(Unfinished) Roommate

Cho Kyuhyun

Lee Donghae

Lee Sora

Friendship, Romance

Seoul 2009

Seoul hujan lebat.

Aku baru saja turun dari bus saat mataku menatap seorang lelaki yang duduk tidak tenang di bangku halte. Ia juga melirikku. mungkin sedikit kaget dengan koper raksasa yang kuseret, atau beberapa tas plastik yang mengalungi lenganku.

Dengan setengah berlari aku mencapai naungan halte. Hanya aku dan pemuda itu. tidak ada orang lagi. Mungkin penduduk Seoul sedang sangat malas keluar rumah di musim hujan seperti ini. Sayangnya aku tak punya pilihan lain selain harus keluar hari ini dengan jinjingan yang beratnya bisa membuat tinggi badanku menyusut. Aku harus segera menempati flat yang kusewa hari ini, membersihkannya, membeli peralatan rumah tangga, membeli perkakas dapur, sayuran, dan juga buah-buahan.

Ini tahun pertamaku di Seoul. Setelah berbulan-bulan sakit kepala, aku berhasil diterima menjadi siswi di Sekolah Tinggi Sains Seoul. Salah satu sekolah menengah ke atas yang diperebutkan seantero warga Korea Selatan. Aku beruntung bisa menjadi siswi disini.

Aku mulai bersin-bersin. Aku tidak begitu suka kehujanan. Daya tahan tubuhku sedikit mengecewakan. Aku akan dengan mudah terserang demam atau flu jika terkena air hujan. Karenanya, aku sengaja memakai payung dan jas hujan sekaligus. Aku menyempatkan diri menutupi koperku dengan mantel hujan. Juga memasukkan tas-tas kertas yang kujinjing kedalam tas plastik.

Dua menit. Dan aku sudah siap menerjang hujan menuju flat baruku. Namun mataku menangkap bayangan lelaki yang duduk disebelahku. Dia tampak pucat. Dia juga bersin-bersin sepertiku. Apakah aku harus menyapanya?

“Aku baik-baik saja” lelaki itu bicara pelan sekali. Aku jadi harus sedikit menunduk demi mendengar kata-katanya. Dia bicara Seperti menebak isi kepalaku yang berniat menyapanya.

“Pakai saja payungku, aku sudah pakai jas hujan” kataku sambil menyodorkan payungku padanya. Ia mendongak menatapku. Sama sekali tidak terseyum. Juga tidak terlihat tertarik mengambil alih pegangan payungku. Aku berasumsi Mungkin orang Seoul memang tidak biasa menerima kebaikan hati orang asing. Akupun menarik lagi payungku. Mendadak tangannya memegangi ujung payungku. Aku melepasnya dan dia berdiri.

Aku bisa melihatnya sekarang. Seorang pemuda tinggi, dengan wajah sepucat vampir, dan mata tajam yang agak menakutkan.

“Terima kasih” katanya datar. Hanya dua patah kata. Tidak menoleh. Tidak juga menyapa.

Aku berjalan pelan dibelakangnya, menyeret koper dan meringis menahan plastik-plastik yang melingkari tangan dan lenganku. Sepertinya rumahnya sejalur dengan flat baruku karena dia terus berjalan didepanku. Aku kembali fokus dengan koper dan berbagai tentengan di tanganku. Ah, aku menyesal meminjaminya payung. Dia bahkan tidak membantuku membawa plastik-plastik merepotkan ini. Dia lelaki kan? Seharusnya dia menoleh dan menolongku menyeret benda-benda berat ini.

Sepuluh menit kemudian, bayangannya menghilang dibalik perempatan jalan. Mungkin rumahnya ada disana.

Aku menurunkan koper dan tas-tas platik dengan antusias saat melihat sebuah rumah dua tingkat dengan cat putih tulang didepanku. Itu flatku.

*

Lututku gemetar. Wajahku mengeras. Mataku panas dan  dadaku sesak.

“Maaf nona, Flat ini sudah terlanjur dihuni orang lain,” perempuan paruh baya itu berkata santun, “seharusnya nona datang lebih cepat dan membayar uang mukanya terlebih dahulu.” Aku menghela nafas dalam-dalam, mencoba menahan air mataku yang memenuhi tenggorokan. Perempuan paruh baya itu kemudian menutup pintu rumahnya sambil sekali lagi memohon maaf padaku. Butuh waktu lima menit sebelum aku menyadari dan menerima mimpi buruk ini. Flatku sudah dihuni orang.

Aku memandangi koper dan tas plastikku dengan pikiran kosong. Rumahku jauh di Gwangju. Ibuku tak punya cukup uang untuk menyewa flat lain selain flat ini.

“Hei,” kudengar satu suara menyela dari belakang punggungku. Seorang pemuda dengan tudung jaket memayungi kepalanya. Mataku buram oleh air hujan dari tudung mantelku. Aku tidak bisa melihat wajahnya.

“Kau kenapa?” tanyanya sambil menatapku menyelidik. Aku tidak menjawab karena takut saat mulutku terbuka aku akan menangis lagi. Pemuda itu menungguku menjawab sambil menghentak-hentakkan kakinya ke aspal. Dia kelihatan tidak sabaran dan mulai menggaruk belakang kepalanya.

“Kau tinggal disini?” ia bertanya lagi. Aku menggeleng.

“Kau sedang apa? Tidak kedinginan?” dua pertanyaan meluncur dari bibirnya yang pucat kedinginan. Sekali lagi aku tidak menjawab dan hanya menunduk.

“Ah, baiklah, baiklah.. terserah kau saja. Kalau kau butuh bantuan, aku tinggal di flat sebelah nomor sebelas disebelah belokan itu” telunjuknya mengarah ke perempatan jalan dua meter didepanku.  “Dan namaku Lee Dong Hae,” katanya sambil menunjuk wajahnya sendiri. Merasa kuacuhkan, pemuda itu  meninggalkanku sendirian. Aku berdiri didepan pagar mantan flatku ditemani koper-koper menyebalkan dan tas-tas plastik yang sangat mengganggu.

Aku diam sambil menggigiti telapak tanganku. Tidak tahu harus melakukan apa. Semua ini terlalu baru dan asing untukku. Flatku dihuni orang, aku berada di kota besar Seoul yang tak pernah kukunjungi, dan lagi, aku tak punya kenalan disini.

*

Jam berapa ini?

Tanganku mulai kebas karena terguyur hujan tiga jam. Aku menundukkan kepalaku sambil memegangi pegangan koperku. Kepalaku pusing dan kurasa aku akan segera pingsan setelah ini.

Pikiranku mulai terganggu dengan rencana sintingku menabrakkan diri didepan mobil manapun yang lewat. Aku takut mati tertabrak, tapi aku juga takut mati kedinginan. Mana yang lebih baik? Kurasa mati tertabrak mobil terlihat lebih keren. Semoga saja aku tidak mati. Semoga aku tidak kehilangan anggota badanku. Dan semoga aku berhasil.

Mobil yang kutunggu tak juga lewat. Hanya ada dua sedan butut yang lewat sepuluh menit yang lalu. Aku tidak mau mengambil resiko menabrakkan diri pada benda kuno yang mungkin saja justru rusak karena kutabrak, sementara aku tidak terluka. Mesin-mesin jaman dulu tidak patut dimasukkan dalam rencana bertahan hidupku. Mesin-mesin kuno itu bisa berkhianat dan malah memposisikanku sebagai pelaku perusakan mobil dan dimintai ganti rugi atas kelakuan anehku.

Pada akhirnya, mataku menangkap sepeda motor merah darah berbelok di perempatan jalan. Aku memutuskan ini saat yang tepat. Pasti. Aku akan menjatuhkan diriku tepat didepannya. Mungkin aku hanya akan tergilas sedikit, atau lenganku lecet sedikit jika hanya terantuk sepeda motor yang tidak sebesar mobil. Semoga seperti itu.

Aku melangkah setengah meter. Meninggalkan koper dan tas plastik dibelakangku.

Mataku tertutup. Tuhan, restui aku. Jangan cabut nyawaku sekarang, aku masih harus belajar dan bekerja.

Satu.

Dua.

Tiga.

Kenapa tidak sakit? Dan kemanakan perginya  suara ‘Brak’?

“Hei, kau sedang apa?” suara lelaki itu lagi. Bukankah ini suara Donghae? Aku mendongak dan melihatnya turun dari motornya. Ia mengenakan mantel besar. Ia berjalan menghampiriku.

Aku diterjang panik. Tuhan, bisakah aku pingsan saja sekarang?

*

Aku dimana?

“Hei, kau sudah bangun?” satu suara asing menyerbu masuk telingaku. Ragu-ragu, aku membuka mata. Ternyata Tuhan mengabulkan doaku, aku benar-benar pingsan. Aku tersenyum sendiri saat mengingatnya.

“Kenapa tersenyum?” suara itu menyambung. Aku mengerjap-ngerjap dan agak kaget saat mendapati lelaki didepanku bukan Dong Hae, melainkan lelaki yang meminjam payungku tadi sore. Lelaki dingin yang seenaknya membawa pergi payungku tanpa membantuku membawa bawaanku yang menggunung.

“Dong Hae sedang keluar. Sebentar lagi pasti dia kembali. Aku sudah memberitahunya kalau kau sudah bangun” katanya sambil menyodorkan segelas air putih padaku. Aku melirik matanya dan minum air putih darinya dalam satu tegukan. Mata pemuda ini membuatku gugup. Rasanya seperti sedang melihat mata pengawas ujian di kelas.

“Oh, Maaf. Ini milik Dong Hae. Pantas saja kau pingsan lama sekali. ” Kyu sedikit berjongkok untuk menarik dua potong kaos kaki yang tertindih kepalaku. Pantas saja aku mencium bau busuk dari tadi.

“Kamar mandinya ada disana” katanya singkat setelah menaruh kaus kakinya di keranjang cucian. Ia berdiri, meraih kenop pintu dan keluar tanpa bilang apa-apa lagi.

“Namaku Sora” kataku setengah berteriak sebelum ia menutup pintu kamar.

Lelaki itu menoleh tanpa merubah wajah datarnya.

“Ya” jawabnya singkat.

“Namamu siapa?” tanyaku mencoba lebih ramah. Manusia batu didepanku itu menatapku aneh.

“Kyuhyun” lagi-lagi jawabannya sangat padat.

Jeongmal Kansahamnida Kyu” kataku setengah membungkuk. Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya keheranan.

“Kenapa?” tanyanya.

Aku jadi sedikit gugup. Merasa yang kulakukan sedikit berlebihan.

“Karena sudah menolongku” jawabku dengan nada tercekik.

“Jangan begitu. Hae yang menolongmu. Bukan aku, berterimakasih saja padanya” katanya acuh. Tangannya sudah memegangi kenop pintu ketika dia menyunggingkan sedikit senyum aneh.

*

Hae datang setengah jam setelah mataku terbuka. aku sudah mencuci wajahku dan juga mengganti pakaianku. Selama setengah jam itu juga, aku berusaha keras untuk tidak menatap Kyu yang duduk tenang di ruangan sempit tepat didepan pintu kamar yang kutempati. Itu tidak terlalu sulit, karena Kyu sendiri juga tidak berminat mengalihkan matanya dari komputer didepannya.

“Hai, kau sudah baikan?” Hae menyapaku sesaat setelah ia mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Rupanya ia sudah pulang. Benar kata Kyu, dia memang hanya keluar sebentar.

Aku mengangguk sambil tersenyum sedikit.

“Jadi, kapan kau akan pulang?”

*

Seoul 2011

“Kau yakin ini makanan manusia?” Hae mengaduk makanan di mangkoknya sambil meringis.

“Tentu saja. Aku mendapat resepnya dari internet, kemudian kupadukan dengan resep dari nenekku. Sebaiknya diberi nama apa ,Kyu?” tanyaku sambil menoleh kearah Kyu yang belum menyentuh makanannya sama sekali. Ia menutup bukunya dan menaruhnya diatas meja.

“Biar kucoba dulu, baru kita putuskan namanya”

Aku menuangkan sesendok sup ke mangkok Kyu dan sesendok lagi ke mangkuk Hae. Aku menyumpit sayuran di mangkok Hae dan memaksanya membuka mulut. Anak itu berteriak histeris saat sesendok sayur kol memasuki mulutnya.

“Kenapa rasanya seperti kaus kaki?” omelnya kejam. Aku meghela nafas menahan emosi sementara Kyu yang duduk disebelahku hanya tergelak mendengar percakapanku dengan Hae.

“Kau pernah makan kaus kaki?” tanyaku balik. Hae memandangku sambil mendesis. Tangannya tidak lagi menyentuh sumpit.

“Kau yakin tidak memasukkan rendaman kaus kaki dalam supmu ini kan?”  ia mengulang pernyataannya dengan wajah malas. Aku membanting sumpitku keatas meja. Anak ini memang kadang sangat menyebalkan. Mulutnya seperti kuah neraka.

“Apa maksudmu? Aku memasaknya dengan penuh perasaan. Tidak bisakah kau bohong sedikit demi menjaga perasaanku? Salah siapa kau menyuruhku masak?” aku menghardiknya sambil menudingkan sendok sayur kedepan wajahnya.

“Aku sudah bohong sedikit. Kalau aku mau jujur, rasanya bahkan lebih buruk dari rendaman kaus kaki. Lain kali masak jangan hanya pakai perasaan, pakai indera perasa! Aigoo.. sebenarnya aku tidak suka membuang-buang makanan seperti ini, tapi sebaiknya ayo makan diluar saja, perutku bisa beranak kalau makan sup kaus kaki ini”

Sup yang kumasak sepenuh jiwa dan raga, yang demi sup ini dua jariku harus diplester, dan pemuda tidak sopan didepanku ini menyebutnya ‘sup kaus kaki’!

“Aku benar-benar ingin mencekikmu” kataku sambil menggeram. Hae bangkit berdiri dan menarik tanganku sambil menepuk puncak kepalaku.

“Ayo berdiri, aku yang traktir” katanya santai. “Jangan melotot seperti itu Sora, aku tidak bermaksud menghina masakanmu, hanya saja kau tahu sendiri, aku hanya mencoba menyelamatkan perut kita bertiga. Masakanmu mengerikan.” lanjutnya.

Aku melotot dan menjambak rambutnya. Anak itu berteriak jengkel sambil menyumpah-nyumpah minta dilepaskan. Kyu menarik tanganku dan menyeretku keluar flat. Kami bertiga berjalan bersisian menuju kedai penjual jjangmyeon didekat lampu penyeberangan. Itu kedai favorit Kyu. Selain murah dan dekat, kedai itu juga menyediakan teh hangat gratis untuk pelanggan harian seperti kami bertiga.

“Kau sudah baikan?” Hae melirikku yang berdiri disebelah Kyu.

“Apa?” tanyaku kesal.

“Jangan marah” katanya sambil melirikku lagi. Kyu memegang tangan kanan Hae dan tangan kiriku.

“Kalian berdua bisa lanjutkan nanti. Aku mau makan. kalau kalian masih ingin adu mulut, jangan dekat-dekat denganku.” Katanya sambil melengos meninggalkanku dan Hae yang kemudian berlari-lari kecil menyusulnya.

*

“Apa kabar Umma-mu?” Kyu membuka mulutnya setelah selesai menenggak dua gelas air. Seperti biasa, piringnya penuh dengan sayuran yang tidak pernah sanggup ia telan. Ia tidak suka makan sayuran. Jika Hae yang memesan makanan seperti hari ini, sudah bisa dipastikan setengah piring kami akan penuh dengan sayuran. Hae sangat menyukai makhluk hijau-hijau itu.

“Baik.” Kataku sambil menyeruput sisa kuah di mangkukku. Hae menjawil pundakku sambil mengarahkan dagunya ke wajahku. Artinya, mulutku belepotan. Kyu menyambar selembar tissue dan menyodorkannya padaku. Aku mengambilnya, mengelap mulutku, lalu kembali menyeruput sisa kuah di mangkukku.

“Ya Tuhan, kau mau menghisap mangkuknya? Kuahnya sudah kering, Sora. Kalau kau masih lapar, kau bisa pesan lagi,” Hae menyahut, “Kyu yang bayar.” lanjutnya sambil tertawa. Hae suka membesar-besarkan hobi makanku. Baginya, itu memalukan dan patut dibicarakan.

Aku mengintip mangkukku yang memang sudah sangat bersih dan memutuskan untuk tidak menimpali Hae.

“Apa Umma-mu masih ingin bertamu ke Seoul?” Kyu bertanya lagi, mengacuhkan interupsi Hae.

“Ya. Aku sedikit pusing kalau Umma memaksa kesini lagi, bagaimana menurutmu? Aku sudah kehabisan alasan mencegahnya datang ke Flat kita.” Keluhku. Selama dua tahun ini, aku hidup bersama dua lelaki asing yang bukan kerabatku. Selama dua tahun ini juga aku berbohong pada Umma-ku bahwa aku tinggal di Flat bersama dua teman wanitaku. Sementara Kyu dan Hae berbohong ke seantero Blok bahwa kami bertiga sepupu.

Sebenarnya aku bisa saja pindah ke flat lain yang dihuni perempuan. Lalu bagaimana dengan sewanya? Sementara di flat ini, aku tidak perlu membayar. Aku hanya harus rajin membersihkan kamar Kyu dan Hae dua kali sehari. Pendeknya, aku adalah pembantu di flat mereka berdua. dan rahasia kami bertiga selama ini cukup aman. Tentu saja, lagipula kami juga tak pernah macam-macam ataupun kelihatan mencurigakan didepan banyak orang.

Satu-satunya masalah hanyalah Umma-ku yang keras kepala ingin berkunjung ke Seoul untuk melihat flat tempatku tinggal. Aku sudah mengajukan berbagai macam alasan, dan kali ini aku benar-benar kehilangan akal.

“Kau bisa bilang kau sedang sibuk ujian” Hae menjawab asal. Ia mengajukan alasan yang sama bulan lalu.

“Aku sudah bilang begitu bulan lalu.” Sahutku setengah putus asa.

“Sebaiknya bilang saja kau tidak keberatan,” Kyu memandangku serius, “Lalu, sebelum Umma-mu berangkat, baru kau buat alasan darurat untuk melarang Umma-mu kesini. Dengan begitu Umma-mu tidak akan curiga. Kalau kau selalu menolak dikunjungi, itu akan terdengar mencurigakan.”

Hae mengangguk-angguk sambil menaruh sumpitnya diatas mangkuk.

“Kyu benar. Kau bisa bilang temanmu mendadak sakit dank au harus menemaninya di Rumah Sakit” sambungnya semangat.

Aku mencibir. Mendesis malas.

“Jangan main-main dengan penyakit seperti itu. Bagaimana kalau temanku nantinya benar-benar masuk Rumah Sakit?” protesku sengit. Hae mengedikkan bahunya.

“Aku tidak punya teman selain kalian. Kalian tahu maksudku?”

Butuh lima detik bagi Hae untuk memukul kepalaku dengan sumpitnya saat sadar yang kumaksud temanku yang bisa masuk rumah sakit, adalah dia dan Kyu.

*

Awal tahun pelajaran merupakan moment sakral untuk menulis target-ku setahun kedepan. Kyu mengajariku untuk selalu membuat catatan akhir tahun dan awal tahun yang menceritakan apa saja yang berhasil kulakukan selama setahun dan apa saja yang gagal kucapai setahun ini.

Aku menyeujui rencananya. Aku sudah melakukannya setahun yang lalu. Bedanya tahun ini, ada Hae. Anak pemalas itu ikut membuat catatan awal tahun. Dia bilang dia harus serius belajar tahun ini.

Kami bertiga tidur berjejer diatas karpet tipis  ruang tengah. Memegang pulpen dan buku catatan seadanya. Setelah satu jam, Hae mulai berisik memaksa kami berdua membacakan catatan awal tahunnya.

“Baiklah, karena kalian berdua terlalu banyak aturan, biar aku saja yang membaca catatanku lebih dulu,” Hae melirik kami berdua yang tidur terlentang disebelahnya, “Pada tahun ini, aku ingin lulus SMA.”

Aku dan Kyu mengerutkan kening menunggu lanjutan kalimatnya, namun rupanya Hae memang hanya menulis kalimat itu.

“Seharusnya lebih spesifik, seperti kau ingin lulus dengan nilai berapa.” Sahutku tidak sabar. Kyu diam tak menanggapi. Hae mendongakkan kepalanya melirik langit-langit ruang tengah, kelihatan berpikir.

“ Aku hanya ingin lulus. Terserah dapat nilai berapa.” Jawabnya cuek. Kyu tertawa sambil memukul kepala Hae.

“Sesederhana itu?” kataku memastikan. Hae mengangguk yakin.

“Lalu apa yang lain?” Kyu mengalihkan topic pembicaraan. Pada dasarnya, kami bertiga sudah sama tahu bahwa Hae memang tidak suka mengurusi nilai pelajarannya. Hae malas dan memang tidak dikaruniai kelebihan berpikir layaknya Kyu. Mungkin semua kelebihannya telah Tuhan pusatkan pada wajahnya, hingga rasa-rasanya Hae tak punya kelebihan lain selain wajahnya itu. dan Kyu adalah orang yang paling malas berdebat masalah pentingnya sekolah dihadapan Hae. Anak itu akan menguap terang-terangan dan menyahut seenak jidatnya, “Belajar atau tidak belajar adalah hak warga Korea yang dijamin Undang-undang. Oke?” Kemudian percakapan kami akan berakhir disitu.

“Aku ingin berlibur ke Jepang dan kuliah disana.”

Kalau aku boleh jujur, tawaku sudah meledak dalam perut. Namun wajah Hae yang kelihatan sangat berharap itu membuatku menahan tawa sampai sesak nafas. Kyu sama tersiksanya denganku. Dan sialnya Hae sama sekali tak merasa bahwa idenya konyol.

“Lulus dari SMA saja sudah mukjizat. Mana boleh kau berharap datang keajaiban lain yang membuatmu diterima kuliah di Jepang? Ya Tuhan, mimpimu menakutkan.” Sahutku.

Hae mendorong kepalaku dengan jari telunjuknya.

“Jangan berlagak seakan kau siswa pintar ,Sora. Kau hanya satu strip lebih pintar dariku, jadi jangan pasang muka sok jenius seperti itu, Orang bisa salah paham.” Hae menyahut senang.

“Setidaknya aku masih punya peluang  lebih besar untuk kuliah di Jepang”

*

Argh, hahahha, lagi2 saya putuskan nggak selesai!

36 thoughts on “(Unfinished) Roommate

  1. aih.. Kenapa donghae bsa ktularan mulut bracun’a kyu?? Kebayang kalau 2 org kya gtu tinggal sma2.. Psti’a ribut trus.. Hahaha..
    Fidaa.. Ini seru bgt.. Sayang ga lanjut..
    Ditunggu karyamu yg lain..

  2. uda baca di fb si sebeneren …
    tapi ku baca lagi …
    bagus lho cerita nya …
    lanjottt yya thoorrr …
    hog n mr.headston nya mana nii ,,
    da kngen berat ni fida …
    pegen baca cerita lucu itu …

  3. Kalo baca cerita yg gak dilanjutin tuh kaya suka sm oorg udah lama tp gak di nyatain.. Jadinya gregetan hahaha
    Syg sekali ini gak lanjut lagi😦
    Padahal udah klop nihh heeheheh

  4. ini side story nya ff dear buddy ya???
    suka bgt sm chemistry antara kyuhyun-sora-donghae…..:-)

    kayaknya skrg author fiida lg suka bk oneshot yg ngegantung ceritanya…hahahahahahaha

  5. entah knpa saat mmbca crta ini aku mlh trngat sma prshbtan harry potter, harmone sma ron….
    ap hbngannya ya

    wateper lh…
    pkoknya crtanya bguus serasa bca novel bkn ff

  6. daebak kak fidaa!! pengen banget jadi sora, 1 flat sama kyuhyun donghae…
    keren kak ffnya, penulisannya juga bagus😀
    tapi… kenapa gak diselesain?!! waeyo?!!
    ayoo kak fidaaa lanjutin ff ini!!
    fighting!! ^^

  7. Klo bleh jujur, rada garing *peace
    Critana rada datar *peace

    Yah dah sgitu ja, sya binun mau ngoment pa gi..
    Cukup sekian n trima ksih

  8. Nyahahaha…
    Gimana bisa ada orang kaya gitu??
    #yaadalah
    Suka banget kalo liat KyuHae disatuin.
    #digantungsungmindimutilasieunhyuk

    Enak(?) Bener tuh nasib si Sora, ngga perlu kudu bayar uang sewa, cukup bersih-bersih doang, tinggal sama 2 orang namja tampan berlebihan(?) Dan kalo diliat-liat mereka bisa ngejagain dia lagi…
    #PLAKK

    Ngakak abis liat momen “Sup Kaus Kaki”…
    Waahhh, nih ff kudu harus dilanjutin nee…
    #bow

  9. yah? *melongo*
    nanggung amat thor! haha

    kt blm kenalan yak.
    kalo gt salam kenal fida. Aku Riri.

    TBMN ama Lost Empire favorite aku! ^^

  10. Maksudx ga bakal ada full versionx? Ini keren kalo jadi cerita penuh, ber part-part, bsa jadi temennya HOG n TBMN, kyu ama hae bersatu, yayy.
    Kyu-Sora-Hae, tebak-tebakan siapa yg bkal suka sama siapa, atau malah akan ada cast lain, haha *reader ngayal indah*.😀.

  11. Entah aku yg lemot, terlalu banyak baca FF tentang Kyu, ato gimana…
    Tapi aku suka ketuker-tuker, “Eh, siapa itu tadi? Hae apa Kyu? Kyu apa Hae?” #PLAK
    Paham maksudku ‘kan? Hampir di semua FF SuJu yg pernah kubaca (siapapun authornya) ada semacam pakem, Kyu itu “begini”, Donghae itu “begitu”.
    (Haa… bicara apa saya ini?!)
    Jadi, waktu mereka ‘kluar’ dari ‘biasanya’ aku jd bingung sendiri.
    Bukan berarti nggak bagus, lho. Aku suka karakter Hae. Cuma belum terbiasa aja, kekeke…

    Gaya penulisan (apa bahasa?) Fiida tambah dewasa nih. Komedi-nya kerasa, bagian seriusnya juga dapet! Keren!

    1. Makasiii… Makasiii dah baca (astaganaga yennn…. maaf belom sempet mampir ke blog kamu akhir2 ne.. lagi banyak tugas)

      Emang, sekarang lagi gak mood bikin yang komedi terus… hahahaha, mungkin karena kamu Shawol, jadi agak gak kebiasaan baca yang Suju… hehehehe…..

  12. Cerita yg unik, ringan, n lucu. Suka baca yg bgni, gk terlalu meras otak gr2 alur yg rumit.

    Dilanjut dong chingu, pamali klo macet d tengah jalan:-P

  13. aduh itu nasib sora beruntung bangeet kyaaaaaaa
    punya roomate yang cakep cakep dan bening bening gitu,iri banget -,-
    disini gaya bahasa yang dipakai keren banget aku suka gaya bahasanya,gk bikin bingung atau gimana pun
    unnie ffnya bakalan dilanjutin kan? i hope😀
    sekali lagi selamat buat sora aaaaaaaaaaaa >,<

  14. haaaaaa?????
    #ngos-ngosaan

    aku kira masih banyakkk,, udah terlanjur pose tiduran dii kasur biar enak bacanyaaa
    gleekkkk~~~~
    haaaa~~~ aku kira ntar sora bakal jadian ma hae or kyuuuu~~~

  15. Aigoo~ unni tu emg author daebak deh slalu d.tunggu deh karya”y yg kocak ..
    Kga penah bosen dah tp tp kalo publish jgn lama” dong

  16. lol kenapa tiba-tiba ngga selesai? haha xD aku reader baru disini, salam kenal eonni^^ ide awalnya bagus, tapi kenapa ngga dilanjutin, eonni? pasti bingung ya? hehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s