Dear Buddy 1#

Author: Guess Who

Casts: Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Lee Sora

Genre: Friendship, Romance

Length: Twoshot

*Karena ini FF Romance pertama saya, dikoment ya… feel-nya dapet nggak?

Dear Buddy 1#

Aku Sora. Lee Sora, dan aku perempuan.

Lelaki berkacamata yang agak jerawatan disebelahku adalah Kyu, hmm, ketua OSIS yang anehnya mau jadi teman dekatku. Sekedar menambahkan, aku dan Kyu adalah dua manusia yang terlalu berbeda. Sifat kami bertentangan 360 derajat satu sama lain. Kyu adalah anak emas Kepala Sekolah, sementara aku buronannya. Kyu adalah siswa jenius di kelasnya, sementara aku berada di ranking kedua terakhir di kelasku. Kyu adalah tipe menantu idaman keluarga Korea yang tampan dan baik-baik, sementara aku sebaliknya, sama sekali bukan gadis yang manis. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana kami bisa berteman dan kenapa kami masih tahan berteman selama ini.

Sedangkan lelaki lain yang duduk disebelah Kyu, yang wajahnya bersinar seperti anak boyband itu adalah temanku yang lain, Hae. Sebenarnya aku cukup tertekan berteman dengannya, terutama dengan teman-teman gadis dikelasku yang empat diantaranya adalah mantan Hae. Ya, Hae itu playboy. Dia memang cukup tampan dan selalu sadar dia sangat  tampan sehingga hidupnya seolah didonasikan untuk menggaet dan mengoleksi perempuan. Mengapa kami berdua bisa berteman adalah rahasia alam yang tidak perlu diperdebatkan, karena hasilnya pasti akan masih membingungkan.

Aku, Kyu dan Hae adalah sahabat dekat, beda kelas, dan satu blok di distrik GwangJu barat. Kata Hae, kami bertiga berteman dekat karena Takdir, sementara kata Kyu,dia tak cukup percaya dengan orang lain. Kyu memang sedikit paranoid dengan orang baru, mungkin itu sebabnya dia bertahan berteman denganku dan Hae. Hanya aku yang berpendapat positif tentang mengapa kami berteman, “Aku sayang kalian”, dan dua sahabatku yang menyebalkan itu malah tertawa sambil mendorong kepalaku ke kiri dan kanan.

Kami, ibarat Kol, Cabai dan air, yang walaupun sangat berbeda, akan menjelma menjadi seporsi Kimchi yang lezat jika dicampur bersama.

*

Oktober 2010

“Dia telat setengah jam, Aish… pasti kencan lagi..” Hae mengomel untuk kesekian kalinya. Telingaku langsung tegak saat dia bilang Kyu, lelaki yang sedang jadi bahan omelannya, sedang kencan.

“Kencan?” tanyaku kaget. Jelas, aku kaget. Setahuku, Kyu tidak punya pacar, sama sepertiku. Dia lelaki yang sulit jatuh cinta, dan tidak akan punya cukup waktu untuk hal-hal kurang penting seperti itu.

“Ne.. Kau tidak tahu?” Hae menyahut tak peduli. Telinganya dibebat headset dan matanya menatap jalanan didepan bangku kayu yang kami duduki.

“Siapa?” tanyaku semakin kaget. melihat gayanya, sepertinya Hae sdang tidak bercanda.

“Lexio..”

Heh? Apa ada gadis Korea, ralat, maksudku apa ada anak sekolah kami memakai nama seaneh itu?

“Blasteran? Anak kelas mana?” aku semakin penasaran.

Dan Hae yang kurang ajar itu malah tertawa sampai terkentut-kentut. Aku memakinya dan menutup hidungku. Ya Tuhan, anak ini, kenapa kentut saat tertawa? Dan kenapa juga dia masih nekat tertawa kalau akhirnya terkentut-kentut seperti itu? Aku ini, bagaimanapun juga kan masih wanita, Hae benar-benar tak punya harga diri..

“Lexio… Komputer baru di Kantor OSis… sepertinya kau harus berkunjung kesana.. Kyu suka sekali dengan Komputer barunya, kau tahu, warnanya Pink!.. anak itu memang gila.. dan..” Hae menarik sebelah alisnya, “Kelihatannya kau syok sekali,hm? Kenapa? Kau mulai suka Kyu?” rentetnya.

Aku memukul kepala Hae dengan bungkus popcorn yang kutenteng sejak tadi. Dia meringis, namun masih memasanga wajah menyebalkan.

“Aigoo… apa otakmu terbang hah? Aku masih NORMAL.. jadi aku akan menikah dengan manusia..” jawabku emosi. Hae tertawa lagi, kali ini tanpa kentut, karena tawanya sudah tak seheboh tadi.

“Kyu kan juga manusia..” Hae berkomentar lagi.

“Bukan, dia itu mesin, mesin fotokopi, mesin cetak, mesin proyektor…Berapa kali harus kubilang kalau  Kau, dan Kyu itu bukan manusia..” kataku malas. Hae mencopot headset-nya, kelihatan tertarik dengan ucapanku.

“Kalau Kyu kau anggap mesin, aku bagaimana?” tanyanya sambil menopang dagunya dengan tangan kanan, berpose sok ganteng seperti hobinya. Aku menarik sudut bibirku sambil mendesis.

“Kau.. seperti Kentut..” jawabku asal. Dia tidak tertawa dan malah kelihatan bangga.

“Baguslah, kalau kau kentut kau akan ingat aku.. sudah kuduga kau sering memikirkanku..”

Ya Tuhan, anak ini…

“Aigoo… Kau pikir seperti Kentut itu pujian hah? Kau itu seperti kentut, Bau dan berputar-putar!” aku memakinya lagi.

“Aku hanya berpikir positif..” katanya sambil mengalungkan tangan kanannya ke bahuku. “Lagipula, kau jatuh cinta padaku, itu hanya soal waktu… Tinggal menunggu Timing yang pas.. saat kau dewasa nanti..”lanjutnya bijak.

Aku berjengit.

“Omo.. Hae.. Aku bersumpah akan memanjangkan rambutku kalau aku sampai suka padamu!..” teriakku heboh. Ia masih merangkul pundakku dan sekarang malah menaruh kepalanya di bahuku.

“Memanjangkan rambut? Ah, Aku tak sabar melihatnya… pasti manis sekali..” katanya dengan nada orang mengigau. Aku memukul kepalanya dengan tanganku sekali lagi, dan anak sinting itu malah tertawa lebih keras.

Saat itu, kulihat siluet Kyu yang berlari dengan ransel besarnya. Akhirnya, anak itu datang juga..

“Apa aku telat?” tanyanya dengan nafas putus-putus. Rambutnya berantakan dan keringatnya banjir. Ia menyeka dahinya dengan lengan kemeja. Ikut duduk ditengah-tengah Hae dan aku, membuat Hae yang menyandarkan kepalanya di bahuku, harus tergeser paksa. Kyu mengipas-ngipas wajahnya dengan buku tebal panjang yang mungkin isinya proposal.

“Filmnya sudah setengah jalan, bodoh..” Hae mengumpat. “Kemana saja kau?” tanyanya kesal. Kyu  nyengir, wajahnya kelihatan canggung, dan menjawab dengan singkat “ Kantor KepSek, Rapat” jawabnya.

“Nonton apa hari ini?” Kyu bertanya lagi. Kali ini padaku. Sabtu malam adalah jadwal reuni kami bertiga. Semenjak pisah kelas saat masuk kelas Tiga SMA, kami memang jarang bertemu. Aku sibuk dengan klub Taekwondo-ku, Hae sibuk dengan wanita-wanita buruannya, dan Kyu sibuk dengan urusan Osis-nya. Satu-satunya moment berkumpul kami adalah sabtu malam, entah kami akan nonton Film, atau hanya piknik didepan rumah Kyu. Tidak ada yang memaksa kami bertiga berkumpul, kami berkumpul karena kami menikmatinya, seperti sesi me-refresh otak, bicara dengan mereka berdua membuat setengah masalahku selesai. Mereka berdua mungkin juga punya alasan serupa mengapa mereka rela meluangkan waktu demi acara mingguan yang aneh ini.

“Kau Tanya saja pada Hae.. anak itu yang beli karcisnya..” jawabku sambil menyorongkan daguku kearah Hae. Hae merogoh sakunya dan mengeja judul Film yang akan kami lihat,

“Final Destination 4,” ejanya dengan bahasa inggris belepotan, “Aish,.. kenapa lihat ini lagi? aku sudah lihat kemarin Kamis..” Hae mengomel.

Aku dan Kyu meliriknya aneh. Dia yang beli tiket, dia sudah lihat filmnya, dan dia masih saja beli karcis film itu? Hae memang kadang bodoh, namun kali ini dia sedang sangat bodoh.

“Bukan aku yang beli… Yeo Ra.. kau ingat? Aku bilang akan menonton dengan Appa dan Umma-ku..” jelasnya seakan membalas pertanyaan di otak kami berdua.  Hae menonton dengan Appa dan Ummanya?. Appa-nya di Jepang, dan Umma-nya di Incheon. Dasar bocah pembohong. Kasihan sekali Yeo-ra..

Kyu manggut-manggut memaklumi dan aku menyahut,

“Mantanmu yang …” aku belum sempat selesai bicara.

“Ya.. yang pakai kacamata itu.. aish.. aku sudah lihat.. kenapa dibelikan yang ini…” ia masih merajuk. Aku menyenggol lengan Kyu dan kami tertawa bersama.

“Aku lihat bersama Yoojin kemarin Kamis.. .. apa aku harus lihat lagi?” tanyanya dengan muka frustasi. Aku mengelus rambutnya yang dihiasi jambul aneh. Dia membelalakkkan matanya seram sambil menyingkirkan tanganku dari jambul-nya.

“Ayo.. Kita kan sudah telat..” Kyu menyambar tanganku dan tangan Hae. Kami berjalan menuju jembatan penyeberangan. Bioskop ada diseberang jalan. Hae mendadak berlari, mengejar seseorang didepan jembatan penyebarangan. Aku tidak kenal, sepertinya Kyu juga tidak kenal. Ia bicara sebentar dan memberikan ponselnya pada orang itu. Hae berlari lagi kearah kami.

“Ayo.. foto denganku, lumayan kan, foto dengan orang tampan..” katanya sambil menyeringai lebar. Aku dan Kyu saling bertatapan.

“Boleh juga..” jawab Kyu, “Aku tidak punya foto bertiga..”

Aku ikut mengangguk sambil melihat Hae. Hae berdiri di sebelah kananku. Tangannya menggenggam tangan kiriku. “Tanganmu dingin sekali, kenapa tak pakai sarung tangan?” sahutnya. Kyu ikut menoleh mendengar omelan Hae, ia menyambar tangan kananku dan memasukkannya kedalam saku jaketnya yang tebal.

“Ini musim gugur.. aneh kalau aku pakai sarung tangan..” balasku tak mau kalah.

“Tapi kau kedinginan, bodoh, kau mau masuk angin dan kentut di kelas hah?” Hae menghujat lagi. Kyu mendorong dahiku dengan jari telunjuknya, “Menjaga kesehatan itu penting Sora..” nasihatnya. Aku melotot galak. Anak itu mendorong kepalaku berkali-kali sejak tadi. Memangnya dia pikir kepalaku ini bandul jam?

“Aish.. jangan berisik, ayo lihat Kamera.. kita kan sedang foto..” aku memasang senyum, tapi kamera Hae telah berkedip tiga kali sebelum senyumku mengembang.  “Hya!.. Kenapa tidak bilang ‘Kimchi’? aku kan sedang cemberut tadi… aish.. pasti fotonya jelek..”

*

November 2010

Aku bosan. Benar-benar bosan setengah mati. Kenapa Hae tidak datang juga? Aku lapar Hae!, mana buburku!

Terdengar gemerasak sepatu yang agak ribut dari luar kamar. Sepertinya seseorang tengah berlari ke kamarku. Dan kepalanya menyembul di pintu. Berlari buru-buru kearahku. Yang dia lakukan pertama kali adalah mendorong dahiku dengan telunjuknya.

“Pingsan lagi?” katanya marah. Aku meringis. Aku memang masuk rumah sakit karena kelaparan akibat telat makan saat latihan Taekwondo kemarin malam.

“Kau akan segera mati kalau hidup seperti ini terus, anak bodoh..” lanjutnya sambil menaruh tas besarnya di kursi. Ia mengeluarkan ponselnya dan tampak sedang mengecek sesuatu. Jadwal-nya mungkin.

“Kenapa kesini?” tanyaku singkat. Dan aku harus kena dorong dahi lagi karena pertanyaan singkatku itu. ia menodongkan layar ponselnya yang berisi jadwal kegiatannya hari ini. Kira-kira kesimpulannya, anak itu tak punya cukup waktu untuk menjengukku. Dan dia marah karena dia harus datang ke rumah sakit karena aku sakit. Pertanyaannya, apa aku salah kalau aku tiba-tiba sakit? Salah dia sendiri kenapa repot-repot kesini. Kan masih ada Hae. Lagipula, siapa juga yang menyuruhnya datang kesini? Ini kan bukan malam Minggu, jadi sebenarnya dia tidak harus kesini.

“Makan yang teratur itu susah, ya?” sindirnya galak.

Aku meringis sambil tersenyum setulus yang kubisa. “Tokonya tutup, Kyu.. aku tidak bisa beli makanan”

Kyu menarik sebelah bibirnya sambil melirikku kesal.

“Kau kan bisa memanggil aku atau Hae.. untuk mengantar makanan..” sahutnya tidak sabar.

“Telfonmu mati..” jawabku jujur. Memang kemarin malam aku kelaparan dan gagal menghubunginya hingga dalam perjalanan pulang ke rumah, aku pingsan. Pagi buta aku dibawa ke Rumah Sakit. Hae yang bersikeras membawaku kesini. Dia bilang dia takut aku mati, sialan sekali anak itu. dan sebenarnya memang wajar dia agak berlebihan seperti itu. Aku pernah harus operasi usus buntu karena telat makan.

“Hae juga tidak bisa dihubungi..” lanjutku lagi.

Kyu menghela nafas. Aku menangkap ekspresi bersalahnya sekilas sebelum kemudian segera berubah galak lagi.

“Kalau kau terus lupa makan begini, tidak usah ikut turnamen saja.. atau aku akan bilang Umma-mu agar kau Bedrest di DeongWon..”

Mataku berkilat. Dan Mungkin sekarang sudah berair. Kadang Kyu memang menyeramkan, dan sungguh, aku sakit hati mendengar kata-katanya barusan. Pulang ke DeongWon? Mundur dari Turnamen? Dia gila. Dia tahu betul aku berjuang mati-matian untuk tinggal di Gwangju dan lolos turnamen.

“Keras kepala.. Kalau ikut turnamen dengan latihan gila-gilaan tanpa makan seperti ini, aku benar-benar akan bilang Umma-mu..” ancamnya lagi. “Aku serius” pungkasnya.

Sudah setahun aku tinggal di Gwangju bersama beberapa teman sekelasku menyewa sebuah rumah disebelah sekolah. Kyu dan Hae, tinggal satu blok juga dengan teman-temannya. Umma dan Appa memberiku ijin tinggal di Gwangju karena Kyu. Kyu sudah seperti anak mereka, dan aku sudah seperti tawanan Kyu. Kyu mata-mata Umma dan Appa yang sangat mengganggu.

Aku menangis. Mulut Kyu memang beracun.

Untungnya Hae datang. Dia sedang bersama Maii, pacar barunya musim salju ini. Dia melirik Kyu sekilas, dan segera tahu kenapa mataku merah. Setelah menaruh plastic buburnya, dia menyambar kepalaku dan menepuk-nepuk pungggungku.

Aku melirik Maii yang bingung dan Kyu yang membuang pandangannya ke batang infus.

Hae melepas pelukannya dan menghampiri Maii. Sementara Kyu mengambil alih mangkok buburnya, dan mulai menyuapiku dengan kikuk.

“Maafkan aku,” sahutnya dingin, tangannya menyodorkan sesuap bubur didepan mulutku, “Lain kali jangan keras kepala”

“Maaf, aku memang bodoh” kataku tulus. Kyu melirikku.

“Kau tidak bodoh.. Hanya saja kau belum tahu cara menggunakan otakmu dengan benar..” katanya.

Aku membelalak.

“Bukannya itu lebih kasar daripada kau menyebutku bodoh, huh?” protesku. Anak sialan itu malah tertawa.

“Bodoh dan belum tahu itu dua hal yang berbeda. Aigoo.. sepertinya aku salah lagi..” lanjutnya dengan muka merana. Aku mengernyit.

“Apa?”

“Sepertinya kau lebih bodoh dari dugaanku”

Aku segera menghantam kepalanya dengan tangan.

“Dasar mulut setan”

Ia meringis sambil menyendok bubur lagi.

“Buka mulutmu, nona keras kepala”

Aku mengangguk tersenyum dan membuka mulutku. Ia menyuapiku buru-buru.

“Aish.. kenapa kau lemot sekali… makan bubur saja lama sekali..” komentarnya sambil berkali-kali memandangi jam tangannya. “Kau kan tidak perlu mengunyah”

Aku merengut. Menyuapi memang sama sekali bukan gaya Kyu. Hae yang biasanya hobi menyuapiku, dan anak itu, aku memutar mataku mencarinya. Ia tengah senyum-senyum di pintu kamar. Maii sudah tidak disbelahnya.

“Kalian tahu, kadang kalian itu… seperti… suami istri…” katanya sambil tertawa menggelegar. Sendok bubur di tangan Kyu melayang ke daun pintu dan Hae berhenti tertawa. Mungkin kepalanya terhantam sendok atau sedikit beruntung, terbentur daun pintu.

Kyu berdehem dan menghentikan suapan terakhirnya. Gara-gara ledekan bodoh Hae, kami jadi tak berani bicara. Kenapa juga aku mesti grogi menatap Kyu?

“Itu,..” mataku melirik plastic didekat tasnya. “Itu apa?” akhirnya kalimatku selesai juga.

Kyu menatap plastic itu bingung.

“Itu untukmu, coklat” katanya singkat. “Coklat baik untuk memperbaiki mood” lanjutnya. Aku menyambar coklat itu dan segera membuka bungkusnya. Aku memang suka coklat. Aku segera mencomot sekotak besar dan menjejalkannya dalam mulutku. Kyu menatapku sambil menahan nafas. Mungkin dia takut aku mati tersedak cokelat raksasa di tanganku.

Mendadak kurasakan tangan besar menghalau tanganku yang berniat memasukkan satu potongan besar cokelat lagi. itu tangan Hae. Dan dia menarik tanganku sambil melotot. Astaga, kenapa lagi anak itu? bukannya dia tadi sudah keluar kamar?

“Kau mau mati, hah? Aish.. Kyu… seharusnya kau tidak bawa coklat… ususnya sedang bermasalah.. Kenapa tidak bawa kue yang lembut saja, huh?” Hae merebut kotak coklatku beserta coklat di tanganku.

*

Desember 2010

“Kyu, kau benar-benar tak bisa kembali ke Gwangju sekarang?” aku menyahut di telfon putus asa. Kyu, sedang bicara dengan temannya, lalu menyahut lagi, “Maaf, aku tidak dengar. Ada apa Sora?” ulangnya.

Aku mendesis.

“Kau tidak kesini? Benar-benar tidak bisa? Hae-” kata-kataku terpotong sahutannya.

“Aku tidak bisa, Sora… aku masih di Seoul, besok siang baru bisa kembali, apa tidak bisa diundur? Aku mungkin bisa datang besok jam seteng-“

Tut… tut… tut…

Aku sakit hati.

Kau seharusnya datang hari ini. Hae membutuhkanmu. Membutuhkan kita.

Kau juga teman Hae, bukan?

“Jadi, kita berangkat sekarang?” suara Yeo-ra mengagetkanku. “Tanpa Kyu?” Aku mengangguk dan memasukkan ponselku kedalam saku. Mobil berjalan sangat lambat, dan aku tidak tahan dengan degup jantungku yang seolah akan kabur dari dadaku.

“Seharusnya kau mengirim pesan pada Kyu.. dia pasti cemas kalau mendadak kau menutup telfonnya seperti itu” Moodku memburuk mendengar kata-kata Yeo-ra yang sebenarnya ada benarnya itu. Kyu tidak ngotot pulang ke Gwangju karena dia tidak tahu keadaan Hae bukan? Mungkin Kyu berpikir keadaanya tidak sedarurat itu hingga ia tidak harus kembali hari ini. Kyu tidak tahu, dan seharusnya aku memberitahunya. Kalau dia tahu Hae seperti ini, pasti dia pulang bukan?

“Sora..” Yeo-ra menggoyang lenganku.

“Ne…”

“Cepat beritahu Kyu..” sambung Yeo-ra.

“Tidak perlu. Aku bisa sendiri..”

Hae-ya…

Kau baik-baik saja, kan?

Aku sampai di Rumah Sakit tiga puluh menit kemudian. Hae ditemani neneknya dan seseorang lagi yang tampak sebaya dengan ibunya. Setelah menyapa kerabatnya, aku memasuki kamarnya.

Hae berbaring dengan infus di tangan kirinya. Wajahnya pucat dan bibirnya pecah-pecah. Matanya redup, dan ia tak bicara apa-apa saat aku dan Yeo-ra menghampirinya. Yeo-ra sudah lama putus dengan Hae, namun karena kurasa Yeo-ra masih peduli dengan Hae, ia dengan sukarela menemaniku menjenguk Hae.

Hae menabrak mobil dalam perjalanan pulang ke rumah neneknya di Incheon. Kedua kakinya patah, dan yang paling buruk, Umma dan Appa-nya, juga kakak laki-lakinya meninggal ditempat.

Hae diam.

Kulihat tatapannya kosong, namun dia tidak menangis. Yeo-ra mundur dan keluar kamar. mungkin dia ingin aku bicara berdua dengan Hae.

“Tidak apa-apa..” kataku dengan suara serak. Melihat Hae yang serupa mayat seperti sekarang, segera membuat mataku merah. “Tidak apa-apa… Semuanya baik-baik saja Hae..” aku merengkuh tangannya dan menggenggamnya erat.

Ia masih diam, dan tatapannya hampa.

Aku teringat Kyu. Seharusnya anak itu ada disini sekarang. Hae seperti ini, dan dia malah lebih memilih mengikuti Seminar Nasional-nya yang memuakkan itu. Aku benci dia.

“Jangan pergi Sora-ah… jangan pergi..” bisiknya lemah.

Aku mengerutkan keningku mendengar ucapannya. Mencoba menajamkan telingaku mendengar sahutannya. Namun Nihil, aku tak mendengar apa-apa lagi. Dia diam saja. Aku takut aku salah dengar. Dan kalau aku tidak salah dengar, apa maksudnya dia bilang begitu?

“Kau bilang apa, Hae?” aku akhirnya tidak tahan dan bertanya padanya.

“Aku lapar, Lee Sora” sahutnya pendek.

Mulutnya tersenyum tipis. Sekilas, dan aku merangkulnya. Aku tahu dia tadi tidak bilang begitu. Biarlah, dia memang suka bohong. Kalau dia sudah bisa bohong, berarti emosinya sudah stabil bukan?

Aku tahu bocah ini masih terluka, namun mendengar dua patah kata itu aku sedikit lega. Hae, kau masih punya aku. Hae, kau bisa. Pasti. Bukankah masih ada aku?

*

Januari 2011

Seseorang mematikan lampu dan lupa menyalakannya lagi. Gelap. Sepi. Seperti seseorang menyalakan tombol pause dan lupa menekan tombol play. Aku tidak berfungsi. Hatiku kebas serupa ruangan tak berlampu itu saat mendengar kabar Kyu. Kyu yang tidak kulihat semenjak Hae kecelakaan. Sebulan. Genap sebulan. Dia tak terlihat dimana-mana. Aku benci padanya, jadi aku tak mencarinya walaupun jujur, aku sering mencuri lihat ke rumah sewaaannya di sebelah rumahku.

Sahabat macam apakah dia itu?

Hae sedang drop, dan dia seperti hilang ditelan pusaran angin.

Hae bilang Kyu menerima beasiswa ke Amsterdam. Itu sebabnya dia harus bolak-balik ke Seoul dan tidak bisa menjenguk Hae. Dia sudah berangkat ke Amsterdam kemarin siang. Dia pamit pada Hae. Namun tidak padaku. Mungkin dia takut aku menahannya, atau dia tidak punya cukup nyali untuk meminta maaf padaku atas kelakuannya pada Hae.

Hae bilang Dia meminta maaf padaku.

Hatiku dingin.

Membeku seperti es.

Aku baru tahu, membenci kehilangan bisa se-sakit ini.

*

Mei 2011

Hae sudah bisa berjalan. Awalnya memang dia sedikit pendiam, namun sekarang dia sudah seratus persen normal. Dia banyak bicara, dan dia semakin suka hura-hura. Apalagi dengan warisan dari Umma-Appanya yang melimpah ruah. Hae semakin gila.

Dan bagi Hae, aku juga tak lebih waras darinya.

“Kau tahu gerhana matahari?” katanya suatu pagi. Kami sedang duduk berdua dihalaman belakang perpustakaan kampus. Area ini sepi seperti area pemakaman. Aku dan Hae suka menyendiri kesini. Menjauhi hingar-bingar anak kampus yang berisik.

Hae memutuskan se-kampus denganku, jurusan Fisika Farmasi. Aku sedikit marah saat dia memutuskan memasuki jurusan yang sama sekali tak sesuai untuknya itu. Kimia Farmasi selalu membuatku ingat Kyu. Dia ingin memasuki jurusan itu sejak masih SMP.

Hae bilang dia akan menjagaku, namun aku percaya niatnya pasti bukan itu. Hae tidak sebaik dan sepolos itu. Namun aku bersyukur, seburuk apapun niat Hae, paling tidak aku masih punya dia di sisiku.

“Tahu. Tapi tidak pernah lihat. Mau menggombal lagi? Cih!” makiku malas. Aku sedang membaca buku, dan dia sedang mengunyah permen karet dengan seenak jidatnya, sesekali menggelembungkan permennya didepan wajahku.

“Matamu seperti Gerhana Matahari” katanya lugas. “Kau kemanakan sinar mataharimu?”

Aku tertegun.

Bukuku terabaikan beberapa saat. Sejak lima bulan ini, aku selalu menghindar membicarakan Kyu. Hae tahu itu, dan dia berbaik hati tak pernah mempermasalahkannya. Bagiku, menyebut namanya saja sudah emmbuat hatiku ngilu. Dan hari ini, Hae sepertinya akan membahasnya.

“Tidak Hae, kumohon, jangan bicarakan itu” kataku pelan. Hae diam. Sebentar kemudian tangannya mencekal tanganku dan memaksaku menatapnya. Ia menyambar bukuku dan menaruhnya diatas bangku kayu tempat kami duduk.

“Sampai kapan, Sora? Ini sudah lima bulan,” Hae bertanya lagi. matanya menatapku nanar.

“Tidak. Jangan” kataku lagi. Tanganku dingin, dan seluruh organ tubuhku tegang.

“Kyu-“

“Jangan. Kumohon jangan sebut namanya” aku mulai merengek. “Aku tidak akan menangis untuk lelaki jahat itu, Hae.. Jangan sebut namanya”

Mataku panas.

“Menangislah,” Hae memeluk pundakku. “Kau sudah terlalu lama menahannya. Kau bisa gila, Sora” ujarnya pelan.

“Bertanyalah padaku tentangnya, aku akan menjawab” Hae berbisik lagi.

Tidak, tidak ada yang perlu kutanyakan.

Tidak,

Tidak ada,

Kumohon air mata, jangan turun, jangan tumpah,

“Aku tidak rela menangis untuknya”

Pada akhirnya dua mataku mulai berair.

Kurasa pipiku sudah basah, dan dadaku mulai sesak.

“Lepaskan dia, Sora” Hae bicara lagi. Masih sepelan ucapannya sebelumnya.

“Jangan menyimpan benci, atau harapan lagi untuknya. Kau akan terus terpuruk kalau kau keras kepala seperti ini. Menangislah, dan lepaskan dia”

Aku menunduk.

Air mataku tak mau berhenti menganak sungai.

Seperti seseorang meremas jantungku.

Seperti seseorang menusuk-nusuk hatiku dengan pisau.

Sakit.

Aku sakit, hingga tidak bisa bicara. Hae memelukku dengan bahunya yang lebar. Aku menangis dan kehilangan suaraku.

“Kyu…” aku menyebut namanya.

“Kyu..” aku mengucapkannya.

“KENAPA DIA…

KENAPA DIA TIDAK PAMIT PADAKU…

KENAPA DIA.. SEENAKNYA SENDIRI PERGI SEPERTI ITU…

KENAPA DIA… MENINGGALKAN KITA HAE…

KENAPA DIA TEGA MENINGGALKANKU…

APA DIA TIDAK TAHU AKU SAKIT SEKALI HAE…”

Aku berteriak.

Berteriak memakinya sekuat tenagaku.

Memukul dada Hae sekeras yang kubisa. Hae diam tak bersuara.

“PANGGIL DIA HAE…

BAWA DIA KE DEPANKU…

AKU MERINDUKANNYA HINGGA AKU NYARIS GILA..,

KENAPA DIA PERGI SEPERTI ITU…”

Sekali lagi suaraku membahana. Dan Hae tetap duduk memelukku. Menepuk-nepuk pundakku.

“Aku juga rindu padanya, Sora” Hae menjawab lirih. “Aku juga sakit sepertimu. Mungkin lebih sakit,”

“Tidak, kau tidak lebih sakit dariku, Hae…” aku memotong ucapannya. “Kau tidak akan tahu rasanya. Kyu sudah seperti …” ucapanku terputus oleh keraguanku sendiri. Sudah seperti apa? Kyu sudah sepenting apa? Aku bahkan tidak bisa mengatakannya. “Kyu..Aku bisa mati tanpanya”

Ia memelukku semakin rapat.

“Kau tahu, Aku harus sakit hati dua kali” Hae menyahut. “Jangan bicara kalau kau tak tahu apa-apa Sora” katanya lagi.

“Kenapa dia tidak menghubungiku selama ini? apa dia lupa padaku Hae? Apa aku berbuat salah padanya? Kenapa dia hilang seperti itu Hae? Kenapa dia tidak bicara dulu padaku Hae?” aku terus bertanya dan rasanya seluruh batu besar di kepalaku jatuh dan menggelinding turun.

“Lepaskan dia, Sora…” Hae tidak menjawab.

“Kenapa Hae? Kenapa aku harus melepasnya?” suaraku serak.

“Karena kau bisa gila kalau begini terus menerus” Hae sekali lagi mengalihkan pembicaraan.

“Aku ingin bertemu dengannya Hae… aku… aku bisa mati. Aku bisa mati-“

Hae membekap mulutku dengan tangannya.

“Kau tidak sendiri, Sora. Berapa kali harus kubilang kau bukan satu-satunya yang kehilangan.. aku harus sakit hati dua kali Sora… Kau hanya belum terbiasa…”

Aku menangis semakin keras.

Semakin terisak.

Dadaku sesak.

“Hae… aku bisa mati-“

“Tidak, ada aku, Sora”

“Hae, aku ingin melihatnya-“

“Lepaskan dia. Dia sudah melupakanmu”

Duniaku berhenti.

Seseorang, tolong aku, aku ingin mati sekarang.

“Dia ingin kau juga melupakannya”

Seseorang, katakana aku sedang mimpi..

“Jangan Tanya kenapa Sora. Kadang tidak tahu itu lebih baik”

Seseorang, katakan, Hae bohong kan..

“Tidak, Hae”

Dadaku sesak.

“Lepaskan dia”

Aku limbung.

Kepalaku,

Hatiku,

Sakit.

*

TBC

21 thoughts on “Dear Buddy 1#

  1. ao fid…lagi lancar ide nih kayaknya….kekekekeke

    ada something fishy here,,,jangan-jangan….Hae…?
    Sora, dirimu suka sama Kyu, tapi g mau ngaku yaa?…

    aih, ini romance tapi tetep, bikin ngakak kalo baca dialognya, atau narasinya,,,nista banget Hae dibikin ketawa sampe kent*t…wkwkwkwk

  2. P’tama baca judul’y aku jadi inget film anjing,. he2
    pas udah baca aku ketawa sendiri benar2 persahabatan yang unik dan menghibur,..
    t’nyata semakin kesini cerita’y bikin sedih ,…
    Feel’y udah dapet menurutku, karena ceritamu selalu bagus dan menghibur…

  3. Awalnya sih aku ketawa-tawa liat hae-kyu sama sora. Tapi di akhir akhirnya aku jadi ikut sedih nih :((
    Penasaran sama alasan Kyu ninggalin mereka. aaah kyu ayo cepet baliik!!!

  4. Hae suka nih pasti sm sooa, tp sora gak sadar pdhl dia udahh bilang “aku harus sakit hati dua kali” itu dia sakit hati krn kyu dan sooa kan? Bener gak? Hihihihiii

  5. Omo..omo…
    Aku sediiiiihhhhhh
    feel nya dpt bgt eonni…
    Aku jg bs ngerasain yg sora alamin
    aigo..sedihnya
    ff nya daebak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s