The Most

The M.O.S.T

Super Junior?
Baru pertama kalinya aku mendengar nama itu. Rapat staff bersama pimpinan perusahaan baru saja selesai. Kami punya agenda besar bulan depan, menyelenggarakan konser super di Balai Sarbini. Manajer menugasiku untuk menyiapkan konsep acara. Kali ini tugasku lumayan berat, merangkum profil bintang tamu yang akan kami undang dan menyiapkan konsep panggungnya bersama Andre dan Radit. Aku mencatat nama personel Super Junior satu persatu dan mulai mencari informasi di internet.
Jumlah mereka yang tigabelas orang –termasuk Kibum, Kangin, dan Hankyung- membuatku semakin pusing. Selama duabelas jam aku memelototi video clip dan menyamakan satu-satu wajah personil didalamnya. Sialnya, karena memang aku bukan pengingat yang baik, aku akan dengan mudah menukar nama mereka kalau model rambut mereka berubah.
Setengah hati aku mencetak gambar ketigabelas personilnya dan mulai menghafal lagi.
Ini loncatan karir pertamaku menjadi ketua Sie perlengkapan dan tata panggung. Aku agak khawatir menghadapi rencanaku sendiri karena baru kali ini aku memegang agenda besar. Biasanya, aku hanya kebagian mendesain konsep background panggung merangkap wartawan infotainment dan majalah yang juga dikelola perusahaan.
*
Alia menemuiku malam harinya. Dia membawa setumpuk majalah di ranselnya dan membantingnya ke meja.
“Ini majalahnya. Profil lengkap, tinggal baca non,” ujarnya pendek sambil bangkit berdiri mengambil air minum di kulkas. Aku menatap majalah itu tak berminat. “Sebanyak ini? Segitu tenarnya ya? Kok aku ngerasa nggak pernah denger…” komentarku. Alia menoleh sambil menaruh gelasnya.
“Iya… personilnya banyak banget… kalau aku sih dari dulu udah denger tapi nggak pernah merhatiin.. segmen artisluar negeri kan dipegang Mbak Rani, mana bisa kita tahu beritanya, tiap hari kita kebagian ngeliput artis dalam negeri terus… eh..kalau menurutku kok wajah mereka mirip semua ya…” Alia berkata lagi. Aku manggut-manggut setuju. “Trus,… gimana rencanamu?”sambung Alia lagi.
“Kita bagi tim… minta sama manajer 40 orang. 10 orang buat handle kostumnya, 10 sisanya bakal bikin konsep panggung, 20 sisanya ngurus sound system…Aku sudah bagi kerja, entar masalah kostum sepenuhnya aku yang pegang sama kamu, sound dihandle Radit, dan panggung dipegang Andre”
“Aku nurut deh…” Alia berkata pasrah. Tangannnya meraih satu majalah dan membuka salah satu halaman dengan headline besar ‘Kim-Heechul, The Real CindeRella’.
“Eh. Ternyata ada anggota yang aneh banget, liat… kamu aja kalah cantik non…” Alia berseloroh lagi sambil menyodorkan foto seorang pemuda tengah memakai wedding dress, gaun putih panjang.
“Ini orangnya sadar apa nggak dipotret begini?” Tanyaku penasaran. Alia membualatkan matanya. “Dia sendiri yang motret tau… aneh kan?” alia menjawab bersemangat. Keningku berkerut. “Apa dia … feminim begitu maksudmu?”
“Enggak… orangnya kasar tau’… ya nggak taulah pokoknya aneh… tapi menarik deh, sebenernya kalo diliat-liat dia cakep lho…” kali ini telunjuk Alia mengarah ke gambar diatasnya. Seorang lelaki berambut sebahu dengan hidung mancung dan memang tampan. Aku tertawa. Aku malah lebih tertarik denngan wajah disamping yang disebutnya Kim Heechul, pria berwajah polos dengan mata tajam.
“Cakepan yang ini…Evil Magnae.. ini lho C-ho Kyu…h-yun..” ejaku patah-patah. Alia merebut majalah di tanganku dan kemudian menunjuk wajah personil lain yang ternyata juga sama-sama tampannya. Kami bergurau semalaman sambil bermain tebak-tebakan nama personel Super Junior.
*
Setelah empat bulan yang melelahkan dengan rapat lebih dari 25 kali, jadwal kedatangan mereka akhirnya datang juga. Senin pagi di Bandara sukarno-Hatta berderet-deret panitia di loket kedatangan.
Dibelakang para staf, berjubel penggemar yang terus-menerus berteriak-teriak histeris. Mereka bahkan lebih gila daripada penggemar Justin Bieber yang kami undang untuk mengadakan konser bulan lalu. Aku menoleh ke Alia dan tertawa melihat ekspresi penggemar-penggemar fanatiknya yang nyaris merobohkan pagar bodyguard. Aku memakai topi sambil merapat ke Bodyguard-bodyguard yang berdiri di depan. Aku menghubungi kru kostum dan menyuruh mereka memastikan tiap personel sudah masuk Bus.
Bus merayap diikuti beberapa mobil penggemar yang masih ngotot bertemu anggota Super Junior. Aku duduk dibelakang bersama Alia.
“Hei… kamu lihat Heechul?.. ternyata orangnya emang aneh.. tapi lebih cakepan aslinya daripada di foto…” Alia berbisik ke arahku sambil menunjuk seorang pemuda di belakang sopir yang tengah bergurau dengan pemuda di sebelahnya.
“Tau nggak… masa’ tadi aku lihat dia memukul kepala temannya didepan Bandara pake’ koper… didepan umum…kayaknya orangnya kasar deh….” Alia berkata lagi. Aku memelototi daftar pekerjaan yang akan kami lakukan begitu sampai di hotel. “Oh ya?…” aku pura-pura mendengar ucapan Alia. Ia masih terus mengoceh.
Saat melihat kedatangan kesepuluh personel, aku berencana mengubah konsep tata kostum. Aku ingin menempatkan satu staf –semacam asisten pribadi- untuk tiap personel yang akan menghandle semua kebutuhan personil. Disamping itu, aku juga berencana menambah bodyguard melihat betapa gilanya penggemar untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak diharapkan.
Aku berembug dengan Andre dan mulai memutuskan siapa saja yang akan jadi asisten pribadi. Andre juga menambahkan agar kami tak memasukkan staf yang merupakan penggemar Super Junior sebagai asisten pribadi agar tak mengganggu privasi personel.
“Oke, nanti kamu akan jadi asisten Kim Heechul… dan aku… dengan Kyuhyun, dua orang ini agak sulit diurus, jadi aku ingin kita saja yang pegang, gimana?” tanyaku pada Alia. Dia mendadak kaget.
“Heechul yang itu?.. kok aku?”
“Ehm… dia orangnya agak kasar Al.. kalau kamu yang pegang, nanti aku bisa kasih instruksi langsung dan nggak perlu sungkan, kalau dipegang orang lain aku takut mereka tersinggung kalau kuingetin …”
Dia menatapku sebentar.
“Kamu pegang Kyuhyun?”
“Iya… dia juga sama ruwetnya…”
*
Turun dari bus, para asisten pribadi dan bodyguard segera mengantar personel ke ruang tamu hotel. Para personel super Junior memperkenalkan diri kepada panitia sambil bergurau basa-basi -tentu saja dalam bahasa korea-. Sambil menginstruksi dan berkali-kali memungut kertas daftar kerjaku yang terjatuh karena aku terus-terusan lari, aku berdiri disamping kyuhyun dengan dua bodyguard di belakangku.
Pemuda itu tak menggubrisku sama sekali. Ia terlalu serius memainkan game di laptopnya dari tadi. Ia bicara hanya pada temannya sesama personel Super Junior. Mungkin dia takut aku tak memahami apa yang dia katakan dan kurasa tebakannya memang benar.
Sebulan yang lalu, ke-empat puluh panitia sudah mulai belajar bahasa Korea. Akibat seringnya panggilan mendadak dari Pak Manajer, aku kerap bolos kursus. Pada akhirnya aku menjadi yang paling tidak mampu berbahasa korea dengan baik walaupun hanya percakapan sehari-hari.
Di pojok ruangan, Alia terlihat lebih mengenaskan. Kim Heechul sibuk menulis sesuatu di Hp-nya sejak ia keluar dari Bus hingga sekarang. Alia terlihat kesal dan tidak berdaya. Sebenarnya ia hanya ingin mengingatkan Heechul tentang jadwal mereka nanti sore namun sepertinya Heechul tak memberinya kesempatan menyapa.
Pukul setengah duabelas siang, para personil sudah harus beristiraht di kamar hotel masing-masing karena pada pukul empat sore ada wawancara dengan salah satu televisi lokal.
Aku membawa Kyuhyun ke kamarnya. Dia mencopot jaketnya dan bertanya dalam bahasa korea dimana dia bisa mendapatkan air minum. Aku mengatakan padanya sebentar lagi air minum akan diantar langsung ke kamar, namun dia bersikeras memintanya sekarang. Percakapan Korea patah-patah-ku sepertinya membuat dia kesal. Akupun buru-buru berlari mengambil air minum dari lobi.
Dengan bahasa isyarat dia menolak minumanku dan meminta air dingin. Aku bilang -dengan bahasa korea berantakan- padanya bahwa manajernya melarangku memberikan air dingin pada personelnya. Dia menyeret lenganku menuju pintu keluar hotel dan menunjuk salah satu minimarket didepan hotel kami. Aku mengikutinya. Dia celingak-velinguk sambil mencopot syal dan memasangkannya di wajah. Kami memasuki minimarket.
Beberapa orang melihatnya agak aneh karena wajahnya yang terlalu putih untuk orang Indonesia. Dia bergegas menuju lemari pendingin dan menyabet empat botol air dingin. sesampainya di kasir, dengan bahasa Inggris lancar dia berkata bahwa aku yang akan membayar belanjaannya.
Ia tertawa sambil berjalan menuju hotel meninggalkanku yang masih harus menunggu kembalian dari kasir. Pria itu memang sialan.
*
Sore ini, dengan mata yang berat aku mengetuk pintu kamar Kyuhyun. Di kamar sebelah, Alia sedang berusaha setengah mati memaksa Heechul bangun. Tak ada jawaban dan pada akhirnya aku masuk ke kamarnya tanpa permisi.
Begitu pintu terbuka, pemandangan langka hadir di depan mataku: Kyuhyun tidur di lantai denagn tidak memakai pakaian.
Bagi penggemarnya, mungkin pemandangan seperti ini adalah pemandangan yang sangat dinanti-nanti, namun bagiku yang sama sekali tak mengaguminya, pemandangan ini membuatku malu sendiri. Pemuda itu terlihat pulas sekali. Aku mengambil ponselnya diatas kasur dan menaruhnya tepat di samping telinga kanannya.
Aku keluar dari kamarnya dan menelponnya. Terdengar ringtone dan aku terus menunggu ia mengangkat telfonnya di pintu kamar. Dari beberapa artikel yang kubaca aku tahu bahwa Kyuhyun agak bermasalah dengan pendengarannya namun aku baru menyadari bahwa penyakitnya sudah separah ini. Dia bahkan tak mendengar suara ringtone ponsel disebelahnya yang kedengaran keras sekali dari luar kamar. Setelah tiga kali terabaikan, telfonku akhirnya diangkat.
“Yoboseyo…”
“Kyuhyun-shii… there’s a meeting in half hour” jawabku pelan. Aku takut ia tidak paham kalau aku bicara terlalu cepat dalam bahasa Inggris. Tak kudengar jawaban hanya terdengar suara berisik dan telponku terputus. Aku menatap layar ponselku kesal dan mengetuk pintu kamarnya. Setengah jam lagi ada wawancara dan pria ini bahkan belum mandi!.
Aku mengetuk pintu kamar lebih keras. Dia keluar dengan wajah dan rambut berantakan. Dia sepertinya memarahiku karena aku mengganggu tidur siangnya. Pada saat-saat seperti ini aku bersyukur sekali tidak mampu berbahasa korea dengan baik sehingga tak perlu tahu omelannya. Dengan kamus terjemahan korea di ponselku aku mengatakan padanya ada meeting jam empat sore. Keningnya berkerut sebentar dan dia menutup pintu kamarnya tanpa permisi. Pria ini memang sialan.
*
Wawancara berlangsung sore ini. Personel Super Junior -seperti biasanya- terlihat menyenangkan dan hangat saat melangsungkan interview. Di lokasi wawancara, para penggemar bergerumbul dalam kapasitas besar. Aku benar-benar tak habis pikir bagaimana mereka bisa menarik penggemar mancanegara sebanyak ini. Hujan turun deras di luar ruangan dan para penggemar fanatiknya masih terus saja berteria-teriak tanpa henti.
Aku yang sangat mengantuk memutuskan tidur didalam bus setelah memastikan Kyuhyun siap tampil. Pemuda itu sudah bergabung dengan personel lainnya. Sebelumnya, Aku berbisik pada Alia dan menyuruhnya menelfonku bila ada yang tidak beres dengan acaranya.
Aku mengambil tempat duduk di deretan pertama tepat dibelakang supir dan menutup wajahku dengan jaket.
*
Aku terbangun tengah malam. Aku kaget karena aku sudah di kamar hotel. Kulihat Alia duduk disebelahku tengah membaca buku. Dia melirikku.
“Bangun juga kau akhirnya…” ujarnya pendek. “Seharusnya bilang saja kalau kau capek, kau bisa istirahat dan tidak perlu pingsan begitu..” sambungnya lagi.
Aku terlonjak kaget.“Siapa bilang aku pingsan?”
“Kau tadi pingsan di Bus… tergeletak di lantai Bus…” cetus Alia.
“Apa? Di lantai Bus?… seingatku aku tadi tidur dan tidak pingsan… apa aku terjatuh ya?” aku agak bingung. Alia menatapku sambil menahan tawa.
“Jadi… tadi kau tidur? Tidak pingsan?”
“Kurasa begitu…”
Meledaklah tawa Alia. Lama sekali sampai aku malu sendiri dan lupa bahwa aku masih sangat ngantuk.
“Memangnya siapa yang bilang aku pingsan?”
“Emh… tadi di jeda iklan Kyuhyun pergi keluar mengambil air minum, dia menelponmu berulangkali tapi kau tak menjawab, akhirnya dia pergi ke bus sendirian dan melihatmu tergeletak di lantai bus.. tentu saja di kira kau pingsan!” Alia bercerita dengan semangat. Aku mendengarkan sambil mengecek panggilan masuk di ponselku. Memang ada empat panggilan tak terjawab dari Kyuhyun.
“Trus?” aku bertanya penasaran.
“Dia panggil bodyguardnya dan kau ditidurkan di kursi belakang bus yang panjang… hei… apa kau berharap Kyuhyun yang membopongmu?” Alia menggodaku.
“Tentu saja tidak…”jawabku cepat. “Aku hanya bersyukur dia tidak menelantarkanku sendirian di lantai Bus atau membuangku di tengah jalan….”
“Ternyata Kyuhyun manusiawi juga ya…. Hahahahaha”
Aku mendecak sebal. “Kulihat kau juga sama tragisnya sepertiku… tadi di lobi hotel kamu ditelantarkan Heechul kan?” balasku penuh kemenangan.
“Dia itu emang bener-bener aneh my…. Seharian maen twitter…”
“Dan kamu sempurna ditelantarkan… hahahaha” aku tertawa bahagia melihat Alia yang manyun didepanku.
“Oke… mereka emang kurang ajar… bagaimana kalau kita balas dendam?” alia bertanya antusias. Aku meliriknya tak berselera.
“Kita bisa dipecat kalau ada apa-apa sama mereka…..” jawabku.
“Ya nggak sekarang-lah my… tunggu moment yang tepat… eh, aku penasaran, kyuhyun tahu namamu?” TANYA Alia bawel.
“Emangnya ada apa?”
“Masa’ tadi dia bilang begini pas kamu pingsan: my woman bodyguard…. Hahahahaha… kacau banget tuh kyuhyun… bisa-bisanya bilang woman bodyguard…” Alia tertawa lagi.
“Emang tuh orang nggak bisa baca namaku di name tag ya? Padahal udah kutulis gede… A_M_Y_….” selaku di antara tawa Alia yang semakin kurang ajar.
“Heechul juga mungkin nggak tahu namaku…” Alia berkata setelah tawanya selesai.
“Dia manggil kamu apa?”
“Sora… SORA….” Dan kini giliranku yang tertawa terbahak-bahak.
“Apa? Sora? Hahaha…… Kok jauh banget Al?, Parah tuh Heechul… Alia jadi Sora”
“ Itu gara-gara Pak Johan..” Alia menyebut nama manajer kami. “Dia bilang semua kru harus punya nama yang mudah dieja orang korea.. jadi namaku Sora deh…”
“Bukannya itu bahasa Jepang?”
“Masa’ iya?” kami tertawa lagi.
*
Siang yang panas. Sudah jam setengah sebelas. Di aula, para personel Super Junior tengah latihan. Aku duduk berdua di pojokan bersama Alia, sesekali mengkoordinasi peralatan panggung yang akan mereka gunakan. Karena kemampuan bahasa Korea-ku yang payah, terpaksa aku mendatangkan translator, Putra, teman SMA-ku dulu.
Beberapa kali aku melihat Heechul tak berkonsentrasi latihan karena sibuk dengan twitter-nya. Alia mengingatkan dan berkali-kali juga dia diabaikan. Kyuhyun terlihat bersungguh-sungguh melatih gerakannya dengan Eunhyuk.
Sementara sang leader alias Leeteuk dan –pemuda jangkung yang luar biasa tampan- Siwon mengajak rapat pribadi denganku. Dia menanyakan banyak hal tentang konsep panggung dan tata lampu. Dia juga memberikan usul tentang kostum panggung.
Malam nanti, mereka akan belajar drama musical berdurasi satu jam. Sebenarnya aku belum bicara mengenai rencana drama itu dengan personel Super Junior sendiri, tapi karena Manajer mendukung, aku akan berusaha bicara siang ini dan akan mengurangi beberapa daftar lagu asing yang mereka bawakan di konser nanti.
Leeteuk mengangguk-angguk dan memanggil Kyuhyun dan Yesung kesebelahku. Setelah Leeteuk membicarakan rencanaku, kulihat ekspresi Kyuhyun berubah. Dia melirikku tajam dan pergi tanpa bilang apa-apa.
“Emh.. Amy-shii.. sebenarnya rencanamu bagus sekali dan skripnya juga memuaskan, hanya saja aku butuh waktu untuk bicara dengan Kyuhyun… sebelumnya dia yang mengusulkan akan membawakan beberapa lagu asing dan dia juga sudah berlatih lama di Korea, tentu ini mengecewakan untuknya kalau harus dibatalkan” Putra menerjemahkan ucapan Leeteuk.
Aku agak kaget dan terdiam beberapa saat.
*
Aku menceritakan peristiwa siang itu pada manajer. Manajer menyuruhku menunggu jawaban dari Leeteuk.
Aku gelisah sore ini. beberapa kali aku berniat mengunjungi kamar Kyuhyun untuk bicara, namun aku mengurungkannya. Bagaimana kami bisa berkomunikasi dengan bahsa Korea-ku yang belepotan? Pastinya itu hanya akan menambah masalah.
Di café hotel, aku terus saja memikirkan masalah itu. Alia datang bersama Heechul dan dua bodyguardnya. Sepertinya mereka sudah mengalami sedikit kemajuan. Mereka terlihat sedang bergurau dengan bahasa Isyarat. Aku menatapnya setengah iri. Andai saja Kyuhyun bisa diajak sedikit bercanda seperti itu pastinya akan menyenangkan.
Aku baru sadar kalau heechul dan Alia bukan satu-satunya anggota Super Junior yang datang ke café sore ini. dibelakangnya, Donghae-, Eunhyuk, Siwon, Leeteuk, dan Kyuhyun berjalan beriringan mencari meja yang cukup besar untuk didudduki berenam.
Leeteuk tiba-tiba memanggilku. Dia bertanya dengan bahasa Inggris-yang agak kacau- mengenai menu yang cocok untuk mereka makan saat ini dan dengan sopan memintaku membantu mereka memesan makanan. Aku melirik Kyuhyun beberapa detik dan buru-buru mengalihkan pandanganku pada pelayan disebelahku.
“Leeteuk –shii… emh.. the manager told me not to give you a cold drink..” mendadak aku ingat pesan Pak Johan sebulan yanAg lalu. Leeteuk mengangguk dan menyuruhku memesan kopi panas saja. Mereka beranjak mengambil meja, namun kulihat Kyuhyun masih mematung di depan pelayan itu. Ia melirikku dalam diam.
“Okey… one tea Ice for this guy” kataku akhirnya. Dia tertawa penuh kemenangan sambil memamerkan jari jempolnya pada para hyung-nya. Aku tersenyum simpul. Leeteuk membeir isyarat padaku agar tak mengatakan masalah pesanan minuman dingin itu pada manajer. Dia bilang kyuhyun memang sangat mudah kepanasan dan tidak suka minuman panas.
“Is this for saying sorry to me?” Kyuhyun tiba-tiba saja berkata lancar. Aku agak kaget. Ternyata bahasa Inggrisnya lumayan juga.
“Yes… I’m sorry” kataku akhirnya.
*
Alia tertawa mendengar ceritaku tadi siang. Skandal drama musical yang membuatku harus minta maaf pada Kyuhyun. Alia menasihatiku agar sabar karena konser itu masih lima hari lagi.
“Ini baru permulaan..” ujar Alia.
“Aku bisa mati kalau dia bersikap lebih menyebalkan dari ini” jawabku.
Alia tertawa lagi. “Kau pasti sudah mati dari kemarin kalau kau mengurus Heechul!” katanya lagi. Kami tertawa bersama.
*
Malam yang melelahkan. Aku dan Alia membagikan skrip drama dan membuka diskusi mengenai perubahan-perubahan yang mungkin diperlukan. Heechul dan sungmin tertawa saat tahu skrip drama mengharuskan mereka menjadi wanita. Sementara Kyuhyun dan Eunhyuk terlihat puas karena mereka akan jadi pangeran dalam drama ini. donghae berdiskusi dengan Yoona –asisten pribadinya, nama aslinya yuni- tentang perannya yang akan jadi adik Eunhyuk. Yesung berteriak heboh saat dia tahu dia juga akan jadi raja –ayah Heechul-. Shindong dan Ryeowook masing-masing akan jadi asisten Kyuhyun dan Eunhyuk. Leeteuk akan menjadi ayah Eunhyuk.
Dalam drama ini, Eunhyuk sebagai tokoh protagonist akan melawan Kyuhyun untuk memperebutkan putri Heechul. Mereka membaca skrip dan sedikit mengeluh karena dialognya berbahasa inggris.
“Bagaimana seandainya kami lupa dialognya? Apa kami boleh bicara dalam bahasa korea?” Eunhyuk bertanya, Putra menerjemahkan. Aku tersenyum karena sudah menduga pertanyaan ini akan muncul.
“Kalau begitu jangan sampai lupa….” Jawabku singkat disambut ‘o’ penuh kekecewaan begitu Putra selesai menerjemahkan penjelasanku.
Kalau kupikir-pikir, Putra membawa banyak perubahan dan sangat membantu mengatasi kendala berbahasa kami. Putra yang merasa berjasa, handal dan langka tadi sore bahkan minta kenaikan gaji. Masalah utama untuk saat ini mungkin adalah fans yang memenuhi halaman hotel siang dan malam, membuat kru dan personel Super Junior tidak bisa bergerak kemana-mana.
Alia datang dengan membawa beberapa kostum drama. Ia juga mengukur ukuran baju personel satu persatu. Malam ini kami akan langsung latihan part pertama karena waktu yang terbatas sebelum konser berlangsung.
“Jadi, part pertama Putri Heechul dan Pangeran Eunhyuk akan keluar 10 menit mengisahkan kalau kalian berdua bersahabat sejak kecil. Ayah dan Ibu Eunhyuk sudah meninggal dan kerajaan milik Hyuk diambil oleh Raja Yesung, Ayah Putri Heechul..” aku berhenti bicara. Leeteuk dan Heechul tertawa membayangkan mereka berdua akan jadi ayah-anak.
“Ratu Sungmin berniat menjodohkan pangeran Kyuhyun dengan Putri Heechul. Pada awalnya, Raja Yesung berniat menikahkan putri Heechul dengan Pangeran Hyuk karena kerajaan Hyuk telah diambil Raja Yesung, namun melihat ketampanan pangeran Kyuhyun dan kekayaan kerajaannya, raja Yesung mengubah rencananya dan menjodohkan pangeran Kyuhyun dengan Putri Heechul” mereka berdehem dan mengangguk-angguk sambil ribut berkomentar begitu Putra selesai menerjemahkan ucapanku.
“Pada awalnya, saat Pangeran Kyuhyun datang, Putri Heechul sangat terpesona. Setelah ia mengatakan kalau ia suka dengan Pangeran Kyuhyun pada Pangeran Eunhyuk, pangeran Eunhyuk marah dan menuduh putri Heechul matre. Melihat pangeran eunhyuk cemburu, putri Heechul baru sadar bahwa selama ini, pangeran Eunhyuk menyayanginya lebih dari seorang teman seperti yang ia duga sebelumnya” Kali ini personel super Junior itu bertepuk tangan dan semakin bersemangat mendengarkan.
“Menyadari cinta pangeran eunhyuk dan pangeran kyuhyun, akhirnya putri Heechul menyamar jadi pria dan mencari tahu siapa yang lebih serius menjalin hubungan dengannya dan apa motif mereka menikahi putri Heechul” Heechul berteriak histeris dan berkoar-koar bahwa dia akan tetap kelihatan tampan dalam drama. Aku tertawa sambil melanjutkan sinopsisnya.
“Tentu saja pangeran Eunhyuk lebih tulus dan lebih mencintai putri Heechul daripada siapapun…”Eunhyuk bersorak riuh sambil mendorong Kyuhyun. Kyuhyun tertawa dan ikut berkomentar bersama hyung-hyungnya.
“Mengapa harus Eunhyuk?” Heechul tiba-tiba bertanya diiringi koor kompak personel lainnya.
“Ehm…. Wajahnya tulus…” dan mereka kompak protes.
“Pasti kau salah lihat, Tulus? Bagaimana bisa? Dari gayanya saja mestinya semua orang setuju kalau dia playboy…” Heechul berkomentar sambil berteriak.
Aku mengamati wajah Eunhyuk dan menyadari kalau ucapan Heechul tidak salah. Dia memang terlihat ‘lebih’ playboy dibanding personel lainnya.
“Disinilah daya tariknya, pangeran Eunhyuk memang gampang terpikat dengan wanita cantik namun cinta sejatinya murni hanya milik putri Heechul” jelasku akhirnya. Mereka tertawa puas dan mulai menghafal skrip di tangan mereka.
Kyuhyun yang dari tadi serius mendengarkan ceritaku mendekat ke kursi disebelahku dan bicara dengan nada pelan, “Amy- shii… can you help me?”
Aku medongak dan menatap wajahnya. “Sure…”
Ia menunjuk kertas skrip ditangannya, lalu memegang kepalanya, dan memegang bibirnya berurutan. Ia kemudian juga menunjuk Donghae yang naskah dramanya dipegang Yoona. Mungkin maksudnya “Maukah kau membantuku menghafal naskah ini?…Hyung-hyungku juga meminta tolong pada asisten mereka”.
Aku melihat bentuk mulutnya saat bicara dan mati-matian menahan tawa. Dia terlihat sangat polos dan mungkin menganggapku tak paham apa yang ingin ia katakan.
“I will help you.. Kyuhyun-shii…” kataku akhirnya. Dia menggenggam tanganku dan mengguncang-guncangnya dengan semangat.
“Tonight, let’s meet in the top floor…” ujarnya dengan bahasa Inggris patah-patah.
Aku agak bingung. Top floor? Atap hotelkah maksudnya?
*
Malam yang dingin dan ponselku berdering. Pukul satu pagi buta. Aku baru saja tidur jam Sembilan tadi. Kalau saja aku tak melihat ekspresi Kyuhyun yang mendadak baik hati padaku tadi siang, tentunya aku takkan mau beranjak keluar kamarku dengan mata berat seperti ini. Aku mengetuk pintu kamarnya. Dia keluar sambil mengunci pintu kamarnya. Malam ini dia mengenakan jaket dan syal tebal untuk menutupi sebagian wajahnya.
Di tangannya, ia menenteng tas kertas berisi makanan. Ia juga membawa ransel kecil yang mungkin berisi laptop dan naskah drama.
Kami menaiki lift sambil menunduk. Sebenarnya aku ingin bicara banyak tapi mungkin akan susah karena kemampuan bahasa Korea-ku yang payah, maka aku putuskan untuk diam saja sambil memelototi ponselku.
“Nice weather…” tiba-tiba Kyuhyun membuka percakapan. Aku agak kaget dan dengan kaku menjawabnya “I think so… do you feel cold?” aku bertanya sambil memeragakan orang kedinginan.
Dia menggeleng sambil tersenyum. “Korea is cooler…” jawabnya singkat. Diam beberapa jenak. Suara deru mesin lift memenuhi telingaku. Tombol lift menunjukkan angka 25 dan hal yang sangat kuhindari, listrik padam. Lift berhenti bergerak, hanya berdecit dan tidak mau naik lagi. aku menghembus nafas berat.
“Are you okay?” Kudengar suara Kyuhyun disebelahku.
“Yes… I’m fine..” jawabku buru-buru. Kami segera merogoh ponsel dan minta bantuan. Beberapa menit kemudian listrik menyala. Sialnya lift yang kami naiki masih tak mau bergerak. Aku mulai panic dan menelfon manajer. Nihil, tak ada yang menjawab. Aku menghubungi Alia berharap dia bisa membantu dan sekali lagi telfonku tak diangkat. Jam setengah dua malam, siapa yang masih bangun ?
Malam itu, kami terpaksa mempelajari skrip drama di lift.
*
Ini pagi ketiga sebelum konser berlangsung. Kru dan staf sangat sibuk mengatur ini-itu. Sudah dua hari aku tak tidur hanya untuk belajar bahasa Korea. Aku ingin menyelesaikan tugasku dengan baik dengan memahami keinginan personel dan staf Super Junior tanpa perlu merepotkan Translator. Lagipula Putra terlalu sulit dicari saat aku benar-benar membutuhkannya.
Lingkar bawah mataku terlihat mengerikan saat aku menatap wajahku di cermin. Aku beranjak ke kamar Kyuhyun untuk menjemputnya latihan. Dia sudah menungguku di lobi.
“Aku tak melihatmu dari kemarin.. kemana saja?” Dia tersenyum saat aku sampai didepannya.
“Aku sibuk” jawabku singkat. Ia menatapku dan menunjuk kelopak matanya sendiri.
“Oh.. ini…” kataku sambil memegang kelopak mataku. “Aku tidak tidur semalam” jawabku agak kaku.
“Ada apa?” tanyanya lagi.
“Kau ini kenapa Kyuhyun-shii?…”
“Aku Cuma tanya ada apa kau tidak tidur semalam?”
“Aku belajar..” jawabku akhirnya. “Belajar bahasa Korea”
Dia tertawa sambil mengucek rambutku.
“Pantas… sekarang bicaramu lancar” komentarnya yang membuatku tersenyum.
“Bagaimana latihan drama-mu?” tanyaku lagi. kami hampir sampai di ruang latihan. Dia menghela nafas berat.
“Accomplished!” jawabnya semangat.
*
Latihan drama yang melelahkan dan Personel Super Junior yang belum hafal skrip membuatku benar-benar stress. Drama ini murni usulku dan merupakan tanggung jawabku. Mereka memintaku agar mengubah teksnya ke dalam bahasa Korea, namun aku menolak.
“Bukannya konser ini didedikasikan untuk penggemar? Apa gunanya merancang drama yang hanya dipahami pemainnya?” jawabku ketus pada Pak Johan saat dia juga ikut merayuku mengubah teks dramanya. Kyuhyun menghampiriku. Memintaku menyimak teks dramanya. Aku mengangguk sambil memegang teks dramanya.
Ia mulai melafalkan percakapannya dan beberapa kali membuat kesalahan. Aku tersenyum sambil mengingatkannya bagian-bagian yang kurang sempurna.
Aku baru menyadari ada yang tidak beres dengan Kyuhyun. Wajahnya sedikit pucat. Matanya juga agak merah.
“Kau sakit?” tanyaku. Ia mendongak menatapku sejenak.
“Hanya flu sedikit”
Kini wajahku yang pucat. Dia tidak boleh terkena flu! Bukannya dia vokalis utama di konser nanti? Apakah ini karena minuman dingin yang selalu kuberikan padanya dari kemarin?
“I’m Fine…” ujarnya sambil mempelajari teks dramanya lagi. Selepas latihan aku menelpon dokter dan membawa Kyuhyun ke kamarnya untuk diperiksa. Dia menolak dan bialng tak suka minum obat. Aku ingin sekali memukul kepalanya saat dia keras kepala seperti sekarang. Apa dia tak tahu kalau dia sakit aku yang menderita? Bisa-bisa Pak Johan memecatku kalau dia tahu aku yang membuatnya flu begini.
Dokter memeriksanya sebentar dan memberikan resepnya padaku. Dokter itu sedikit terkejut menatap wajahku.
“Anda terlihat lebih sakit darinya nona..” kata dokter itu sambil tersenyum. “Sepertinya anda butuh istirahat”
Kyuhyun mengamati dokter itu. Untungnya dia tidak mengerti bahasa Indonesia sama sekali.
“Saya baik-baik saja dok… kalau konsernya sudah selesai saya pasti istirahat” jawabku sambil mengantar dokter itu keluar. Aku menghampiri Kyuhyun yang sedang berbaring di tempat tidurnya.
“Dokter itu bilang apa?” tanyanya pelan.
“Emh… Kau disuruh minum obat teratur dan istirahat” jawabku sekenanya.
“Sepertinya dokter itu ingin memeriksamu juga…kau terlihat mengerikan” Kyuhyun menyahut. Aku mengambil air di atas meja dan menyodorkan obat padanya. Dia mengamati obat yang kupegang dengan sebal. Pada akhirnya, dia meminum obat itu. Aku menyuruhnya tidur dan melempar selimut ke arahnya. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan laptop.
Buru-buru aku merebut dan memasukkan laptopnya kedalam tas yang kutaruh di lantai.
“Kau harus tidur Kyuhyun-shii” kataku. Dia diam saja sambil berlagak akan tidur.
“Kalau kau sakit, aku akan menderita” ujarku kemudian. Dia menatapku sambil tersenyum. “Aku bisa dipecat”
Wajahnya kembali datar lagi mendengar ujung kalimatku. Aku berbalik menuju pintu. Aku ingin segera sampai di kamarku dan tidur sepuasnya sebelum pagi datang.
Kakiku tak sengaja mengantuk tas laptop Kyuhyun di lantai dan membuatku limbung. Kepalaku membentur ujung meja. Sepertinya aku pingsan.
*
Aku malu sekali setelah pingsan di kamar Kyuhyun hingga dia terpaksa tidur dikamar Donghae. Saat mataku terbuka, Alia ada disampingku.
“Kau pingsan lagi.. apa kau sengaja cari perhatian Kyuhyun?” katanya bergurau. Aku menggeleng.
“Aku lelah sekali”
“Manajer mengijinkamu istirahat sampai sore nanti… jangan lupa minum obatmu, aku akan ke ruang latihan” ujar Alia. “Eh, ayo kuantar ke kamar kita… jangan tidur disini…”
Aku tertawa dan bangkit berdiri menggayut di pundak Alia. Saat melewati kamar Heechul, kulihat Alia celingukan mencarinya.
“Kelihatannya dia sudah berangkat ke ruang latihan..” gumam Alia.
“Kau terlihat akrab dengan Heechul akhir-akhir ini Al…” komentarku. Dia menoleh dan memukul kepalaku.
“Kau ini… dia bersikap manis akhir-akhir ini… jadi aku berusaha tampil baik hati sebisaku” katanya kemudian. “Sebenarnya dia baik hati kok…”
Aku meliriknya.
“Sepertinya Sora-shii mulai kecantol nih…” godaku.
*
Sore ini kami berlatih di Balai Sarbini. Panggung sudah 70% rampung. Aku cukup puas dengan garapan Andre. Konsep Background pangggung dibuatnya berbeda dengan Konser Super Junior sebelumnya. Ia membuat dua panggung utama yang didesain seperti arsitektur bangunan Eropa abad pertengahan untuk drama musical dan satu panggung berkonsep 3D untuk konser dengan tulisan ‘Krazy-Bonk’ –nama perusahaan kami- besar dan tulisan ‘Super Junior’ yang tiga kali lipat lebih besar.
Rencananya konser akan berlangsung 3 jam, satu jam istirahat dan ditambah satu jam ekstra untuk drama musical.
Personel Super junior berlatih keras diatas panggung sambil mempelajari kondisi panggung. Andre menyiapkan sangkar kotak besar di atap panggung, tangga ulur, dan banyak kejutan lain yang butuh latihan sebelum menggunakannnya.
Aku belum bertemu empat mata dengan Kyuhyun sejak semalam. Ia terlihat serius berlatih drama dan berlatih koreo bersama personel lainnya sehingga aku tak berniat mengganggunya. Aku hanya mengawasinya dari jauh sambil berkeliling mengamati panggung dan sound system. Aku ikut duduk di bangku penonton, mengecek jarak pandang dan tata lampu.
Aku tak sadar mengapa mataku terpaku lama sekali menatap Kyuhyun yang sedang berlatih menyanyi dengan Yesung.
Apakah biasanya dia memang setampan ini?
*
Setengah sepuluh malam. Kru dan personel kembali ke hotel dengan bus. Aku duduk di belakang bersama Alia. Kakiku sakit sekali karena terus berkeliling sejak sore.
Turun dari bus, para personel bergegas menuju kamar mereka. Aku sendiri juga tak sabar untuk segera memejamkan mata. Kulihat Alia masih membicarakan sesuatu dengan Heechul. Wajahnya terlihat kesal. Pasti mereka bertengkar lagi. aku sudah hampir masuk lift saat Kyuhyun menyapaku dari belakang.
“Are you okay?” tanyaku begitu melihatnya. Dia tertawa.
“Seharusnya aku yang tanya begitu” jawabnya sambil memukul kepalaku.
“Kau sudah tidak flu?” tanyaku lagi. Aku mengamati wajahnya agak lama. Dia sudah tidak terlihat pucat. Aku memegang dahinya sambil berjinjit. Badannya juga sudah tidak panas.
“Kau belum jawab pertanyaanku” ujarnya.
“Kau juga belum jawab pertanyaanku” balasku. Kami masuk lift menuju lantai sebelas.
“Aku baik. Sudah tidak flu. Kau sendiri apa sudah baikan?” tanyanya balik. Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Suaramu bagus” komentarku pendek.
“Aku sudah tahu” jawabnya.
“Aku baru tahu” komentarku lagi. Dia menjitak kepalaku.
“Kau mengamatiku ya?” katanya. Aku menatapnya.
“Tentu saja. Aku khawatir suaramu hilang saat menyanyi karena flu-mu kemarin” balasku cepat.
“Hati-hati… jangan menatapku terlalu lama kalau aku sedang menyanyi” ujarnya sambil tersenyum. “Kau bisa meleleh..”
Aku memukul kepalanya dengan naskah drama di tanganku.
“Kau tidak malu bilang begitu padaku sementara masih ada Siwon-shii yang jauh lebih tampan darimu?”
Kyuhyun menggeleng bangga.
“Suaraku jauh lebih tampan dari siapapun di Super Junior” jawabnya sambil tertawa. “I’m The Most…”
Aku memukulnya lagi.
*
Sebelum tidur aku mengamati daftar pekerjaanku untuk besok. Aku juga masih harus belajar bahasa Korea sebelum tidur. Alia masih belum kembali ke kamar. aku mengiriminya pesan agar segera kembali ke kamar.
Beberapa menit kemudian dia tiba dikamar. Wajahnya keruh.
“Ada apa?” tanyaku.
Dia tidak menjawab dan malah berteriak sambil meremas selimut.
“AKU BISA GILA!!!” teriaknya.
“Pasti soal heechul lagi..” tebakku. Dia masih berteriak sambil meremas selimut dan melempar bantal ke lantai.
“Apa kau tak bisa merubah teks drama Heechul menjadi bahasa Korea?” tanyanya saat dia mulai tenang. Keningku berkerut.
“Tidak. Tentu saja tidak boleh begitu. Personel lainnya juga kesulitan menghafal skrip tapi dia memang harus melakukannnya”
“KAU TIDAK AKAN MENGERTI!!… aku hampir mati kesal karena memaksanya menghafal naskah!” teriak alia lagi. “Mengapa harus dia pemeran utamanya my?… Mengapa kamu kasih dia dialog sebanyak itu?… aku bisa mati kalau terus-terusan menyimaknya membaca naskah itu puluhan kali,…”
Aku mengelus kepala Alia dan merangkul pundaknya.
“Itulah mengapa aku menyuruhmu menjadi asisten pribadinya.. hanya kamu yang mampu mengurusnya Al..”
“Kalau begitu aku menyerah…” jawabnya sambil menangis. Aku mengambilkannya minum.
“Tidurlah dan jangan berpikir apapun saat ini… okey?”
*
Aku merasa hari-hari menuju konser terasa semakin berat. Alia jatuh sakit pagi ini. Badannya demam. Hari ini, aku akan mengurus dua orang personel sekaligus. Heechul dan Kyuhyun. Membayangkannya saja aku sudah lelah.
Setelah memasukkan kamera, naskah drama dan agenda kegiatanku ke dalam tas aku beranjak ke kamar Kyuhyun. Dia sedang mengikat tali sepatunya. Wajahnya terlihat cerah.
“Baguslah kau sudah bangun.. sepuluh menit lagi bus berangkat, kau sudah siap kan?” tanyaku padanya. Dia mengangguk sambil mencangklong tasnya.
“Kau pergi ke Bus dulu, aku masih ada urusan” ujarku pendek. “Butuh bantuan?” tanyanya.
“Tidak… aku bisa sendiri”
Dia keluar kamar dan menuju lobi. Aku segera mengetuk pintu kamar Heechul.
*
Heechul sangat merepotkanku pagi ini. Dia terus mengomel karena kami telat naik bus dan terpaksa berangkat dengan mobilku. Dia bilang seharusnya aku membangunkannya sejam sebelum bus berangkat. Aku melotot tak percaya mendengarnya. Katanya, dia butuh setengah jam untuk sadar dari tidurnya. Saat dia tahu Alia sakit, dia mengomel lagi dan mengatakan kualitas kerjaku tak seprofesional Alia. Aku focus menyetir dan menaikkan volume DVD player di mobilku.
Sesampainya di lokasi, aku melihat Kyuhyun berlatih diatas panggung bersama personel lainnya. Melihat Heechul baru datang, mereka heboh menyambutnya.
Dari kursi penonton, aku terpaku menatap Kyuhyun lagi.
Apakah dia memang setampan ini biasanya?
*
Konser akan dilangsungkan malam ini. aku tak bisa tidur semalam karena harus memeriksa semua persiapan panggung bersama dengan kru lainnya. Sore ini, semua sudah terlihat sempurna. Tata panggung, tata lampu dan kostum personel sudah disiapkan dengan baik.
Kyuhyun duduk di sebelahku, masih serius mengulang-ulang naskah dramanya. Aku meliriknya dan menyodorinya minuman. Dia tak bergeming.
“Aku tidak bisa” katanya lirih. Aku menoleh menatapnya.
“Naskah ini?” tanyaku memastikan bahwa dia bicara mengenai drama musical nanti.
“Apa lagi?.. panjang sekali dialognya…” keluhnya.
“Kau bisa” balasku singkat.
“Aku tidak yakin bisa melakukannya dengan baik”
Aku menaruh headsetku di meja dan berbalik merebut naskah dramanya.
“Kalaupun kau tak bagus melakukannya, semua pasti maklum… hanya saja, apa kau tega mengecewakan kami semua?”
“Jangan bilang begitu, aku makin tertekan”
Aku tertawa dan merangkul pundaknya.
“Kyuhyun-shii… all iz well” ujarku.
Dia menoleh menatapku sinis.
“Sejak kapan kau jadi sok akrab begini?” katanya sambil menyingkirkan tanganku dari pundaknya.
“Sejak aku meleleh” kataku sambil tertawa lebih keras.
“Sudah kuduga akan jadi begini” katanya bangga. Aku memukul kepalanya dengan headset.
*
Konser dimulai. Walaupun semua terlihat kelelahan sebelum konser dimulai, ternyata konser musiknya berlangsung lebih heboh dari dugaanku. Aku duduk dengan headset menempel di telingaku. Disebelahku, Andre sibuk mengatur volume dan menginstruksi anak buahnya. Aku melirik jam tanganku. Lima menit lagi, mereka akan ganti kostum. Aku bergegas menuju ruang ganti dan menyiapkan baju Kyuhyun.
Tepat lima menit kemudian mereka keluar panggung. Kyuhyun terlihat berkeringat namun memaksa tersenyum. Para personel masih saling berkomentar tentang sambutan penonton Indonesia. Aku menydorkan baju Kyuhyun dan menyuruhnya segera ganti.
Saat itu, mendadak Heechul dan Alia menyeret tanganku.
“Ada apa?” tanyaku khawatir.
Heechul menoleh beberapa kali dan menggenggam tanganku. Aku hanya mengamatinya dengan tatapan aneh.
“Untuk adegan pesta topeng, aku ingin kau membantuku”
“Tentu saja, apa yang bisa kubantu?” sambutku dengan tersenyum.
“Aku ingin kau menggantikanku sebagai putrid pada adegan pesta topeng, kulihat tinggi badanmu sama denganku.. jangan khawatir, takkan ada yang tahu, bukankah nantinya kau akan memakai topeng, bagaimana?”
Mataku melotot. Bagaimana dia bisa berpikir sesinting itu?.
“Aku bisa dibunuh fans-mu kalau aku sampai melakukannya..”
“Aku berjanji takkan terjadi apa-apa… aku benar-benar tak bisa menghafal skripnya.. ayolah amy-shii…” rajuknya masih dengan memegangi lenganku. Alia dibelakangnya ikut menangkupkan tangan merayuku. Saat itu, kulihat Kyuhyun keluar dari kamar ganti.
Ia menatapku agak lama. Buru-buru aku menarik tanganku. Namun Heechul tak mau melepasnya. Dengan berbisik dia bilang akan melepasnya kalau aku bilang ‘iya’. Aku masih bersikeras menolak dengan bahasa isyarat.
Saat itulah beberapa personel lainnya ikut mengamatiku. Aku menunduk dan menghujat Heechul dalam hati. Ia menatapku penuh pemaksaan hingga akhirnya aku bilang ‘iya’.
*
Badanku gemetar. Adegan pesta topeng akan dimulai sepuluh menit lagi. Heechul bersembunyi di kamar mandi dan terus-terusan mengirimiku pesan singkat memastikan aku akan menggantikannya. Alia yang berdiri disampingku menggenggam tanganku lebih erat.
“Kau pasti bisa my… aku tahu kamu hafal dialognya luar kepala”
Aku menunduk. Membayangkan apa yang akan terjadi diatas panggung. Aku akan masuk panggung dua menit setelah Yesung keluar panggung. Bajuku yang sengaja dibuat kebesaran untuk menyembunyikan bentuk tubuhku terasa sangat berat di pundakku.
Kyuhyun menarik tanganku. Aku menoleh menatapnya dari balik topeng.
“Heechul-hyung, ada apa?”
Mendadak aku ingat sesuatu yang hampir kulupakan sebelumnya, suaraku!.
“Emh.. apa maksudmu?” dengan berdehem aku mengubah volume suara. Ia menatapku agak lama.
“Dengan Amy-shii.. apa yang kau lakukan tadi?” tanyanya menyelidik.
Aku menoleh tak percaya dia menanyakan peristiwa bodoh tadi. Untungnya, ia tak menyadari perubahan suaraku.
“Oh… aku minta tolong padanya”
Kyuhyun masih penasaran. “Minta tolong apa?”
“Mengapa aku mesti memberitahumu?” tanyaku balik. Dia tertawa dan menggaruk kepalanya. Saat itulah, Andre memberiku kode agar masuk panggung.
Aku benar-benar gugup. Adegan diimulai dengan menampilkan Eunhyuk dan aku yang tengah bergurau sambil mencicipi hidangan pesta. Eunhyuk dengan sangat berantakan membolak-balik dialog bahasa Inggrisnya. Aku menjawab gurauannya sebisaku.
Semuanya berjalan lancer hingga adegan munculnya Kyuhyun. Entah mengapa, dia kelihatan sangat tampan malam itu. matanya yang tajam membuatku menunduk saat ia mendekat. Aku salah tingkah.
“Is this a florist?” tanyanya dengan logat Korea. Aku mendongak menatapnya.
“I don’t think so… my Highness..” jawabku kaku.
“How can I think it’s not a florist since you’re so beautiful such a kind of Blue Rose..” balasnya diiringi teriakan riuh penonton. Aku melihatnya tak berkedip.
“Are you okay?” tanyanya sambil mengambil tanganku dari genggaman eunhyuk. Ia melihat tanganku seperti menemukan sesuatu yang aneh. Tentu saja ukuran tanganku tidak sebesar tangan Heechul dan mungkin dia menyadarinya. Aku menarik tanganku sopan.
Saat itu dialog berkembang menarik. Mereka bertengkar dengan bahasa Korea.
“Can you just leave me alone?” tanyaku akhirnya. Mereka melongo karena dialogku keluar dari naskah. Aku menutup mulutku sendiri dan mereka masih tertegun dengan perkataanku barusan.
“My highness.. It’s really a big pleasure to be able to meet you here.. I’m really thankful for your coming..” ralatku kemudian. Eunhyuk menarik tanganku dan mengajakku menjauhi Kyuhyun.
“Do you really wanna leave me for this jerk?” ujar Kyuhyun sambil menatap Eunhyuk garang. Eunhyuk balas menatap, tapi ia diam saja. Aku segera membisikinya dialog yang harus ia ucapkan. Sekali lagi ia menatapku aneh.
“Who do you think you are… you would have been dead if I didn’t help you at that car accident..” sela Eunhyuk diiringi tepukan penonton. Dialog ini sengaja kumasukkan dalam skrip untuk mengingatkan kembali peristiwa kecelakaan Kyuhyun pada 2007 silam. Ia sempat koma dan dirawat beberapa bulan di Rumah Sakit, yang menolongnya saat itu adalah Eunhyuk.
“I’m sorry but I don’t remember that I’ve ever known someone aslike you in the past… are you my lost housemaid?” penonton tertawa lagi. Kyuhyun terlihat sangat ahli menjadi orang menyebalkan seperti perannya saat ini.
“Oh my Lord… I don’t think we need to continue this stupid stuff… but would you mind dancing with me?” ujarku seraya melepas genggaman Eunhyuk dan menarik tangan Kyuhyun menuju lantai dansa. Eunhyuk pura-pura terpukul disambut dengan sorakan penonton yang menggila karena acting Eunhyuk yang konyol.
Kyuhyun memegang punggungku. Aku gugup setengah mati. Aku sering melihat orang berdansa namun tak pernah sekalipun aku melakukannya ataupun berpikir akan melakukannnya. Hak sepatuku yang tinggi memperburuk keadaan. Untungnya, Kyuhyun sedikit menguasai keadaan, beberapa kali dia menolongku yang akan terpeleset ujung gaunku sendiri.
Penonton berteriak-teriak melihat adegan ini. Mungkin mereka berpikir aku pura-pura terjatuh. Kyuhyun –seperti biasanya- memandangi bangku penonton sambil mengumbar senyum.
Adegan berlanjut dengan percekcokan kecil Eunhyuk yang terus-menerus terpojok karena aku sendiri membela Kyuhyun terang-terangan, mengabaikannya yang merupakan temanku sejak kecil. Eunhyuk dan Kyuhyun berakting dengan konyol. Mereka melakukan adegan-adegan spontan dan agak mengkhawatirkan.
Eunhyuk mendorong Kyuhyun hingga nyaris terjatuh dari panggung, Kyuhyun memukul kepala eunhyuk dengan pedang imitasinya, dan banyak dialog Korea keluar dari percakapan mereka. Aku bersyukur bisa melakukan bagian heechul dengan baik, bahkan euhnhyuk bilang suaraku benar-benar seperti wanita. Aku tertawa dalam hati mendengarnya.
Adegan ditutup dengan dialog yang membuatku tak bisa tidur pada malam-malam berikutnya. Dengan tatapannya yang tajam, Kyuhyun berkata “I think I love you..”
*
Keluar dari panggung, Kyuhyun merangkul pundakku dan mengomentari berat badanku yang mendadak ringan. Aku hanya tersenyum tak bereaksi. Alia memanggilnya.
“Kemana Amy-shii?” tanyanya kemudian. Aku buru-buru menghilang menuju kamar mandi.
Dari arah Kamar mandi tamu pria, kulihat heechul merunduk menarik tanganku.
“Bagaimana?” tanyanya penasaran.
“Aku hampir mati gemetaran… untung saja tak satupun curiga ini bukan kau..” jawabku kesal.
“Kudengar dialogmu lancar..” komentarnya lagi.
“Tentu saja… aku yang menyusun skripnya bagaimana mungkin aku bisa lupa?” balasku.
“Baiklah, sebagai gantinya.. aku akan mengabulkan permintaanmu nanti…” katanya kemudian.
“Kau banyak bicara sekali… Kim Heechul..” balasku. Dia melotot.
“Kau pikir usiamu berapa memanggilku Kim heechul?” katanya sambil tertawa. Aku menutup mulutku sambil tertawa. Heechul memang terkenal sebagai sosok yang sangat peduli etika berbahasa seperti memanggil shii atau Hyung pada seseorang yang lebih tua.
Ia menjitak kepalaku dan menyuruhku segera ganti baju.
“Pikirkan tawaranku tadi… hubungi aku kalau kau sudah tahu apa yang kau inginkan..” teriaknya sambil berlari menuju ruang make-up.
*
Drama musical akhirnya selesai juga. Seluruh kru dan personel Super Junior merayakan pesta di lobi hotel. Aku menyelinap keluar hotel mencari udara segar. Aku ingin berkunjung ke depot makanan di sebelah perempatan jalan yang berhadapan dengan hotel. Aku lapar sekali dan sedang alergi dengan kebisingan. Konser malam ini nyaris membuat telingaku meledak saking ramainya,dan aku merasa tak akan sanggup mendengar suara bising lagi.
Depot lesehan itu sedang sepi malam ini. Hanya ada dua orang yang mungkin tengah pacaran di meja paling pojok. Aku merebahkan kepalaku ke meja kecil di depanku. Ponselku bordering. Aku tak berminat mengangkatnya. Aku sedang benar-benar ingin sendiri.
Pada akhirnya, karena di layar ponsel tertera nama ‘Kyuhyun’, aku mengangkatnya setengah hati.
“Yoboseyo”
“Kau dimana?” Kyuhyun menanyaiku.
“Aku sedang makan” jawabku sekenanya.
“Dimana?”
“Aku sedang ingin sendiri Kyuhyun-shii..”
“Dimana?” Dia masih ngotot. Aku menunduk sebal.
“Di depan hotel, sebelah minimarket, ada apa?”
“Aku akan kesana”
*
Malamku yang damai terancam terusik. Kyuhyun dengan kacamata besar dan syal menutupi sebagian wajahnya berjalan menghampiriku.
“Kau tak bawa bodyguard?” Tanyaku saat dia sudah duduk.
“Tidak” jawabnya singkat.
“Kenapa kesini? Apa hyungmu tahu kau keluar?” tanyaku lagi.
“Aku ingin makan…”
“Disini tidak ada makanan Korea… bukannya di hotel banyak sekali makanan?”
“Apa kau keberatan aku disini?” tiba-tiba dia bertanya serius.
“Tentu saja tidak..” jawabku. “Hanya saja aku takut ada fans yang tahu kau disini, dan suasana jadi ribut..”
“Oh…kalau begitu aku berjanji tak akan ketahuan” ujarnya dengan polos. Aku memanggil pelayan dan memesan makanan untuknya.
Makanan belum datang dan aku memanfaatkan meja di depanku untuk tidur sejenak. Aku tak menggubris seruan Kyuhyun yang melarangku tidur disana. Berkali-kali tangannya mengguncang kepalaku yang terkulai di meja. Aku tak peduli hingga kemudian aku merasa kepalaku dingin.
“APA YANG KAU LAKUKAN!!!!….” teriakkku saat menyadari kepalaku disiram air es oleh pemuda sialan di depanku. Dia tertawa terbahak-bahak melihatku yang tak mengantuk lagi. Dengan sepenuh hati, aku menarik kemejanya dan memasukkan es batu ke dalam punggungnya.
*
“Seharusnya kau bersikap lebih baik padaku, bukankah besok aku akan langsung kembali ke Korea dan k au takkan bisa menemuiku lagi?” Tanya Kyuhyun sambil mengaduk minuman didepannya.
“Apa untungnya buatku?” jawabku ketus.
“Bukan masalah keuntungan … ini satu-satunya kesempatanmu bertemu denganku” ujarnya dengan mulut penuh nasi. “Lagipula kau tak mungkin bisa ke Korea, dan aku juga tak mungkin ke Indonesia hanya untuk menemuimu..” ucapnya lagi.
Dalam hati aku membenarkan ucapannya.
“Aku juga tak punya niat mencarimu” balasku kemudian.
“Kau akan merindukanku. Percayalah padaku” sangkalnya. Aku tertawa dan meneruskan makanku. “Hechul-hyung bilang akan kesini…” lanjutnya.
Aku melotot.
“Apa kau bilang? Dia mau kesini?”
“Iya…” jawabnya santai.
Aku tak menyentuh sendokku lagi. Tak berselera makan. Aku ingin pergi ke kamar dan tidur sepuasnya daripada disini dan ikut bercakap-cakap dengan Heechul dan Kyuhyun. Pasti akan bising sekali. Aku tak ingin bertemu dengan Heechul mala m ini. Itu akan membuatku teringat adegan di panggung dengan Kyuhyun tadi.
“Kau mau kemana?” Kyuhyun melirikku yang tiba-tiba berdiri merapikan jaket.
“Aku mau kembali ke kamar” jawabku malas. Dia mendongak menatapku.
“Disini saja… jangan pergi dulu,” katanya.
“Aku sedang ingin sendiri” kataku.
“Oke. Aku akan melarang Heechul Hyung kesini” ujarnya buru-buru. Tangannya menarik tangan kiriku yang berada di saku jaket. Aku kembali duduk dan meneruskan makanku.
Seorang wanita berambut panjang dengan syal dilehernya tiba-tiba mendekat. Dia berbicara pada Kyuhyun dengan Bahasa Korea cepat. Aku meliriknya sebal. Siapa lagi yang diundang Kyuhyun kesini?
Perempuan itu mencopot syalnya. Aku melotot sambil membenahi kacamataku.
“Heechul-shii?” ia tak menjawab dan hanya tertawa sambil memesan makanan. Dia benar-benar cantik walaupun tanpa make-up, lebih cantik dari dugaanku. Alia dibelakangnya ikut duduk disebelahku.
Heechul meminta maaf padaku karena pesan Kyuhyun yang membatalkan undangan makannya baru diterimanya saat ia sudah di pintu masuk depot. Aku mengangguk dan tersenyum pasrah, pura-pura tak keberatan –walaupun hatiku tak sabar ingin menimpuk kepala Kyuhyun dengan botol kecap didepanku-.
“Kau sudah memikirkan tawaranku tadi?” ucap Heechul tiba-tiba. Aku menatapnya semakin kesal. Mengapa dia harus menanyakan masalah beginian di saat seperti ini?.
“Belum… aku sedang tak ingin apapun sekarang…” jawabku lesu. Kyuhyun melirikku dan Heechul bergantian.
“Tawaran apa?” Kyuhyun ikut bertanya. Heechul mengangkat sumpitnya sambil menyendookan sup ke mangkukku. Aku melihatnya curiga.
“Ehmm… aku punya bisnis dengan Amy-shii..”jawab Heechul. Kyuhyun hanya mengangguk sok mengerti.
“Hyung… aku kaget sekali mendengar bahasa Inggrismu tadi..”
Heechul dan aku berhenti minum bersamaan. Aku menunduk.
“Yang mana?” dengan professional, Heechul memasang wajah cuek.
“Adegan pesta topeng…kau bicara sangat lancar dan panjang, dan hei… bukannya kemarin kau mengajariku dansa.. mengapa tadi terlihat kaku sekali? Apa kau sangat gugup berhadapan denganku?” Tanya Kyuhyun sambil tertawa. Heechul mendengus.
“Apa kau bilang? Aku gugup?”
“Ya… bahkan kau terpeleset empat kali…” jawab kyuhyun masih dengan tertawa.
Heechul menatapku. Aku meneguk minumanku sambil menoleh ke arah Alia. Heechul terlihat ingin mengunyahku mentah-mentah.
“Bajunya terlalu besar.. kau tahu sendiri.. aku alergi sekali dnegan baju berat seperti itu..” balasnya lagi. dalam hati aku berdoa agar Kyuhyun segera menghentikan kebawelannya. Sayngnya, pemuda itu tak merasa hidupku sedang terancam. Dia terus saja bicara.
“Dan.. aku jadi penasaran.. apakah aku yang salah atau kau yang berubah, apakah tanganmu memang kecil?”
Heechul melihatku lagi. tangannya terangkat ke atas meja. Kyuhyun memegang dan mengamatinya.
“Hei.. kenapa tanganmu membesar?” komentarnya yang segera disambut jitakan Heechul.
“Mengapa kau jadi bawel sekali? Kau tadi pasti salah memegang tangan yesung..” jawabnya.
Kyuhyun terdiam beberapa jenak.
“Apa mungkin? Seingatku pada adegan itu.. Yesung-hyung tak masuk panggung…” komentarnya lagi.
“Itulah mengapa aktingmu buruk sekali… kau terlalu focus memikirkan hal-hal tidak penting.. mengapa kau memikirkan ukuran tanganku?… untung saja kau tak melupakan isi dialogmu” balas Heechul.
Sepanjang malam, Kyuhyun dan Heechul meneruskan komentar mereka tentang konser malam ini. Yang membuatku cukup kagum adalah bahwa Alia juga ikut nimbrung. Aku yang mendengarkan hanya merasa pusing. Menurutku Bahasa Korea terlalu banyak mengandung vocal ‘o’. Walaupun aku paham apa yang mereka katakan, aku sama sekali tak berminat untuk ikut bicara.
Pada akhirnya aku memutuskan menggeser pantatku ke belakang dan menyandarkan kepalaku ke tembok. Mataku berat sekali.
*
Alia menepuk pipiku. Aku membuka mata dan cukup terkejut menyadari sinar matahari menerpa wajahku. Buru-buru kutarik selimutku dan pura-pura masih tertidur.
Alia menarik selimutku dan memaksaku duduk.
“Hei.. aku dimana?” tanyaku dengan mata setengah terbuka.
“Kau tertidur di depot kemarin malam”
Ingatanku setengah pulih.
“Lalu?”
“Selamat! Akhirnya Kyuhyun membopongmu kesini!” aku tak merasa ngantuk lagi mendengar jawaban Alia. “Tak salah kalau Kyuhyun menyangkamu pingsan waktu kau tergeletak di Bus dulu… kau benar-benar seperti mayat kalau sedang tidur..”
Aku tersenyum sendiri.
“Apa ada yang tahu dia membopongku kesini?” tanyaku lagi.
“Tenang saja, hanya Leeteuk-shii dan Yesung-shii yang tahu.. para kru dan personel sudah pada tidur” jawab alia santai.
“Jam berapa sekarang?”
“Jam delapan. Cepat mandi sana… kita akan ke Bandara jam sepuluh nanti”
“Secepat itu mereka balik ke Korea?” tanyaku sangsi.
“Mereka orang sibuk… jadwalnya padat.. sudah seminggu di Indonesia, mestinya banyak event yang di-cancel.. makanya segera balik setelah konser selesai, .. eits… jangan bilang kamu keberatan my..”
Aku menggeleng sambil merapikan rambutku.
“Maksudmu?”
“Kyuhyun-shii….pasti kau mulai menyukainya” Jawab Alia sambil menarik rambutku. Aku melotot ke arahnya.
“Sepertinya akan lebih tepat kalimatnya kalau kau yang keberatan… kau pasti patah hati ditinggalkan Heechul-shii ke Korea” balasku antusias. Sebelum Alia sempat menarik rambutku lagi, aku segera menutup pintu kamar mandi.
*
Seperti perkiraan semua kru, para penonton konser Super Junior tadi malam memenuhi pintu masuk bandara. Bising sekali. Panitia promotor sibuk mengemasi koper milik personel Super Junior.
Aku dan Alia merapat masuk rombongan personel. Alia tampak berkaca-kaca memandangi punggung Heechul-yang sedang twitter-an-. Aku melirik Kyuhyun dan pura-pura merapikan tasnya. Menuju lobi ruang tunggu, para Personel Super Junior melambaikan tangan ke arah penggemar yang berjubel di Bandara.
Mereka juga mulai mengucapkan selamat tinggal sambil membungkukkan badan pada para kru panitia.
Aku hanya menunduk dan sesekali menatap Kyuhyun. Siang ini aku sengaja memakai kacamata agar tak ketahuan kalau-kalau aku menangis nantinya.
Kyuhyun menyalamiku dan memelukku sebentar. Ia membungkukkan badan sambil mencopot kacamataku. Dia tertawa melihat mataku yang berkaca-kaca dan memasangkan kacamataku lagi. dia tak bicara apa-apa dan meneruskan pelukan selamat tinggalnya pada kru yang lain. Aku menatapnya terus hingga sosoknya hilang dibalik tangga pesawat. Disebelahku, Alia berdiri dengan ekspresi memprihatinkan -menangis terisak-isak-. Ia memeluk pundakku saat pesawat lepas landas.
“Kim Heechul …” bisiknya sambil menangis di pundakku.
Aku menepuk pundaknya. Aku tak mengerti mengapa aku harus sebegini sedih melihat Kyuhyun kembali ke tanah airnya.
Saat itulah terpikir olehku untuk mengirimi Heechul pesan sebagai jawaban atas tawarannya kemarin malam. Aku sudah tahu aku ingin apa sekarang.
*
Tahun baru 2012.
Aku baru saja merapikan mejaku yang berantakan siang itu. Daftar kerjaku menumpuk dimana-mana. Mejaku yang memang asalnya sempit terlihat semakin menyedihkan, apalagi ditambah dengan foto-foto Kyuhyun –yang kutempel di setiap space kosong mejaku tiap kali ada kiriman fotonya mampir di emailku-.
Pak Johan memanggilku ke ruang kerjanya. Dia bilang punya kejutan untukku. Perasaanku sedikit cemas mengingat kejutan pak Johan bulan lalu hampir saja membunuhku, aku dan Alia ditugasi meliput konser Krisdayanti di Timor Leste dengan uang saku ‘ngepres’.
Sesampainya didepan kantor pribadi Pak Johan, Pak Johan memberiku amplop. Ada logo ‘MTV Music Award’ di sampulnya. Aku mengernyit.
“Ini undangan untukmu, kau boleh mengajak Sora kesana” ujar Pak Johan sambil tersenyum lebar. Sejak konser Super Junior setahun yang lalu, pak Johan masih ‘setia’ memanggil Alia dengan sebutan ‘Sora’.
Buru-buru tanganku menyobek amplopnya, hingga isinya ikut tersobek sedikit.
“MTV Music Award?”
“Iya… acaranya dihelat di Chicago” Pak Johan memberitahuku. “Meliput acaranya? Kok saya? Tumben banget pak?” tanyaku bawel. Biasanya, aku selalu kebagian interview artis domestik karena kemampuanku yang sangat standar dibanding jurnalis lainnya. Pak Johan meraih gulungan karton disebelahnya dan memukulkannya ke kepalaku.
“Baca dulu”
Aku menunduk dan membacanya tergesa-gesa. Aku masih tak paham mengapa aku diundang ke MTV Music Award kalau tidak untuk meliput berita disana.
Di amplop itu juga ada dua tiket pesawat ke Chicago. Saat aku akan bertanya lagi pada pak Johan, secarik kertas dengan tulisan jelek terbaca olehku.
“Amy-shii… Super Junior just won the first place for the Most Outstanding Music Video in MTV Music Award. Wanna be there?, Let’s go to Chicago. I wait for you.. see ya, Kyuhyun. P.S : It is 100% free for you and Sora-shii”
*
“Maaf karena aku baru bisa mengabulkan keinginanmu sekarang walaupun bukan tiket ke Korea. Karena kupikir, point pentingnya bukan ‘Korea’, tapi ‘Kyuhyun’. Aku benar, kan?. Aku akan menunggumu di Chicago bersama pangeranmu itu. Jangan lupa bawa Sora-shii dan jangan pakai jaket merahmu dulu. Kau mengerikan sekali saat memakainya” pesan dari Heechul yang sangat kutunggu setahun-an ini, sampai juga di ponselku.
Aku membacanya dengan terisak. Hatiku sesak dan terasa penuh air mata hingga tak mampu berkata apa-apa. Aku tak pernah menduga bahwa aku bisa melihat pemuda sialan itu lagi.
*
End
Tunggu next sequel…

 

12 thoughts on “The Most

  1. yeayyy… ada jugaaaa ketemu… ^^
    Hai, aku yang tadi di facebook heheheee…

    Salam Kenal yak saeng ! Keep writing ^^

    kalo ada ff baru, tag ak ya… Essy [Park Yoo Jin]

      1. woaaaaaaa… iya iya…. yang sering bawel… nanyain lanjutan serial H.O.G

        yayayayaa…mianhae,, jangan marah ya saeng kalo aku bawel hahahaaa..

        pada dasarnya, aku emang bawel sm author2 daebak yang punya ff2 kereeennn.. *jempol*

        Kamsahamnida *bow bareng KyuMinEunHaeKangTeukHanChulSiBumShinHenMiYeWook*

  2. Kyaaa, panjangx ff ni tp akhirx bsa bc ampe slsai,, keren, keren.. gatau lg mo komen apa saking terkesimanya ma ceritax.. #lebe. Tp mang bgus..🙂, akankah mreka akn jd KyuMy couple?#ngarang

  3. Huaa… Beruntungnya amy-ssi bs jd asisten kyuhyun >//<
    aku envy abis eonni..
    FF ini jg daebak bgt, dan yg paling penting lg ada sekuel nya #hiphiphore \^-^/
    memang benar kata kyu: jgn terlalu lama memandangku, kau bs meleleh haha
    dan 1 lg
    'suaraku lbh tampan dibandingkan dgn member super junior yg lain' #ya…itu benar kyu, aku akui itu 100% dan tdk ingin ku jual keyakinan itu
    huahaha…
    Gumawo eonni, aku berharap aku yg jd Amy-ssi
    #ngimpiiiii
    gumawo…

  4. dibaca berapa kalipun, ga bakal bikin bosen🙂 dulu sempet nemu di fanpagenya SCF sekarang baca lagi langsung dari sumbernya😀 berharap banget sekuelnya ayo dong… penasaran banget sama nasibnya amy selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s