This Boy and My Nightmare part 2

This Boy and My Nightmare part 2

Definitely Nightmare

*Warning: Part ini nggak terlalu ada joke-nya…

Eun Hee POV

Jantungku jantungan!

Kulihat namja itu berdiri didepanku sekarang. Hidungnya masih belepotan darah. Tangannya memegangi kaos tangannya yang juga sama berdarahnya.

Aku menatapnya tak bersuara. Seluruh bunyi-bunyian dalam otakku menguap karena aku terlalu tegang.

Semoga ia tak membunuhku hari ini…..

“Heh.. Kau sengaja kan?”ia berteriak lagi. Tangannya berkacak pinggang. Matanya menatapku tajam.

“M..Mwo?” jawabku takut-takut.

Dia mendelik.

“Kau sengaja menyuruh anakmu itu maju ke panggung unuk mengencingiku kan?” tanyanya emosi.

“Ini bukan anakku… ini..”

“Aish… terserah kau, itu anakmu, itu adikmu itu hewan ternakmu… aku tak peduli… yang jelas, sekarang kau harus tanggung jawab!”

Aku menelan ludah. Menyusun kata-kata yang tepat untuk meredam amarahnya.

“Maaf, tapi kau itu siapa? Aku tak kenal denganmu…”

Dia meludah. Mulutnya menyeringai. Hidungnya sudah berhenti berdarah.

“Tidak mengenalku ya? Lalu yang membawa banner Lee Dong-Goblok tadi itu siapa hah?”

Aku menunduk ketakutan.

“Eh.. Oh… itu…Jadi namamu lee Dong-Goblok ya?“

Hya…. Kenapa aku malah bicara begitu?

Aku meringkuk semakin gugup. Ia terlihat seperti ingin menelanku hidup-hidup.

Mendadak aku merasakan ponsel di saku kardiganku bergetar.

Lee Dong- Gerandong itu masih meracau. Berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk mukaku –sebenarnya rambutku, karena aku menunduk menghadap tanah-. Diam-diam aku melirik layar ponsel, dan segera berbahagia…

Nam Jo Ahjussi!

Ia pasti akan menolongku kali ini. Ini kan juga menyangkut keselamatan anaknya yang Cuma satu itu. Aku segera berdiri dan mengangkat Yoogeun. Mendudukkan Yoogeun. Dan berlari menjauh dari Lee Dong-sialan itu.

“YHAK…KENAPA KAU MALAH MENGANGKAT TELFON HAH?!”

*

Donghae POV

Aish… dia malah mengangkat telfon!

Aku segera teringat konser yang tadi belum kuselesaikan. Pasti kena damprat lagi nanti malam. Aku Merogoh ponsel dan melihat daftar tujuh panggilan tak terjawab dari manajerku, Eunhyuk, Siwon dan Yesung Hyung. Aku menekan tombol pemanggil. Menghubungi Sung Ran Noona, manajerku.

“Yoboseyo…” kataku.

“…”

“Ne… aku akan segera kembali..”

“…”

“Posisi? Em..Dong Woon, Blok 7, didepan restoran China…cepatlah kesini..Ne… aku baik-baik saja…”

“..”

“Ne…Ne…Ne….aku tutup telfonnya”

Bbpp.

Mataku melirik bocah pengecing yang masih saja jongkok tak berani menatapku. Lalu aku melirik yeoja disebelahnya yang sudah selesai menelfon. Tidak seperti tadi, wajahnya terlihat pucat. Mulutnya juga non-aktif. Matanya merah, dan yang paling aneh, tangannya mengelus-elus bocah disampingnya.

“Ada apa?” mau tidak mau aku bertanya juga.

Dia diam tak menjawab.

Sekarang matanya basah. Aku mulai panik.

“Ada apa?” tanyaku lagi.

Kali ini gadis itu memeluk lututnya dan menangis keras. Aku melirik adiknya yang ikut menangis sambil menepuk-nepuk punggung kakaknya. Aish… Kenapa malah main drama begini? Aku meremas rambutku frustasi.

“Ne…Ne.. katakanlah dulu ada apa… kita tak mungkin disini lama-lama…” kataku sambil ikut berjongkok didepannya. Gadis itu mendongakkan kepalanya dan menghapus pipinya yang basah.

“Antarkan aku pulang dulu…”

Aku menatapnya kesal. Seharusnya, aku marah-marah padanya sekarang, tapi kenapa dia malah minta tolong padaku dan aku diam saja?. Lee Donghae… Kenapa kau mudah sekali kasihan pada orang yang bahkan baru saja menggampar harga dirimu di muka umum?

“Ne… Baiklah… sebentar lagi mobil kru akan datang menjemputku.. Aku akan mengantarmu dan adikmu pulang…”

Gadis itu memegangi tangan adiknya dan menangis lagi.

“Sebenarnya ada apa?” tanyaku semakin penasaran. Melihat tingkahnya tadi yang menyebalkan dan tidak tahu diri, sementara sekarang menangis seperti itu, mestinya terjadi sesuatu yang buruk kan?

“Apa… apa kau mau menolongku?”

Ehm, perasaanku agak tidak enak. Gadis ini terlihat sangat berbakat menjadi orang yang merepotkan.

“Katakan dulu kau butuh bantuan apa… Baru akan kuputuskan apa aku bias membantumu atau tidak…” jawabku serius. Dia menatapku tajam. Ia bangkit berdiri.

“Kalau begitu… Kau tidak usah tahu saja…” katanya sambil menyeret tangan adiknya.

“Hei… Kau mau kemana?” teriakku sambil menahan tangannya.

“Itu… Mobilnya sudah datang, kau mau ikut?”

Hyak… gadis menyebalkan….

Dia pikir mobil jemputanku itu datang untuk mengangkut siapa?

Aku mengekor dibelakangnya. Tampak Sung Ran Noona membuka pintu mobil. Ia sendirian. Sung Ran Noona menatapku yang belepotan darah dengan muka cemas. Aku menepis tangannya dan buru-buru mengatakan kalau aku baik-baik saja. Matanya melirik gadis dan bocah pengencing disebelahku dan aku memberi isyarat agar dia diam. Sung Ran Noona segera melajukan mobilnya.

“Apa terjadi keributan setelah aku meninggalkan konser?” tanyaku sambil meringis. Sedikit merasa bersalah.

“Tentu saja… Penggemarmu semburat ke jalan dan memblokir jalan raya mencarimu… Kru juga sibuk mencarimu tadi, aish… dasar bocah…untungnya tidak ada yang tahu kau sembunyi disini… Kau bias mati sesak nafas dikeroyok penggemarmu..” katanya  kemudian.

Aku menatapnya sambil tertawa.

“Kalau boleh tahu… Nona disebelahmu itu siapa?” Nam Ra Noona bertanya lagi.

“Oh… eh.. Namamu siapa?” kataku sambil menyenggol gadis disebelahku.

“Eh..”gadis itu menoleh menatapku bingung. Sepertinya tadi ia melamun dan tidak mendengarkan pertanyaanku.

“Namamu siapa?” tanyaku lagi. Ia membuka mulutnya bersiap menjawab, namun Nam Ra Noona memotong cepat.

“Donghae-ah… tidak usah malu begitu, aku ini kan bukan orang lain bagimu… Aku juga tidak akan bilang siapa-siapa, jadi sejak kapan kalian pacaran?… dan  Ehm, apakah anak lucu ini anak kalian?”

“MWO!!” teriakku keras. Aku  melotot kearah Sung Ran Noona.

“Apa maksudnya Noona bilang dia anakku? Aish… aku bahkan tidak tahu namanya!” kataku setengah berteriak.

“Aku malah kaget kalau dia bukan anakmu Donghae-ah… Dia mirip sekali denganmu…” komentarnya enteng.

“Hyak… Noona-ah… Aku tidak mengenalnya-“

Ddrrrrttt…dddrrrrtttt…

“Sebentar… ada telfon untukku” Sung Ran Noona memasang earphone dan mulai berbicara di telfon. Aku melirik gadis disebelahku. Ia sedang memeluk adiknya.

“Lee Dong-shii-“ ia memanggilku.

“Aish..kenapa kau memanggilku begitu?” protesku. Ia mengacuhkanku.

“Sepertinya Yoogeun agak demam… Dia kedinginan..” katanya dengan wajah cemas.

Jadi bocah criminal ini namanya Yoogeun….

“Lepaskan pakaiannya… biar dia pakai jaketku..” kataku sambil menyambar jaket di jok depan.

Gadis itu melepas pakaian adiknya. Bau pesing mengitari mobil. Aku mencium kaos yang kupakai dan ikut mengernyit. Bocah sialan ini membuat hidungku sakit hati.

“Donghae-ah.. antarkan anakmu dan pacarmu kerumahnya, aku harus kembali ke studio lebih dulu… aku akan naik taksi.. maaf aku buru-buru..” kata Sung Ran Noona sambil menepikan mobil. Aku belum menjawab dan ia sudah keluar sambil menyetop taksi.

Pacarku? Anakku? Apa-apaan ini…

“Lee Dong-shii-“ gadis itu mengagetkanku lagi.

“Hyak… Berhentilah memanggilku seperti itu..” kataku sambil pindah ke jok depan. Memegang setir mobil. Sekali lagi dia mengacuhkanku. Sibuk menyelimuti adiknya dengan jaketku.

“Bisakah kita berhenti sebentar? Sepertinya dia akan muntah…” katanya. Aku segera mematikan mesin mobil yang baru saja kunyalakan. Menggendong Yoogeun keluar mobil dan mengurut punggungnya. Ia muntah-muntah.

“Sepertinya dia agak demam… Aku akan membelikannya obat, bisakah kau menjaganya sebentar?”

Aku mengangguk pasrah sambil mendekap Yoogeun. Gadis itu berlari-lari menyabrang jalan dan kembali lima menit kemudian dengan plastic obat dan air mineral di tangannya.

“Namamu siapa?” kataku sambil membantunya menggendong Yoogeun.

*

Eun Hee POV

“Eun Hee” jawabku sambil menggendong Yoogeun duduk di balkon kayu di tepi jalanan. Jalanan sudah sepi dan sangat dingin.

Lee-Dong-dong  itu kemudian mengajakku makan di kedai jjangmyeon di pinggir jalan. Kedai tengah ramai. Ada belasan pasangan dan pengunjung memenuhi  kedai. Ia mengambil kursi. Merapatkan maskernya sambil meraba dahi Yoogeun. Beberapa yeoja mengamatinya agak lama. Baiklah, kuakui dia memang keren walaupun wajahnya tidak kelihatan. Eh, atau mereka mengenali Dong-dong ya?

Aish.. Aku tak peduli.

Dia kelihatan manusiawi sekali sekarang. Membuatku sedikit lupa kalau lelaki didepanku ini pernah mengencingiku di depan umum bertahun-tahun lalu.

“Aku sudah pesankan teh hangat dan bubur untuk adikmu… sebentar lagi kuantar kau pulang..” katanya. ia melepas masker dan berganti memakai topi. Mulai menyendok jjangmyeon didepannya.

“Lee Dong-“

“Kalau kau panggil aku dengan nama itu sekali lagi, aku akan melempar mangkok ini ke wajahmu..” katanya datar. Aku meliriknya sambil tertawa.

“Ne… aku harus panggil kau apa?”

“Donghae…”

“Sama jeleknya….” Komentarku.

Pletak!

Ia memukul kepalaku dengan sendok.

“Nama lengkapmu siapa?”tanyanya sambil memasukkan kecap ke piring jjangmyeon.

“Lee Eun Hee…” jawabku singkat. Aku tak berminat banyak bicara saat makan. Membuat makanan enak dingin dengan sia-sia.

“Kalau Adikmu namanya Yoogeun siapa?”

“Kim Yoogeun…” jawabku singkat.

Ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum-senyum memandangi wajah Yoogeun.

“Apa dia mirip denganku?” tanyanya kemudian.

Aku menoleh. Mengamati Yoogeun. Membandingkannya dengan si Dong-dong.

“Ne.. Kalian memang mirip…” jawabku setengah hati.

Donghae tersenyum lagi. Matanya mengawasi Yoogeun.

“Bukankah adikmu itu imut sekali?” tanyanya.

Aku menyeringai.

“Kau sedang memuji dirimu sendiri ya?” balasku sengit.

Ia balas menyeringai. Tersenyum lagi.

“Tapi aku tidak bohong… Adikmu itu imut sekali..”

Aku menaruh sendokku dan meraih gelas. Meneguknya.

“Aish… Memuji diri sendiri.. Menjijikkan..” jawabku kasar.

Pletak!

Tangannya menjitak kepalaku.

Kami makan lagi.

“Jaketmu bagus…” kataku sambil merapikan jaket di tubuh Yoogeun. Anak itu sudah pulas sekarang.

“Ambil saja, aku punya banyak…Tidak usah sungkan..” katanya sok dermawan.

Aku menyeringai.

“Aku juga tidak berencana mengembalikannya padamu..”

Dia membelalak.

“Mwo?.. .. Kupikir kau akan menolaknya..” komentarnya.

“Aniyo…Aku tidak akan repot-repot melakukan hal seperti itu..” balasku singkat.

“Begitu sukanya padaku ya?” tanyanya.

Mukanya yang sok manis benar-benar membuatku bernafsu menyumpalkan jjangmyeon ke hidungnya.

Suka padanya? Omo…omo…Dia itu tak lebih seperti air kencing dimataku.

“Aku akan menjualnya… Bukankah jaket ini kau pakai saat konser? Oh.. Pasti laku mahal..” kataku cepat.

Mukanya kaget.

“Aish.. Kau benar-benar gadis mengerikan..” katanya kemudian.

Aku menyeringai lagi. Kali ini kami diam. Menyendok jjangmyeon dengan tenang.

“Kau belum cerita tadi ada apa..” ia berkata. Nadanya seperti bertanya. Aku tersenyum sambil menenggak soda didepanku.

“Nanti saja.. Kau akan kehilangan selera makan nantinya…”

“Pasti kabar buruk… Baiklah, aku berubah pikiran.. Aku tidak ingin tahu, jadi kau tidak perlu memberitahuku..” sambungnya.

Aku melotot.

“Enak saja… Aku sudah berpikir panjang akan memberitahumu, sekarang kau malah menolak kuberitahu.. mana bisa begitu..”

“Aish… Aku semakin yakin kalau itu kabar buruk… Anggap saja aku tak pernah bertanya..” lanjutnya dengan muka malas.

“Karena kau sudah selesai makan, aku akan cerita sekarang…” kataku tanpa mempedulikannya yang berlagak mengacuhkanku.

“Aku dan Yoogeun baru saja kehilangan rumah..”

Dia tak bereaksi. Masih pura-pura meminum sodanya.

“Pamanku, ayah Yoogeun tadi menelfonku dan bilang….. kalau mereka sudah tidak di Mokpo sekarang…”

Dia mulai diam-diam melirikku.

“Aku dan Yoogeun tidak punya tempat tinggal sekarang… Umma dan Appa-nya meninggalkan Yoogeun bersamaku..

Akhirnya ia melotot.

“Kau serius?”

Aku mengangguk.

Mendadak kurasakan Yoogeun bergerak-gerak di pangkuanku. Sepertinya ia akan muntah lagi. Donghae mendekat dan menggendongnya menuju tempat sampah. Aku dan dia menepuk-nepuk punggung Yoogeun dan membantunya meminum teh hangat.

Donghae melirikku.

“Badannya demam..” katanya singkat.

Ia membawa Yoogeun kembali ke kursi tempat kami melahap Jjangmyeon tadi.

“Lebih baik kau menginap disini saja.. akan kusewakan kamar hotel untukmu dan adikmu..” katanya lagi.

“Lalu setelah itu kami tinggal dimana?”

Dia menatapku agak kesal.

“Apa itu urusanku?” tanyanya tiba-tiba.

Aku menatapnya.

“Tentu saja itu bukan urusanmu…” kataku dingin. Aku menghampiri Yoogeun yang mendekap di pangkuannya dan menggendongnya.

“Baiklah kalau begitu.. aku pergi dulu, ini nomor telfonku kalau-kalau kau butuh bantuan… dan ini sedikit uang untukmu… kalau kau membutuhkannya…” ucapnya sambil menaruh beberapa lembar won di meja dan kartu namanya. Aku tahu sebenarnya ia tidak tega meninggalkanku disini, namun di sisi lain dia tidak ingin peduli hal-hal yang bisa saja mengganggu hidupnya yang luar biasa nyaman itu. Kelihatan sekali kalau dia bukan tipe lelaki Antagonis.

Aku menatapnya dengan mata memerah.

Sungguh, aku tak tahu apa yang akan kulakukan sekarang.

Dia melengos pergi.

Pikiranku  kembali mengingat adegan ‘kencingnya’ bertahun-tahun silam. Emosiku naik.

Lupakan kalau dia barusan berbaik hati padamu Eun Hee…

Lihatlah.. Dia memang harus diberi pelajaran moral..

‘Kencing’ Yoogeun sama sekali tak sebanding dengan apa yang kau alami karena ‘kencingnya’…

Jangan berbaik hati lagi Eun Hee….

DONG–GERANDONG…..

DONG-GOBLOK…

DONG-KRAK…

LEE-DDONG-HHHAEEEE…….

KUPASTIKAN KAU MENYESAL TELAH MENELANTARKANKU DISINI…

LIHAT SAJA….

*

Donghae POV

“YEOBO…. JANGAN TINGGALKAN KAMI DISINI…”

Kakiku membeku di tempat. Mencoba mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Eun Hee. Tangan gadis itu kini menggayut di lenganku.

“YEOBO… AKU TIDAK AKAN SANGGUP MERAWAT YOOGEUN SENDIRIAN… YEOBO…. YEOBO….”

Leherku tegang.

Oh…

Oh…

Oh…

Apa yang dilakukan gadis bodoh itu…

“YEOBO-AH… AKU TIDAK PEDULI SEKALIPUN KAU TELAH BERSELINGKUH, AKU TIDAK PEDULI WALAUPUN KAU AKAN MENIKAHI GADIS ITU DAN TIDAK MENCINTAIKU LAGI… KUMOHON KASIHANILAH BUAH HATI KITA….” teriaknya histeris.

Belasan mata menatapku tajam. Aku melirik gadis itu murka.

“Kau sadar Apa yang kau katakan hah?” tanyaku sambil memelankan suara.

Beberapa orang semakin serius mengawasiku.

“YEOBO-AH… PERCAYALAH… AKU TIDAK AKAN MENGGANGGU HUBUNGANMU DENGAN GADIS ITU.. ASALKAN KAU TETAP DISISIKU… KASIHANILAH ANAK KITA…”

ASTAGANAGA……….

Anak ‘kita’ katanya?

Kali ini beberapa Namja berdiri menghampiriku.

Aku gelagapan.

Aku bisa mati dihajar disini. Segera aku berbalik menghadap wajahnya. Dengan muka dibuat-buat aku memegangi pipinya. Lalu aku merangkulnya. Aku tidak mau mati konyol dikeroyok orang disini.

Gadis itu kelihatan kaget melihat responku. Ia pasti tak menyangka aku akan bereaksi seperti ini.

“Aniyo sayang… siapa yang mau meninggalkanmu sendirian… aku hanya mau ke toilet sebentar…” kataku lembut.

Mukanya terkejut.

“KAU BOHONG… SEBULAN YANG LALU KAU JUGA BILANG BEGITU DAN MENELANTARKAN KAMI DI KEBUN BINATANG SAMPAI MALAM….” Balasnya sengit.

Aku melongo.

KEBUN BINATANG KATANYA???

Omo..omo… dia ini benar-benar sedang membunuhku…

Aku memegangi pundaknya murka.

“Yeobo-ah… aku kan sudah bilang kalau aku pulang lebih dulu…. Kau tahu sendiri aku sibuk sekali akhir-akhir ini…dan bukankah kita berjanji tidak akan membahasnya lagi?” jawabku cepat.

Kali ini dia memasang muka merana.

“KAU BOHONG! AKU TAHU KAU BERNIAT MENGHINDAR DARIKU YEOBO-AH… AKU SEDANG MENGANDUNG ANAK KEDUAMU YEOBO-AH… KAU HARUS SELALU MENGINGAT ITU…”

Aku kehabisan kosa kata.

ANAK KEDUA????

Oh Tuhan… Dia pikir  kami sedang main Sinetron?

“Aniyo jagiya…. Aniyo… Aku tidak pernah berpikir akan meninggalkanmu..” kataku sambil pura-pura menangis. Aku merengkuh pundaknya. Berpelukan seperti orang sinting. Beberapa Namja yang berniat mengeroyokku berhenti mendekat.

Mereka masih mengawasiku tajam.

Beberapa yeoja bahkan dengan kurang kerjaan-nya memotret adegan pelukan kami.

Seorang Ahjumma mendekat  dan menggendong Yoogeun dari kursi kayu ke  punggungku. Ahjumma itu menepuk-nepuk pundakku.

“Kalian harus membulatkan tekad… memiliki anak di usia muda memang berat.. tapi kalau kalian saling percaya, kalian pasti bisa…” katanya bijak.

Mulutku menganga sempurna.

“Lihatlah anak kalian ini… Aigoo… Dia lucu sekali dan mirip sekali denganmu…” lanjut Ahjumma lain yang berdiri disebelah Ahjumma tadi. Mata mereka bergiliran mengamatiku dan Yoogeun. Tangan mereka menjawil pipi Yoogeun. Aku melirik Eun Hee. Menatapnya dengan tatapan ingin membuang ingus.

Yeoja-yeoja menatap kami dengan muka berharap. Aku merapatkan topi. Sedikit takut kalau ada yang sadar siapa aku. Aku bisa kena masalah besar. Aish… Kalau saja aku tak mengejar gadis ini, pasti aku takkan terlibat urusan gawat seperti ini.

Aku melirik Yoogeun dan mendadak ingat mimpiku tadi malam. “Kalau mimpi mengejar ular, itu artinya kau cari mati..HUAHAHAHA”

*

End of part 2

46 thoughts on “This Boy and My Nightmare part 2

  1. Ya kok pendek banget lagi asik eh tau tau tbc. Kasian sidong ikan. Wah ternyata sikyu berbakat jadi paraabnormal bisa mengartikan mimpi dng tepat

  2. 😀 HUAHAHAHAHAHA- mendadak jadi pengen ketawa kayak Kyu Oppa😀
    Donghae Oppa,Donghae Oppa…betapa naas nya nasibmu !!!

    Eun Hee, kayaknya niat banget balas dendam deh. Gimana Kalo ntar Donghae Oppa tau kalau dia adalah yeoja semasa kecilnya yang pernah ia kencingi hahaha-

  3. jiahahahahahahahahahahahaha niat mau nolongin , malah dikerjain …. kesian mata lu donghae , kagak tau maksud sebenarnya dari eun hee .. sabar ya …..

    ayo publish part 3-nya …. ngg sabar akan terjawab seperti apa mimpi donghae yang mengejar ular itu …. buahahahahahahahahahahahaha~~~~~

  4. Apanya yang ga komedi thor?? Ini lucu sumpaaah..

    Parah si eunhee,, suamikuuu kasiaan..

    Tapi hae dsini sifatnya kaya kyu yah?? Ga cengeng en ga gombal.. Lanju, jan lama2 yah..🙂

  5. ada aja idenya buat nyengsarain dongkrak,,,gyahahahhaahahah, bener kata Kyupret tuh, kalo ngejar ular,berarti cari mati…wkwkwkwk

  6. muwahahahha
    sinetronnya itu loh thor
    gak nguatiin bener

    yeoboo, jagiya, aku hamil anak keduamu lho
    wakakakaka
    guling2 ketawa ini

  7. Hahaha si eunhee kreatif banget bikin pengakuan mendadak gitu. Donghae baik banget tapi narsis -___-
    Itu quotenya kyu kena banget ya haha
    *lanjut baca*

  8. Bwuahahahaaa….. Eonni kau benar2 daebak!!!
    Aiigo..mereka bener2 gokil deh aktingnya.
    ‘Wanita yg sdng hamil dan memiliki satu anak hampir ditinggal lari suami tercinta’, waduh bs jd headlines news tuh eonni hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s