Asyiknya Sekolah Di Sawah!

11066536_1424924194482178_2935498153355337796_nPertama kali saya datang di MI Al-Ikhlas Kepanjen, saya cukup kaget dengan banyak hal. Pertama, siswanya. Jarang sekali saya melihat siswa SD yang terlihat begitu antusiasnya sekolah seperti yang saya lihat di sekolah ini. Anak-anak berebutan bersalaman dengan guru, dan sebaliknya guru juga terlihat bersemangat menyambut kedatangan para siswa. “Mereka selalu protes kalau sekolahnya libur panjang, “ ungkap salah satu guru menambahi keterkejutan saya.

Kedua, desain dan dekorasi sekolahnya. Sempat saya berdiskusi dengan pihak sekolah dan mendapati bahwa sekolah ini baru berusia satu tahun. Sebelumnya, sekolah ini satu gedung dengan TPQ. Setelah menabung dan mengumpulkan uang, sekolah akhirnya membeli sebidang tanah yang dikelilingi sawah, kebun pohon jati, dan rumah-rumah pedesaan. Sekolah pun dibangun dengan konsep sekolah alam, dimana gedung kelas berupa gazebo berisi maksimal 20 siswa, halaman yang ditanami sayuran, dan sepetak lapangan untuk tempat bermain. Di kiri dan kanan hanya ada sawah dan sungai kecil.

Ketiga, sistem belajarnya. Sang founder, Professor Wahyudi menjelaskan bahwa aturan pokok sekolah adalah tidak ada PR dan tidak ada LKS. Terobosan yang sangat berani, bayangkan berapa jumlah sekolah di Indonesia yang tidak menggunakan LKS? Profesor Wahyudi juga menekankan pentingnya pembelajaran yang menyenangkan pada para guru dengan pmebelajaran emlalui media maupun pembelajaran seraya bermain di luar kelas.

Maka saat bel istirahat dipukul, siswa pun semburat memanjat pohon, bermain layang-layang, bermain air di sungai atau sekedar berlarian dan main petak umpet di kebun. Tak ada lagi siswa yang termenung dan diam main ponsel di kelas (seperti yang biasa saya lihat di sekolah lain), atau sibuk mengerjakan PR. Saya yang melihat pun ikut tersenyum senang. Siswa jauh dari sentuhan teknologi; tak ada wi-fi, tak ada telepon genggam. Tapi, lihatlah senyum-senyum yang merekah itu. Semua orang pasti tahu, mereka semua bahagia dan senang sekali sekolah!

Aktifitas fisik sama pentingnya dengan belajar

“Nyaris seluruh siswa di Amerika manapun menghabiskan 100% jam belajarnya dengan duduk di atas bangku,” ungkap Tim Walker, seorang guru di Helsinki, Finlandia yang sebelumnya mengajar di Massachusets, Amerika. Celakanya, fenomena siswa duduk sepanjang pelajaran ini tidak hanya terjadi di Amerika, melainkan juga di Indonesia, dan negara lain.

Jelas ini adalah hal yang problematik. Seperti diungkapkan Tim, riset membuktikan bahwa aktifitas fisik akan mencegah obesitas, mengurangi resiko penyakit jantung, meningkatkan konsentrasi berpikir dan juga berdampak positif pada mental anak. Meski riset berkata begitu, toh, dunia pendidikan sepertinya tutup telinga dengan teori ini. Sekolah sibuk meningkatkan kualitas dengan menjejalkan sebanyak mungkin materi ke dalam kepala siswa. Caranya? Dengan menyuruh mereka duduk manis sepanjang pelajaran dan mencatat apa saja yang dianggap mampu melejitkan prestasi mereka. Kalaupun ada kegiatan lain, maka kegiatan ini akan berkutat pada presentasi di depan kelas.

Alhasil, siswa pun menjadi sangat pasif secara fisik, tak memiliki waktu untuk bersosialisasi dengan temannya, score-oriented, dan tentu saja: tidak bahagia. Inilah yang mendasari diluncurkannya sebuah pilot project di Finlandia pada 2010, dengan nama Finnish School on The Move. Program ini dirilis untuk menambah alokasi aktifitas fisik siswa di sekolah serta mengurangi masa duduk manis selama pelajaran demi meningkatkan aktifitas fisik siswa usia 7-18 tahun.

Pilot project ini dilakukan dengan membatasi masa duduk manis tak lebih dari dua jam dalam satu waktu, mewajibkan adanya aktifitas fisik dalam bentu permainan atau olahraga selama satu atau dua jam perhari, serta membatasi screen time (penggunaan media eletronik dalam pelajaran) hanya dalam dua jam tiap harinya. Pemerintah Finlandia juga memfasilitasi dengan memberikan sarana olahraga dan permainan pada siswa di usia 7-18 tahun.

Mengejutkan, dalam kurun waktu empat tahun, siswa dan guru Finlandia pun merasakan manfaat program ini, dimana para siswa tak lagi melulu termenung sambil bermain ponsel di jam istirahat. Siswa juga lebih mampu berkonsentrasi pada jam pelajaran. Selain itu, nilai-nilai pelajaran pun ikut membaik karena siswa lebih termotivasi untuk belajar.

*

Saya pun melanjutkan obrolan dengan guru di MI Al-Ikhlas. “Bagaimana dengan skor dan nilai para siswa? Apa dengan aktifitas fisik sebanyak ini tidak mengganggu prestasi mereka?” tanya saya. Dan sejalan dengan riset yang saya sebutkan lebih dulu, sejalan juga dengan tujuan Finnish School On The Move, sang guru pun menjawab, “Sama sekali tak mengganggu. Semuanya lulus ujian nasional dan ujian semester dengan nilai yang bagus juga. Nggak ada masalah. Saat anak-anak bahagia, saat itulah semua pelajaran bisa dicerna dengan baik. Mereka juga cenderung lebih kreatif, pemberani, dan juga bersosialisasi dengan optimal.” Saya pun mengakhiri kunjungan saya dengan harapan besar. Semoga sekolah seperti ini bisa jadi pilot project juga untuk Indonesia. Move!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s