Lika-Liku Beasiswa Luar Negeri

1f35376Beasiswa luar negeri adalah mimpi banyak mahasiswa Indonesia. Terang saja, teknologi yang lebih maju membuat kesempatan belajar menjadi lebih luas. Selain itu, merasakan kehidupan di luar negeri sendiri juga merupakan pengalaman yang langka. Sayangnya, banyak yang mengeluhkan perihal sulitnya memperoleh beasiswa luar negeri. Selain informasi yang minim, ‘konon’ beasiswa luar negeri hanya bisa diperoleh mereka yang sangat pintar dan sangat tekun. Jangan mudah percaya, karena ternyata beberapa mahasiswa UM berhasil meraih beasiswa ini dengan satu resep, tidak putus asa. Simak saja kisah beberapa mahasiswa alumni UM yang berhasil meraih kesempatan menimba ilmu di negeri orang ini.

“Mendaftar dan lengkapi aplikasinya. Biasanya para pemburu beasiswa tidak terlalu serius mempersiapkan aplikasi lamarannya untuk beasiswa, sehingga pada saat deadline, aplikasi tersebut belum sempurna,” jelas Ziadatul Hikmiah, salah satu alumni UM peraih beasiswa short course program Study of United States Institute (SUSI) oleh Pemerintah Amerika Serikat. Senada dengan Zia, Rendy juga mengedepankan pentingnya keseriusan dalam berburu beasiswa luar negeri. “Beasiswa itu bukan dipancing, tapi dijaring,” kelakar Rendy Bharata Putra saat ditanya mengenai resep berburu beasiswa luar negeri. Mahasiswa lulusan UM angkatan 2008 ini berhasil memperoleh beasiswa pemerintah Cina sejak tahun 2013 lalu. Rendy yang dulunya merupakan mahasiswa Teknik Sipil UM ini, melanjutkan studinya di Jurusan Ilmu Transportasi dan Mesin di Beihang University, Beijing, Cina. “Saya mendaftar beasiswa di tiga negara, dan diterima di Cina. Semakin banyak beasiswa yang diikuti, akan semakin besar kemungkinan mendapat beasiswa,” lanjutnya.

Rendy berburu beasiswa luar negeri sejak ia masih menjadi mahasiswa UM. Ia menghabiskan masa kuliah S1nya dengan mengikuti kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). “Jangan mudah menyerah saat harus berurusan dengan LoA (Letter of Acceptance). Cari informasi kampusnya, dan kirimkan persyaratan sesuai dengan yang tertera. Biasanya hanya berupa formulir dan sertifikat TOEFL atau IELTS. Beberapa negara seperti Inggris mensyaratkan pengiriman aplikasi hardcopy. Namun, di Australia hanya dikirim online saja. LoA bukan syarat yang berat. Nyaris semua mahasiswa bisa mendapatkannya. Bagi yang bahasa Inggrisnya rendah, biasanya hanya mendapat LoA conditional, tapi itu tetap bisa diterima. Nah, setelah mendapatkan LoA, peluang untuk meraih beasiswa bisa semakin lebar,” lanjutnya.

Rendy juga menambahkan beberapa informasi penting terkait beasiswa luar negeri. Misalnya, bagi pelamar beasiswa ke universitas di AS, kegiatan sosial seperti donor darah atau penanaman mangrove akan menjadi nilai lebih yang sangat dipertimbangkan. Selanjutnya, pengalaman kerja yang sesuai dengan bidang studi yang dituju juga harus diperhatikan. Biasanya, beberapa beasiswa seperti Chevening Scholarship, mensyaratkan minimal dua tahun bekerja. Menjadi guru di daerah terpencil atau PNS, akan membuat peluang semakin besar. Rekomendasi dari atasan juga merupakan poin tersendiri bagi pemburu beasiswa pelatihan kerja. Nah, bagi mahasiswa luar Jawa, peluang mendapatkan beasiswa terbuka lebar karena mayoritas beasiswa ini bertujuan untuk pembangunan yang berkelanjutan di Indonesia.

“Poin utamanya, adalah kemampuan para pelamar menghubungkan visi dan misi dengan pekerjaan yang digeluti sekarang, jurusan yang telah ia tempuh, dan program studi yang akan dia ambil. Pelajari background negaranya, serba-serbi kehidupan kampus di negara tersebut dan tentunya, seluk beluk program studi yang akan ia tempuh. Saat wawancara, hal-hal ini harus dipelajari dengan teliti,” pungkas Rendy.

Ragam Beasiswa Luar Negeri

Banyak beasiswa yang ditawarkan berbagai negara untuk mahasiswa internasional, yakni mahasiswa yang tidak berasal dari negeri sendiri. Yang paling populer misalnya Erasmus Mundus (Eropa), Australian Awards Scholarship yang dulunya disebut Australian Development Scholarship, Endeavour Scholarship (Australia), New Zealand Development Scholarship (Selandia Baru), Orange Tulip Scholarship (Belanda), StuNed Scholarship (Belanda), Fulbright Scholarship (Amerika Serikat), dan Chevening Scholarship (Inggris).

Beasiswa-beasiswa ini menawarkan beasiswa penuh, artinya menyediakan biaya apartemen, tiket pulang-pergi, biaya makan, dan tentunya biaya kuliah. Sebanding dengan semua fasilitas yang ditawarkan, tingkat persaingan beasiswa ini pun lumayan ketat. Bagaimanpun juga, bukan berarti beasiswa ini mustahil diraih. Nah, pasti ada proses yang harus ditempuh demi mendapatkan beasiswa-beasiswa bergengsi ini. Berikut beberapa informasi dasar yang harus diketahui para pemburu beasiswa sebelum melamar ke universitas luar negeri.

Australian Awards Scholarship

Beasiswa ini cukup populer di kalangan mahasiswa Indonesia. Para peraih beasiswa akan melalui masa studinya di universitas-universitas di Australia sesuai dengan bidang studi yang diambil. Beasiswanya mencakup program Postgraduate (S2), dan Doctoral (S3). Syaratnya dengan melampirkan kopi akte kelahiran, KTP atau paspor, kopi Ijazah dan transkrip nilai dalam bahasa Inggris, original copy tes Bahasa Inggris IELTS atau TOEFL (bukan prediction test), referensi dari pembimbing bagi pelamar S3, dan proposal penelitian bagi program Master by Riset atau S3. Prioritas beasiswa ini adalah penduduk Papua, Papua Barat, NTT, NTB, dan Aceh, para Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan kaum perempuan.

Sementara bidang studi prioritasnya meliputi Sustainable Growth and Economic Management (Pertumbuhan berkelanjutan dan manajemen ekonomi), Investing in People (investasi untuk pembangunan manusia), Democracy, Justice and Good Governance (Demokrasi, Keadilan, dan Pemerintahan yang baik), serta Safety and Peace (Keamanan dan Perdamaian). Proses pendaftaran beasiswa ini biasanya dimulai sejak Mei hingga Juli tiap tahunnya. Formulir dan dokumen pendaftaran dikirim melalui perwakilan Australia Awards Scholarship di Indonesia di Jakarta Selatan. Informasi lebih lanjut bisa diakses melalui http://www.australiaawardsscholarshipindo.or.id.

Fulbright Scholarship

Beasiswa Fulbright diperuntukkan bagi para mahasiswa, profesional, dan seniman yang telah mengantongi ijazah S1 dan ingin melanjutkan studi S2 atau S3 atau riset di Amerika Serikat. Ada juga beberapa beasiswa short course selama dua hingga enam bulan belajar di Amerika Serikat bagi mahasiswa yang sedang menempuh S1.

Tiap jenis beasiswa yang ditawarkan AMINEF ini memiliki persyaratan tersendiri. Namun, secara umum para pelamar diharuskan memiliki IPK diatas 3.0, kepemimpinan yang baik, wawasan keIndonesiaan dan dunia internasional, keharusan kembali ke Indonesia setelah program selesai, dan sertifikat TOEFL institusional (min. 550) atau IELTS (min. 6.0). deadline pengumpulan berkas berkisar pada bulan April tiap tahunnya dan dikirimkan ke perwakilan USAID di Jakarta Selatan. Informasi selanjutnya dapat diakses dari http://www.aminef.or.id.

Endeavour Scholarship  

Beasiswa ini terbilang cukup kompetitif karena jumlah peraihnya yang sangat terbatas. Para mahasiswa yang berhasil meraih beasiswa ini akan belajar di universitas-universitas Australia dengan beasiswa penuh. Ada beberapa program yang ditawarkan, yakni Endeavour Postgraduate Scholarship (beasiswa S2), Endeavour Research Fellowship (beasiswa riset untuk S2 atau S3), Endeavour Vocational Education and Training (beasiswa pendidikan dan pelatihan kerja), dan Endeavour Executive Fellowship (beasiswa untuk para profesional).

Para pelamar disyaratkan harus berumur diatas 18, bukan warga Australia, telah diterima di universitas Australia pada semester depan (dibuktikan dengan Letter of Acceptance baik conditional atau unconditional), dan melengkapi dokumen pendaftaran (kopi akte kelahiran, KTP atau paspor, kopi Ijazah dan transkrip nilai dalam bahasa Inggris, original copy tes Bahasa Inggris IELTS atau TOEFL, referensi dari pembimbing bagi pelamar S3, dan proposal penelitian bagi program Master by Riset atau S3). Beasiswa ini biasanya dibuka pada April dan ditutup pada Juni tiap tahunnya. Informasi lebih lanjut bisa diakses melalui http://www.aei.gov.au/Endeavour.

Orange Tulip Scholarship Nuffic Neso Indonesia

Bermimpi kuliah di Belanda? Segera ajukan lamaranmu ke beasiswa satu ini. Yang bisa mendaftar dalam beasiswa ini adalah warga negara Indonesia yang memiliki ijazah dari institusi non Belanda dan tidak pernah studi atau bekerja di Belanda. Pelamar juga wajib menyertakan sertifikat IELTS (min. 6.0) atau Internet-based TOEFL (min.80). selain itu, pelamar juga diwajibka memiliki Letter of Acceptance atau surat tanda telah diterima oleh salah satu universitas di Belanda. Dokumen pendaftaran dikirim dalam bentuk soft copy ke ots@nesoindonesia.or.id. Informasi beasiswa ini biasanya tersedia tiap bulan November, dan pendaftarannya akan berakhir pada bulan April.

Erasmus Mundus Scholarship

Ingin kuliah di lebih dari satu universitas di Eropa? Bergabunglah dengan beasiswa satu ini. Erasmus Mundus membuka kesempatan bagi negara non Uni Eropa untuk menempuh program Magister Erasmus Mundus di negara-negara Eropa selama kurun waktu satu hingga dua tahun. Mahasiswa akan menjalani masa kuliah di sekurang-kurangnya dua dari tiga lembaga pendidikan yang terletak di dua negara Eropa yang berbeda. Misalnya, satu program konsorsium terdiri dari perkuliahan di universitas Belanda, Jerman, dan Prancis, maka mahasiswa/i akan menjalani perkuliahannya di Belanda dan Jerman, atau Belanda Perancis, atau bahkan Belanda, Jerman dan Prancis dengan beasiswa penuh. Program ini akan memberikan gelar ganda pada peraihnya. Pengalaman yang luar biasa, bukan?

Pelamar disyaratkan warga negara non Uni Eropa, belum pernah melakukan studi atau kerja di negara Unie Eropa selama lebih dari 12 bulan dalam lima tahun terakhir, telah diterima pada program Erasmus Mundus yang ditawarkan konsorsium (unversitas tertentu di Eropa), dan memiliki pengalaman akademik atau profesional yang sangat baik. Permohonan beasiswa disampaikan langsung pada masing-masing konsorsium.

“Selalu update berita beasiswa dari internet. Semua hal bisa diraih bukan dengan diam, tapi terus bergerak. Jangan pernah menyerah, winner never quits, and quitter never wins!” pungkas Zia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s