The Seventh

The Seventh
Legator pertama: Joan Kazao Voldavinne
Seorang laki-laki sedang duduk di bangku kayu. Ia terlihat masih sangat muda dan tidak sopan. Tangan kirinya memegang buku. Tangan kanannya sibuk menjejalkan roti ke dalam mulutnya. Seorang lelaki yang nampak jauh lebih tua berdiri di dekatnya.
“Kau tahu artinya Legator?” lelaki yang lebih muda bertanya pada lelaki tua disebelahnya.
“Itu sebutan bagi pangeran-pangeran abad pertengahan, Yang Mulia”
“Apa mereka hebat?”
“Mereka dipilih untuk mewarisi dan menjaga Gaezamaru, Yang Mulia”
Pemuda itu mengerutkan keningnya. Apa itu Gaezamaru?. Mengapa dunia ini penuh istilah asing seperti ini, rutuknya dalam hati.
“Jelaskan lebih panjang, aku belum mengerti”
“Para pangeran itu diwarisi ilmu pertahanan diri yang nantinya mereka gunakan untuk menjaga keamanan Kerajaan, ilmu pertahann itu disebut Gaezamaru dan akan diwariskan setiap seratus tahun sekali pada tujuh putra bangsawan”
“Apa ada yang perlu ditakutkan, maksudku, apakah ada ancaman hingga dibutuhkan ilmu khusus seperti itu?”
Lelaki tua itu menghela nafas pelan. Pengetahuan mengenai Legator dan Gaezamaru adalah pengetahuan Sejarah Dasar yang diajarkan pada semua orang sejak umur sepuluh tahun. Pangeran Voldavinne ini memang sedikit keterlaluan.
“Setiap seratus tahun sekali, akan selalu ada musuh besar, Yang Mulia”
“Semacam anak Setan begitu?”
Lelaki tua itu agak kaget. Anak setan?
“Ya…mungkin semacam itu, saya sendiri belum pernah melihatnya”
Pangeran muda itu bangkit berdiri sambil menaruh bukunya diatas bangku.
“Bukankah Legator itu keren?”
Lelaki tua itu mengangguk.
“Baiklah… Josh, katakan pada ayahku bahwa aku menerimanya”
Lelaki itu menoleh menatap pemuda disebelahnya. Wajahnya terkejut.
“Apakah… apakah.. maksud Pangeran.. pangeran akan menjadi Legator?” lelaki tua itu tergagap-gagap bertanya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa pangeran asuhannya itu akan menjadi putra pilihan yang memegang dan mewarisi Gaezamaru.
“Ayahku mengatakannya kemarin, aku dipilih menjadi Legator, aku sendiri tidak tahu mengapa harus aku?, banyak putra bangsawan lain yang lebih baik dariku”
“Jangan begitu, Yang Mulia, pasti yang Mulia Raja Alfred punya pertimbangan sendiri” Josh berkomentar simpatik namun mengiyakannya dalam hati. Pangeran muda didepannya itu memang benar-benar tak bisa apa-apa.
“Ah… sebenarnya aku tak keberatan dari awal kalau saja Levi tak ikut terpilih, mengapa aku harus berurusan lagi dengan pemuda sialan itu..”
Josh tersenyum mengamati pangeran mudanya, Joan. Levi, putra Raja Gosphell , adalah saingan permanen pangeran Joan. Levi yang pintar, diam dan menyebalkan itu hanya kalah satu point dari pangeran Joan, wajahnya. Pangeran Joan mewarisi wajah tampan dari ayahnya yang juga tampan, raja Voldavinne. Selain masalah wajah, pangeran Joan sama sekali tak pantas disejajarkan dengan Pangeran Levi yang lebih tahu dan lebih bisa banyak hal.
“Aku akan sangat bahagia kalau aku jadi Legator dan dia jadi anak Setannya… aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri, hahaha..”
*
Legator kedua: Alessandro Greffon Gosphell
Gref menangkupkan tangannya ke wajah. Ini benar-benar hari yang sial. Gref sudah sangat bersyukur saat ayahnya, Raja Gosphell mengirimnya ke Kastil Kaldera dua tahun yang lalu untuk belajar ilmu militer disana dan mengirim Levi, adiknya ke Kastil L’ambassador untuk belajar ilmu pemerintahan. Sayangnya, kelegaan itu tak bertahan lama, karena siang ini ia mendapat surat bahwa ia akan jadi legator. Itu artinya, ia akan se-kastil lagi dengan Levi di L’ambassador.
Ia tidak membenci adiknya. Ia hanya tidak ingin satu wilayah dengannya. Mereka memang saudara kandung, tapi mereka jauh berbeda satu sama lain. Itu akan membawa banyak tekanan untuknya dan untuk Levi. Ia juga yakin Levi tak menginginkan ini.
Tapi semua orang juga tahu bahwa menjadi Legator sudah seperti harga mati bagi putra Gosphell. Dulu kakeknya, Raja Alfred juga seorang Legator. Gref pun diam tak bersuara. Siang ini, ia akan pulang ke Gosphell untuk bertemu Levi dan ayahnya.
Ia mengemasi barang-barangnya dan beranjak menuju Kastil Utama tempat Savior Kepala Kastil beristirahat. Kopernya yang menggelembung menarik perhatian banyak Sheriff, murid-murid di Kastil Kaldera.
Gref sadar ada seseorang yang membuntutinya dan dia tahu pasti siapa itu. Ia berhenti berjalan.
“Aku akan kembali ke Gosphell dan mungkin tak akan kembali lagi kesini. Berhenti mengikutiku.. kau bisa katakan sekarang apa yang ingin kau katakan dari dulu, aku tak punya waktu lagi” ucap Gref dengan mata lurus ke depan. Ia tak berniat menoleh atau mencari si penguntit. Orang itu sudah dua tahun menguntitnya. Seorang perempuan. Namun Gref tak habis pikir mengapa gadis itu keras kepala sekali tak mau menunjukkan dirinya setelah menguntitnya selama ini. Gref sebenarnya tak ingin menyapanya kali ini, namun rasa penasarannya mendorongnya untuk berhenti menyapa gadis itu.
“Baiklah.. kalau kau tidak ingin mengatakan sesuatu, aku pergi, selamat tinggal..”
Gref merasa tangannya ditarik seseorang. Ia masih tak menoleh. Matanya menatap lurus kedepan.
“Aku ikut” ujar gadis itu pendek. Lalu senyap. Menyisakan Gref yang masih terpaku di tempat.Gref melotot dan akhirnya menoleh. Gadis itu sudah berlari ke asramanya.
Apa gadis itu akan bennar-benar mengikutinya ke Gosphell?
*
Legator ketiga: Benhardt Aragon
Ben menatap wajah ibunya lama. Surat dari kakeknya itu terasa seperti batu sungai yang jatuh ke kepalanya. Ia akan jadi Legator. Ia akan belajar di L’ambassador yang jauh dari istananya. Ia takkan se-kastil lagi dengan ibu dan keluarganya.
“Apakah kau akan menerimanya?” Ibunya bertanya khawatir. Para Legator akan berkumpul lusa di L’ambassador dan itu artinya Ben tak punya cukup waktu untuk mempertimbangkan keputusannya. Ini adalah kali pertamanya keturunan Raja Aragon memperoleh kesempatan menjadi Legator. Dan sudah pasti, ayah Ben, Raja Loui Aragon akan mendukung habis-habisan putra keempatnya itu agar mengiyakan surat itu.
Ben mengangguk. Matanya basah.
Ia tahu ini akan sulit. Dari kecil, Ben tak pernah jauh dari istana. Kondisi tubuhnya yang lemah dan sering sakit-sakitan menjadi alasan utama ibunya untuk tidak mengirim Ben sekolah ke Kastil manapun. Ia belajar secara privat di Istana Aragon. Itu juga menjadi alasan utama ayahnya tidak begitu menyukai Ben. Diatara kelima putranya, hanya Ben yang sakit-sakitan dan tidak pandai ilmu beladiri. Istana Aragon sendiri dikenal sebagai pusat pelatihan ilmu bela diri di seantero Alfera. Bagaimana mungkin putranya sendiri tidak becus menguasai ilmu beladiri?
“Aku ingin sekali saja dalam hidupku membuat ayah tersenyum, Yang Mulia Ratu..”
Ibunya memeluknya erat.
*
Legator keempat : Zectra Elmous Hangerfield
El melonjak kegirangan menerima amplop Legatornya. Ia tersenyum tak henti-henti. Ia terpilih menjadi Legator bersama Levi dan Zeo. Bukankah itu keren sekali?. Seorang anak menteri disejajarkan dengan pangeran-pangeran terkenal di Alfera.
El menciumi amplopnya dan tak sabar ingin menunjukkannnya pada Levi. Ia bergegas menuju istal kuda dan menyuruh seseorang menyiapkan seekor kuda untuknya. Ia ingin segera pergi ke Gosphell menemui Levi dan kemudian menuju Voldavinne untuk menemui Zeo.
*
Legator kelima : Key Sebastian Alvaro
Tidak ada yang lebih menarik bagi Key selain tidur seharian di kamarnya. Ia tipikal pemuda yang suka membuang-buang waktunya untuk tidur.
“Selagi aku belum menjadi Raja, aku berjanji untuk tidur sepuas-puasnya” itu ikrar yang ia ucapkan sejak ia mengerti arti penting tidur dalam hidupnya. Namun siang ini, amplop coklat tua yang baru saja dilempar adik lelakinya ke wajahnya benar-benar mengganggu tidurnya. Ia menenggelamkan wajahnya ke bantal berkali-kali.
Menjadi Legator?
Ia sudah memikirkannya selama dua jam. Masih saja ia tak yakin akan keputusannya untuk menolak permintaan di surat itu. Hati kecilnya ingin menerima, namun mengingat beratnya latihan Legator yang akan ia jalani, ia mundur. Menurutnya, Pelajaran privat di kerajaannya sudah sangat merepotkan, apalagi harus belajar di kastil L’ambassador yang tersohor dengan peraturan ketatnya.
Ibu dan ayahnya menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Key sendiri. Justru Key semakin pusing. Ia benci peraturan dan latihan berat. Ia ingin menjalani semuanya dengan santai dan berantakan. Tapi melewatkan kesempatan menjadi Legator adalah hal tolol. Semua pangeran di Alfera menginginkan posisi itu. Menjadi Legator sama artinya menjadi warga kelas satu di Alfera dalam usia muda.
Key meremas rambutnya dan melempar amplop coklat tua itu ke lantai.
“Baiklah… Baiklah amplop jelek… aku akan menerimanya!” teriaknya kesal.
*
Legator keenam : Alessandro Aleffio Gosphell
Levi tersenyum sebal memandangi amplop coklat tua di depannya. Gref akan tiba sore nanti dan dia akan membuat keputusannya sekarang. Antara mengiyakan atau menolak permintaan di surat itu. Menjadi Legator adalah mimpinya sejak kecil. Dari dulu, ia sering mendengar orang-orang disekelilingnya menebaknya akan menjadi Legator sebagai penerus kakeknya.
Ia tak menduga impiannya akan dibayangi kakaknya. Selama ini, hanya seorang saja keturunan Raja Alfred yang menjadi Legator, mengapa sekaarang harus dua?, dan Mengapa harus Gref?
Ia terus-menerus protes dalam diam.
Levi dan Gref memang saudara kandung. Namun mereka sangat berbeda. Dan itu akan membuat keduanya tertekan.
“Kau berpikir untuk menolaknya?” El menatapnya serius.
Levi tidak menjawab. Ia belum memutuskan. Ia juga sedang tak berminat berbicara.
“Semua pangeran di Alfera sedang menunggu kedatangan surat ini Levi,.. dan kau malah ingin menolaknya?, menurutku itu bukan keputusan yang tepat “ El mengomel lagi.
“Apa kau keberatan karena Gref?.. kau seribu kali lebih pintar darinya”
Levi mendengus. Sebulan yang lalu, El juga bilang begitu pada Gref. Hanya saja, kata-kata ‘lebih pintar’ diganti dengan ‘lebih baik’.
“Atau kau masih bermasalah dengan Zeo?.. mengapa pangeran ‘tidak penting’ seperti dia harus merisaukanmu?.. kau sepuluhribu kali lebih baik darinya..Zeo itu tak bisa melakukan apapun dengan benar, ingatannya payah dan dia juga sok tahu..“
Levi bangkit berdiri sambil menyambar surat didepannya. El ikut berdiri.
“Apakah aku bilang aku ‘menolak’?” jawab Levi singkat. El menggaruk kepalanya sambil tertawa.
“Aku tahu kau pasti menerimanya”
*
Legator ketujuh: Reina Glord Wijhkouvic
Didalam surat yang diterimanya, nama Reina tak tercantum dalam daftar Legator. Nama Legator ketujuh tidak ditulis disana. Namun surat itu dialamatkan padanya. Raja Glord dan Ratu Leva menenangkan putri bungsunya itu sejak tadi pagi.
Putrid mereka akan menjadi Legator pertama di Alfera dan mungkin itu sebabnya namanya tak tercantum di surat untuk merahasiakannya sementara waktu. Legator perempuan akan jadi masalah tersendiri di Alfera.
Reina yang baru berusia tigabelas tahun. Reina yang perempuan. Mengapa dia?

tobe continued….

2 thoughts on “The Seventh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s