Dear Buddy 2#

Author: Guess Who
Casts: Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Lee Sora
Genre: Friendship, Romance
Length: Twoshot

Dear Buddy 2#

Oktober 2011
Aku dan Hae sedang bersepeda pagi ini. Minggu pagi yang cerah.
“Hae, apa kabar Maii?” tanyaku sambil menyeka dahiku dengan handuk. Mendadak saja aku teringat Maii yang belakangan tidak terlihat berdua-duaan dengan Hae. Sudah lama sekali sepertinya. Terakhir kali, mungkin saat Hae sedang terapi berjalan lima bulan yang lalu. Hae tersenyum sedikit, lalu memainkan sepeda kayuhnya tanpa melihatku.
“Kau tidak tahu?” ia balas bertanya.
“Apa?”
“Aku sudah putus lima bulan yang lalu, Sora. Kau benar-benar tidak tahu? Itu berita hangat di kampus tahu… aku yang tampan ini sekarang Single..” katanya bangga. “Oh, aku baru ingat.. Kau kan mati suri lima bulan..” katanya sambil tertawa meringis. Ia mengayuh sepedanya menjauhiku.
“Aish… Sialan sekali kau” makiku sambil menendang sepedanya dengan sebelah kakiku. Hae berkelit dan sepedanya selamat. Ia mendekat dari belakang. Menendangi ban belakang sepedaku.
“Tunggu, kau bilang kau Single? Berapa lama?” aku bertanya penasaran. Sejak mengerti pacaran saat SMP, anak itu tak pernah jomblo lebih dari sebulan. Ia selalu bisa memacari perempuan lainnya jika dia mau. Wajah tampannya itu memang benar-benar bencana.
“Hmm… mungkin lima bulan”
Mulutku seketika membulat. Bahkan sepedaku nyaris ambruk saat kaki Hae mulai usil menendang ban belakangku lagi.
“Kau? Kau waras Hae?” teriakku heboh. Ternyata bukan hanya aku yang tidak normal selama lima bulan ini, Hae lebih parah, lima bulan Jomblo! Ya Tuhan, apa kejiwaannya terganggu?
“Kaget? Aku juga. Dan aku masih waras, Sora. Kau yang gila” sahut Hae. Ia menjajari sepedaku. Kami mengayuh sambil saling melotot.
“Kau jomblo lima bulan Hae? Omona…. Mungkin gadis-gadis itu sudah sadar kau itu sialan..” sahutku senang.
Hae menabrak ban depan sepedaku.
“Katakan sekali lagi, dan aku akan melindas kepalamu.. Kau pikir karena siapa aku jomblo, hah?” katanya lagi. kali ini dengan nada sedikit emosi. Aku menyeringai dan tersenyum meringis.
“Memangnya ada hubungannya denganku?” tanyaku tak mengerti. Memangnya kenapa denganku? Dan apa hubungannya dengan Hae?
“Kau pikir ada perempuan yang mau pacaran dengan laki-laki yang selalu mengurus sahabat perempuannya melebihi pacarnya sendiri?” ia bertanya dengan mata lebar.
Keningku berkerut.
“Kau mengurusku? Kapan?” tanyaku bodoh.
Kali ini Hae menabrak sepedaku hingga aku jatuh ke aspal. Dia tertawa sambil menjulurkan tangannya menolongku.
“Sepertinya kau benar-benar sakit jiwa selama ini… aku bahkan mencucikan pakaianmu, membiarkanmu menginap di kamarku..”
Aku terkesiap.
Sepertinya ada yang bermasalah dengan kepalaku selama lima bulan ini.
Separah itukah aku?
Hae benar, mungkin aku bisa gila kalau saja aku tak menangis hari itu. mungkin aku akan kehilangan kewarasanku kalau aku tidak melepasnya saat itu. hae benar. Dia sering benar.
“Kenapa?” tanyaku spontan. Hae melirikku sekilas.
“Karena aku takut kau bunuh diri, Kau kan gila, jadi harus diawasi seharian penuh..” jawabnya santai. Aku mencopot helm sepeda di kepalanya dan menjitaknya.
“ Jadi, kapan kau siap jatuh cinta lagi?” ia bertanya seraya mengajakku duduk-duduk di balkon pemabtas jalan. Aku menatapnya malas.
“Jatuh cinta lagi? memangnya aku pernah jatuh cinta sebelum ini?” sahutku.
“Masih tidak mengaku? Tentu saja kau sudah pernah jatuh cinta…hanya saja kau terlalu bodoh untuk mengerti kalau itu namanya cinta, kau kan bodoh..” mulut Hae memang selalu sembarangan.
“Siapa? Kapan?”
“Oh, ayolah… aku takut kalau kusebut namanya kau akan pingsan…” jawabnya asal. Aku menendang lututnya. Membelalakkan mataku sok marah.
“Kau mencintai Kyu. Dan kau patah hati. Lalu kau gila lima bulan. Jadi, kapan kau siap jatuh hati lagi?” Tanya Hae datar. Aku kaget, dan mulutku tak bisa menjawab.
Aku mencintai Kyu?
Benar begitu?
“Kenapa?”
Aish, kenapa aku terus bertanya ‘kenapa’?
Hae tampak berpikir.
“Aku akan mencarikan lelaki yang memenuhi standar-ku dan tidak akan membuatmu patah hati lagi” katanya dengan muka bersinar. Aku mengernyit malas. Aku tidak tertarik dengan tawaran Hae.
“Kenapa harus pakai standar-mu?” aku bertanya ‘kenapa’ lagi.
Semoga saja Hae tidak bosan menjawab. Aku sedang setengah penasaran dengan kalimatnya barusan. Hae itu, kadang rumit. Rumit cara pikirnya, rumit juga cara bicaranya. Sebagai pendengar yang baik, sebaiknya semua orang rajin bertanya ‘kenapa’ tiap bicara dengannya daripada tersesat memahami kalimatnya yang sangat ambigu itu.
“Karena, Hmm… Karena aku takut kau patah hati, gila, lalu bunuh diri… jadi kau tidak boleh patah hati lagi, Sora” katanya bijak.
“Memangnya bisa ya?” sahutku.
Ia menoleh. “Apanya?”
“Jatuh cinta lagi..” jawabku cepat. Hae tertawa. Tangannya merangkul bahuku.
“Bisa..Pasti bisa.. asal kau mau berusaha..” katanya menggurui. Ia terlihat serius dan aku sedang bersemangat menanggapinya.
“Kau sudah melepasnya, Sora. Kau hanya perlu membuka hatimu dan jatuh hati lagi, setelah itu kau akan bahagia, dan aku bisa lega..”
Aku tercenung mendengar kata-katanya.
*
November 2011
Aku kaget melihat Hae. Jadi, ini maksudnya dia mengundangku ke restoran?
“Selamat Ulang Tahun, Sora” katanya dengan senyum manis mengembang. Aku meliriknya dan tidak bisa lagi menyembunyikan kekagetanku. Hae, ia ingat ulang tahunku. Benar-benar aneh. Biasanya ia selalu telat.
“Ucapkan permintaanmu, lalu tiup lilinnya”
Aku menurutinya. Membuat permintaan dan meniup lilinnya. Hae memotong kuenya dan menyuapiku sesendok. Setelah memaki mulutku yang belepotan krim kue, kami memutuskan kembali ke mobil.
“Mana kado-ku?” kataku sambil menodongkan tangan.
“Kau mau apa? Aku belum membungkus kado untukmu. Aku kan tidak tahu kau ingin apa..”
Sudah kuduga anak menyebalkan itu akan menjawab begitu. Mana bisa ia berpikir dan bertindak seperti orang normal?
“Kau bisa memberiku apapun yang menurutmu aku menyukainya. Itu baru namanya kado ulang tahun..” jawabku.
Ia tampak berpikir, dan senyumannya melebar.
“Aku akan memberimu sesuatu yang kupikir akan sangat kau butuhkan. Kau harus janji menerimanya seburuk apapun kadoku, bagaimana?” matanya mengedip jahil.
Aku jadi was-was.
“Kau tidak sedang akan menghadiahiku tahi ayam kan?” tanyaku takut-takut.
“Ide bagus. Mungkin itu akan jadi hadiahmu tahun depan. Tapi sekarang aku sudah punya kado yang lebih baik..”
Aku mengernyit. Semakin dia bicara panjang, maksud kalimatnya semakin kabur.
“Bukan makanan ikan kan?” aku bertanya lagi.
“Bukan” jawabnya cepat.
“Lalu apa?”
Hening sejenak. Ia tampak menghela nafas.
Entah kenapa, aku melihat wajahnya sedikit merah. Dan apa aku salah lihat? Dia kelihatan gugup!
“Peraturannya kau tidak boleh menolak, seburuk apapun kadonya. Janji?” ia mengulang pernyataanya dengan wajah cemas.
Aku mengangguk semangat. Mencoba menerka kado yang akan dia berikan.
“Aku… memberikan diriku untukmu sebagai kado ulang tahunmu hari ini… kau mau menerimaku, Sora?” seketika mulutku terkunci rapat.
Hae bilang apa tadi?
Hae, kau gila?
Hae, kau sadar yang kau katakan barusan?
Hae menatapku dengan matanya yang jelas terlihat takut.
“Hae, kau bicara apa?”
Hae menahan nafasnya. Mengelap dahinya. Menolehkan kepalanya, menatapku, menoleh lagi. Tangannya merebut tanganku. Menggenggamnya erat.
“Aku tidak meminta hatimu. Aku tahu. Aku tahu kau tidak bisa”
Suaranya sangat lirih dan nyaris menangis.
“Hae, kau bicara apa?”
Hae menggenggam tanganku semakin rapat. Tangannya menghalau anak rambut yang menempel didahiku. Ia memegangi pipiku. Dan aku, aku pasti kelihatan sangat bodoh.
“Aku tahu, aku tahu kau… Kumohon, jangan sedih lagi karenanya..”
Dia adalah Kyu bukan?
“Hae, aku tidak serapuh itu. Hae, kau tidak perlu menumbalkan diri untuk selalu disampingku hanya karena kau takut aku sakit” kata-kata itu lolos dari mulutku dengan lirih. Dunia mendadak hening. Hanya ada aku, Hae, dan kalimat kami yang berputar-putar.
“Aku sakit hati dua kali, Sora.. Aku selalu lebih sakit darimu..”
Aku tidak menemukan kata-kata lagi dalam kepalaku selain kalimat yang sama.
“Hae, kau bicara apa?”
Hae menangis. Tangannya tidak lagi menggenggam tanganku. Tangannya memebentang melingkari pinggangku. Ia memelukku dengan bahunya yang lebar. Ia sesenggukan seperti menahan sakit yang sangat. Hae sakit, aku bisa merasakannya.
“Maafkan aku, Sora. Dia tidak pernah melupakanmu”
Nafasku berhenti beberapa detik.
Kyu.
Dia bicara tentang Kyu.
“Aku akan mengatakannya sekarang. aku hanya tidak ingin kau sakit hati dua kali sepertiku, Sora”
Udara.
Aku butuh udara.
Nafasku sesak.
Aku takut.
Aku takut.
Aku takut.
Semua kemungkinan terburuk yang selama ini berputar di kepalaku. Aku takut mengetahui kebenarannya.
Aku takut, Hae..
.
.
.
“Kyu sudah meninggal”
.
.
.
Aku takut.
Aku takut.
Aku takut Hae tidak bohong.
“Sora, kau dengar aku?”
Tidak.
Aku tidak dengar apa-apa.
*
November 2011
Kyu meninggal.
Meninggal dalam perjalanan ke Gwangju. Dalam perjalanan menjenguk Hae. Kyu meninggal tertabrak mobil. Kyu sudah meninggal lebih dari setengah tahun yang lalu. Yang bodoh adalah, aku baru tahu sekarang.
Hae merahasiakannya untukku. Agar aku tidak sakit.
Tapi kau tahu, Hae?
Aku lebih sakit.
Kau selalu suka menyimpulkan sesukamu.
Hae,
Seharusnya aku tahu lebih awal.
Seharusnya aku tidak berharap sejak dia tidak muncul.
Seharusnya aku melihat wajahnya sebelum dia mengabadi disana.
Seharusnya kau bilang padaku, Hae.
Kau tahu, Hae?
Kadang kasih sayangmu membunuhku.
Dan kenapa kau masih punya nyali menggantikan posisinya?
Dia masih hidup, Hae.
Selamana, selamanya dalam hatiku.
*
Desember 2011
“Aku membawanya, Kyu. Kau sudah lihat dia? Dia memakai kaos putihku hari ini. seperti kataku dulu, Kyu, dia juga menyukaimu. Kau bodoh, kenapa mati sebelum kalian pacaran dan menikah? Tapi sepertinya aku harus selalu berterimakasih setiap hari untukmu karena memberiku kesempatan menyukainya, walaupun dia sepertinya sama sekali tidak peduli padaku. Bagaimana ini, Kyu? Bagaimana? Dia tidak menyukaiku, Kyu”
Aku menyundul kepalanya dengan tangan kiriku.
“Kau bodoh sekali, Hae”
Hae tidak peduli dan meneruskan ocehannya didepan nisan Kyu.
“Kyu, aku sedang bicara denganmu. Menjawablah, bilanglah padanya agar dia sedikit lembut padaku”
Aku menendang pantatnya dengan sepatuku.
“Berhentilah bicara Hae, kau terlihat kurang waras”
Hae tak bergeming. Asyik dengan curhatnya.
“Kau lihat dia, Kyu? Aku frustasi sudah jatuh hati padanya. Dari sekian banyak wanita, kenapa mesti dia yang aku sukai?”
Aku mulai tak tahan dengan bocah ini. sepertinya aku harus melakukan sesuatu.
Aku menjambak rambutnya.
“Kyu, dia berencana membunuhku!” Hae berteriak.
Aku menjewer telinganya.
“Mana ada orang mati karena rambutnya dijambak?” umpatku.
Hae meneruskan kebodohannya.
“Kyu, kau lihat? Kau lihat? Dia sama sekali tidak manis, Kyu! Bagaimana kau bisa menyukai wanita seperti ini, Kyu?”
Aku semakin tidak tahan.
Kali ini aku ingin mendorong tubuhnya hingga masuk liang kuburan.
“Aku pulang” kataku ketus.
Bocah itu segera gelagapan berdiri dan merajuk. Menebar rayuan-rayuan kadaluarsanya yang sangat berisik. Kami berakhir di jok depan mobil. dia menyetir, aku duduk disebelahnya. Dia terlihat berkosentrasi melihat jalanan.
Pikiranku terbang kemana-mana.
Teringat pertamakalinya menemani Kyu belajar menyetir. Ingat posisi duduk Kyu yang aneh saat berada didepan kemudi. Lalu aku teringat Hae yang duduk manis didepanku. Matanya sesekali melirikku lalu tersenyum-senyum sendiri. Hae selalu bodoh. Dan itu membuatku ingin menitak kepalanya. Hae menekan klakson karena sebuah truk melintas sembarangan didepan mobil kami.
Hening.
Kami berdua hening.
Aku salah, dia yang diam. Dia yang suka bicara. Aku tidak. Dia tidak bicara sejak menyalakan mesin mobil tadi.
“Kau kenapa?” tanyaku agak cemas. Hae tidak biasa diam. Hae tidak boleh diam. Karena bila Hae diam, dia sedang sakit. Dan aku tidak mau anak ini sakit sedikit saja. Hae terlalu baik untuk sakit hati. Hae tidak boleh sakit.
“Tidak ada” jawabnya singkat. “Jangan melihatku seperti itu, aku tahu aku sangat tampan”
Oh, dia sudah normal. Dia sudah kembali narsis.
“Hae, kau tidak ingin menanyakan sesuatu?” tanyaku memancing. Aku ingin kami membicarakan sesuatu daripada diam-diaman dan pikiranku tak bisa lepas mencemaskan perasaannya.
“Tidak ada” jawabnya lagi-lagi dengan amat padat. “Kenapa mendadak peduli?” tanyanya balik.
“Formalitas antar teman” jawabku asal.
Dia tersenyum kecut. Mungkin dia kecewa aku bilang ‘teman’.
“Oh,” sahutnya tidak penting. “Hari ini cerah ya?”
Oh, ayolah Hae, jangan mulai kelihatan bodoh..
“Hae,” aku angkat bicara. Kulihat wajahnya mendongak melirikku sekilas, lalu melihat kedepan lagi. “Rambutku panjang” kataku menyambung.
Dia tertawa hambar setengah mengejek.
“Memangnya kenapa? Kau mau aku bilang kau cantik? Baiklah, Ya ampun… Kau cantik sekali Sora”
Dasar Hae bodoh….
Selalu bodoh seperti bukan manusia…
Setelah bicara begitu, Dia mengerutkan kening. Seperti mengingat sesuatu. Mendadak rem mobilnya berdecit.
“Kau mau mati, hah?” makiku saat nyaris saja mobil kami diseruduk container dari belakang.
Hae, aku tidak pernah tahu bisa tersenyum selebar itu. ia memandangku seperti memandang Miss Korea. Aku jadi sedikit takut.
“Aku ingat, Sora. Aku ingat! Katakana, katakana, kau menyukaiku kan? Katakana, katakana, sejak kapan, Sora?” dia menjerit kesetanan.
Aku mendengus sambil memutar kontak mobilnya. Ia memegang setir, namun wajahnya menoleh kearahku. Mobilnya bergerak maju, tapi matanya masih belum lepas memelototiku.
Ya ampun, aku pasti sangat memalukan sekarang..
“Aku menyukaimu” Hae seperti seseorang yang baru dicekik lehernya, “Dan bisakah kau lihat kedepan saja? Menyetir yang benar, oke? Hya!.. Kau mau mati hah? Kenapa SETIRNYA DILEPAS?!!!”
*
Januari 2012
Aku, Kyu, dan Hae adalah sahabat dekat.
Kyu, Hae, Aku sayang kalian.
*
FIN
Dedicated for you, Ame Lee Raka.
Semoga suka.

44 thoughts on “Dear Buddy 2#

  1. sempet mangap lebar banget waktu tau kyu meninggal… dan melaksanakan one minute of silent, saking shock-nya hehe
    romance nya nyentil banget, dan humornya tetep nyubit hahaha
    daebak thor🙂

  2. wah onn berhasil membuat aq menangis bc ini,,,ahhh so sweet bgt,,,,onn bikin sequel y ya,,,aq bingung ini akhry sad atau happy ending,,,

  3. Terus gimana tuh jadinya?? Soora jadian ma hae kah?? Kurang detail fiida..

    Tuh kan dugaan aku bener, kyu metong kan?? Ommo, masih muda, ganteng udah dipanggil YME.. Hahaha#apasih bahasa gue..

  4. Duch bingung speachless di buat’y,…
    Perjalanan cinta yang unik dan mengharukan ,…
    Baru kali ini aku baca ff kamu sampe berkaca2,…

    Good luck, ff kamu selalu bagus n menghibur…

  5. Ka Fida, AKU NANGIS T_T
    aku tipe cepat tersentuh, tapi baru ff ini yg sukses bikin aku banjir air mata + ingus sebanjir ini #hallah

    sempet shock waktu Kyu mati. Rasanya nyesek banget. antara kecewa ‘kenapa harus mati ?’ & bahagia ngeliat donghae yg balik normal

    sekali lagi aku mau puji, SUMPAH INI BAGUS BANGET ka
    di tunggu karya selanjutnya,^^

  6. ini nyesek banget pas kyuhyun meninggal, tapi kecepetan pas pulang langsung bilang suka sama hae. jadi sebel juga plin-plan bot ya…. tapi ini berhasil mengeluarkan air mataku. hwehehehehehe

  7. ARRRRGHHHH nyeseeeeek abis Kyu meninggal dan sora gak tau TT_TT
    Tapi suka endingnya hahaha apalagi Hae akhirnya bahagia juga.

    Keren!! Daebak!!

  8. hehehe kupikir kau berubah haluan dari FF komedi ke romance, ternyata tetup sama gilanya walau embel embelnya romance…..
    dan aku ingin tanya satu hal padamu…..
    MENGAPA-FF-MU-SELALU-DAEBAK-HAH??????

  9. HUAAA keren eonn😀 kebetulan lagi mabok donghae akhir-akhir ini hehe~
    gak nyangka banget si kyu ternyata udah meninggal, aku shock..😮
    tetep ada unsur komedi2nya hehe, aku sukaaaa~

  10. Annyeong….
    Saya reader baru di sini…
    Awalnya tau blog ini dari temen yang negekomendasiin buat baca Dear Dubby soalnya cast-nya Kyu-Hae, bias saya. lebih penasaan dan tertarik lagi pas tau cast ceweknya, namanya So-Ra, kekeke nama korea saya kebetulan So-Ra juga, jadi deh mampi ke blog kamu….

    Pas baca part 1 langsung suka banget ma ceritanya, keren, seru, ampe sempet bengong bentar, “nie FF romantis pertama ajah langsung bagus gini, apalagi kalo udah sering”….

    Saya suka ceritanya, So-a perasaannya ngalir gitu ajah sama Kyu, tanpa dia sadari…
    Yang paling ngenes ya pas Kyu meninggal, banjir air mata hiks….

    Buat kedepannya, moga bisa bikin FF romance sebagus nie lagi ya, semangat!

  11. huweee hiks g nyangka masa kyunya mati si??
    but bagus bangeet g terduga hae makin hari makin gombal aj kekeke
    okelah daebak!

  12. Dear buddynya bagus sekaliiii

    Mata aye udah berkaca kaca dipertengahan…. Ngakak juga pas di pemakaman… disitiu si sora bisa nangis kok malah jitak jatakan ama kyu,
    Ditengah2 aku udah filing klo ada yang gak enak.. mikir dah kayaknya kyu ternyata punya penyakit kaknker PANUdara (penyakit apa ini…?.)

  13. Kaya gimna coba sakit hatinya hae??
    Daleeemmmm! Hiks😥
    Si hae kenapa jd autis di depan nisannya kyu sih?? Hahaha
    Kocak!! Ngoceh mulu jd org hahahaha
    Akhirnya rambutnya panjanggg horeeeeeee😀

  14. Eonni….. Kau hebat bgt!!!
    Bagaimana bs ff ini feelnya dlm bgt ><
    sumpah eonni, aku kaget bgt mendengar hae mengatakan klo KYU MENINGGAL
    -jantung aku rasanya langsung jatuh bergelindingan kebawah
    ya ampun… Nyesek bgt ff nya
    hiks aku suka bgt eonni…..
    Sungguh
    ff nya DAEBAK
    Aku gk bo'ong!!!

  15. Spechless Fiida..

    Aku baru baca dan entah mengapa…eum..
    Apa yah…
    Ga tau deh. Pokoknya daebak Fiid!

    Aku suka Hae di sini… >///<

  16. Omona. . .omonaaa. . .daebakk ! Ak suka semua ff karya Fida eonnie,gag ada yg jelèk. . .#tersenyum tulus. . .buat ff lg donkz2. . .#memelas,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s