dari desa-desa ini, kita bias melihat pegunungan yang tertutup es, air terjun, lembah hijau, dan rumah rumah kayu yang bertebaran di kaki gunung. Bagi penyuka daerah sepi dan hijau seperti saya (saya suka nggak nyaman di tempat yang banyak umat manusianya), tempat ini adalah surga; tidak banyak turis yang selfie kanan kiri, dan saya cuma ketemu sesama pendaki atau penduduk lokal. Saya bisa duduk diam berjam jam atau jalan kaki dan kadang nggak ketemu makhluk hidup sama sekali (atau cuma ketemu sapi). Saya juga terbangun oleh suara air terjun dan sarapan dengan melihat jajaran gunung es di depan hostel.
Di daerah Jungfrau, pemerintahnya memiliki aturan tersendiri semisal rumah harus dibangun dengan kayu warna coklat tua atau muda, dan tiap summer mereka wajib menanam bunga. Ada juga daerah yang dilarang menggunakan mobil sama sekali, sehingga desa desa ini bebas polusi dan klakson mobil.Orang-orang yang hidup disini rata-rata bekerja di kota (seperti Lucern) dan memilih mendaki gunung saat pulang kerja. “It’s a fulfilling life, I hike the alps almost everyday,” kata seorang penduduk lokal yang saya temui di jalan. Salah satu penduduk juga bilang bahwa rata-rata orang sini pengen pensiun dini dan membangun rumah di desa. Tak jarang saya bertemu sepasang kakek nenek yang mendaki bersama atau mas-mas ganteng yang nenteng nenteng sepeda atau parasut segede bayi gajah di kereta gantung. Ada juga hiker yang menggendong anaknya di punggung sambil bawa botol susu. Pastinya saya kelihatan alien sekali, karena mereka jarang ngeliat perempuan dengan kain diputer-puter di kepala yang bawa ransel dan kamera dan kelihatan banget nggak kuat ndaki (dan nggak pake kostum hiker).
Meski Swiss is bloody expensive, tapi saya akui sistem transportasi mereka memang juara. Kereta gantung, kereta kayu, kereta api, dan boat adalah transportasi sehari-hari untuk mencapai desa (saya lalu dengan sangat absurd membayangkan pulang ke Jombang dari Malang dengan naik kereta gantung). Kereta-kereta ini juga didesain untuk bias mencapai puncak-puncak gunung, seperti Rigi, dan mendaki pelan-pelan seperti kereta mainan, memungkinkan para penumpang untuk lebih menghayati pepohonan dan gunung es super cantik di depan mata. Lebih menarik lagi, karena mata air nya berasal dari lelehan es, sungai dan danau-danau berwarna ijo tosca. Saya sempat melongo lama banget di tengah jembatan gara gara pertama kalinya lihat air sungai ijo tosca (setelah sekian lama melihat sungai hitam pekat).
Sekali lagi, Fabiayyi Alaai robbikuma tukaddziban.

 

dsc_3552dsc_3625dsc_3639dsc_3645dsc_3664dsc_3727

dsc_3815dsc_3811dsc_3809

dsc_3862dsc_3905dsc_3928dsc_3929dsc_3988

Advertisements

4 thoughts on “Dear God, Is This Heaven?

  1. ka, kereeen bgt pemandangannya.. berasa ngimpi saya klu bisa kesana juga.
    Kakak traveling ny bnr2 sendirian ke switzerland ny? Ga takut ka? Hehe..
    btw, di tunggu bgt ka cerita selanjutny ttg travelling ny.. Suka bgt ka ^^ ka, klu bisa ceritain makanan khas dsn ka, jd penasaran.. Hehe

    1. Hahaha ga sempet makan disana, cm makan rotinya org French, kalo ke resto super mahal, jd ga semlet nyicipi makanan lokal,, iya lain kali aq cerita pas aku ke jepang sama ke turkey heehehehehe, makasih dah baca yaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s