Nothing but Love

Cerpen romantis saya yang gak jadi….hahahaha, met baca dheh..

Nothing but love
Sudah lama Astrid memperingatkanku untuk tidak berurusan dengan lelaki ini. Mengingat posisiku sebagai Redaktur Karya Ilmiah, akan sangat mungkin bagiku punya urusan dengan Bayu. Sejauh ini, aku tak dekat dengannya. Kami bertemu seminggu sekali saat Rapat Redaksi dan Ia terlihat normal. Aku jadi penasaran, bahaya apa yang ia tawarkan hingga Astrid begitu getol menyuruhku menghindarinya?
Astrid paling takut aku patah hati lagi.
—————-***********—————-
Bayu Ardian adalah ketua umum baru buletin SMA-ku. Orangnya lebih mirip seniman. Berantakan, berbadan menjulang dengan wajah simpatik. Mungkin tampangnya itu daya tarik utamanya. Polos dan agak tampan. Tipikal playboy yang menyusahkan.
Pagi ini ia mengirim pesan padaku,menyuruhku datang ke perpustakaan jam 9 pagi.. Ia bilang ingin bicara denganku.
“Aku sudah lihat tulisanmu Mel ”
Aku mengangkat wajah. Menatapnya malas.
“Kurasa selama ini kau salah tempat, seharusnya kau lebih sesuai di Redaktur Fiksi”
Kepalaku terangkat. Apa dia bilang? Redaktur Fiksi?.
“Tema tulisanmu sangat membosankan, kaku, tulisanmu nyaris sama tiap kali terbit. Mungkin rubrikmu selalu tak terbaca, kau terlalu bertele-tele dan boros kalimat” ia menukas.
Mataku menyipit.
“Ada lagi?” buru-buru aku menjawab.
Ia tersenyum. Menyodorkan secarik kertas.
“Aku menantangmu mengisi Redaktur Fiksi bulan depan, kita bertemu lagi seminggu disini, aku yang mengisi rubrikmu, bagaimana?” Bayu melirikku setengah mengejek.
“Deal” jawabku akhirnya.
—————-***********—————-
Maka, minggu ini berlalu dengan tidak nyaman. Aku memutuskan membuat cerpen. Sangat tidak mudah, dan celakanya aku benar-benar tidak sanggup menyelesaikannya.
Jam 9 pagi, dengan setengah hati aku menemuinya. Ia menyodorkan naskahnya.

Rasa bukan soal kemasan, rasa adalah difusi pelbagai bahan dasar. Kita akan bicara tentang anugrah terunik dari Tuhan atas umat manusia, Cinta. Karena cinta adalah anggota dari “Rasa”, maka menikmatinya juga butuh komposisi rumit. Perpaduan antara karakter dasar, frekuensi interaksi dan kemasan .Jika anda jatuh cinta pada pandangan pertama, percayalah secepat anda menyukainya, secepat itu pula anda akan bosan. Selamat datang di Biografi Rasa.
Aku mati kutu dengan paragraf pertamanya. Lelaki ini benar-banar mimpi buruk. Aku yang sudah setahun mengisi Rubrik Ilmiah-pun tak pernah terbersit membuat tema seabstrak “ Rasa”.
“Bagaimana?” Bayu meminta penilaianku.
“Delapan Lima” jawabku tak berselera. Ia tertawa lebar.
“Mana punyamu?” Ia bertanya lagi.
“Oh..” aku berdehem grogi. “ Kau bisa lihat” Ia meraih kertasku, membacanya sekilas.
“Lumayan…tapi…seperti biasa…terjebak tema…jadi sedikit membosankan…Tujuh Puluh.” Ia berhenti bicara. “Aku punya buku bagus Mel, besok kuantar kerumahmu, dan soal cerpenmu, kuharap besok sudah selesai…”
Aku meliriknya kaku. Rasanya wajahku mengeras.
“Tersenyum sajalah Mel…aku takkan memakanmu kalau kerjaanmu tak beres…bukannya kau sudah biasa begitu…? Hahaha…”
—————-***********—————-
Rapat Redaksi. Tim Editorial murka besar memelototi tulisanku.
“Apa ini? Kau mengarang Essay?” suara Bram menukik di telingaku. Suasana rapat yang sedari tadi memang tegang, semakin meresahkan. Bram adalah lelaki menyebalkan kedua setelah Bayu. Ia memang pendiam, tapi hobi sekali berteriak kalau ada yang kurang beres. Ia menjabat Penanggung Jawab Buletin. Badannya yang besar dan gemuk sempurna menakutiku. Aku memasang senyum sebisaku.
“Sebenarnya ini agak lain dari biasanya” suara Bayu menyahut.
“Bahasanya memang buruk, tapi plotnya menarik, aku bisa perbaiki” lanjutnya enteng.
Bram menoleh melihat Bayu.
“Kau yang pegang…jangan ambil resiko, kau tahu sendiri rubrik fiksi adalah rubrik andalan, kalau tak layak ganti saja,”
Bayu melepas kacamatanya.
“Aku berani jamin”
—————-***********—————-
Sepulang rapat, aku memberanikan diri menyapa Bayu. Kebetulan sepatuku bersebelahan dengan sepatunya.
“Cerpenmu ini memang belum selesai?” ia bertanya sambil membetulkan tali sepatunya.
“Ya…aku tak bisa menyelesaikannya…kau saja”
Bayu tertawa ringan.
“Kau menyerahkannya padaku?” ia melotot senang. “Sebenarnya agak sulit, karena ada efek sampingnya”
“Apanya ?” tanyaku serius.
“Ini kisah nyata kan…? Aku tahu dari awal Mel…” jawabnya. Aku salah tingkah. Memalukan sekali.
“Hmm…aku akan berusaha…dan kuharap benar-benar ada efek sampingnya…benar-benar jadi nyata… hahaha….”
“Darimana kamu tahu?”Bayu taertawa kecut sambil menstarter motornya menjauh. Aku menatapnya hingga ia hilang dibelokan. Aku tahu sekarang, mengapa banyak wanita menyukainya, temasuk Astrid. Kuakui Bayu memang menarik.
—————-***********—————-
Minggu ini majalah Sekolah naik cetak. Aku sedikit demam kemarin sore, jadi aku urung mengikuti rapat final.
Bayu hanya bilang cerpenku sudah ia selesaikan tanpa memberitahuku bagaimana endingnya. Rencananya Senin ini akan terbit. Ponselku berdenyut. Panggilan masuk.
“Hey, non…sudah baca?” suara Bayu dari seberang.
“Buat apa…? Aku sudah baca draftnya” jawabku agak malas.
“Baca lagi halaman 42, nanti hubungi aku, okey non”
Bppp. Ia mematikan ponselnya. Seharusnya aku tak perlu penasaran. Ini pasti tentang ending cerpenku yang ia selesaikan.
Baru beberapa langkah aku bertemu Bram. Ia terlihat gembira.
“Mel…excellent…” sapanya seraya menyodoriku buletin di tangannya, “Cerpenmu, smart ending” komentarnya lagi.
Aku tersenyum simpul. Kami tertawa dan berpamitan. Sepanjang perjalanan, aku terus menebak-nebak apa yang dilakukan Bayu dengan cerpenku.
Aku tiba dirumahku 20 menit kemudian dan segera terburu-buru melihat ending cerpenku. Penasaran. Tanganku berdebat seru membuka halaman 42. Draft ceritaku sebenarnya tak seluar biasa yang diceritakan Bayu. Cuma kisah cinta anak SMP biasa. Seorang gadis ekstrovert yang punya masalah dimana-mana. Ia lalu jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, Raditya. Raditya mati tertabrak mobil dan gadis itu tak pernah bilang soal perasaannya.Dunia mendadak begitu sepi tanpa Radit.

Aku gemetar membaca lanjutannya.

Ketika “ seandainya ” menjadi menu utama lamunannya sekarang, rupanya nasib berganti skenario. Hari pertama Karin di SMA, ia tertegun menatap seseorang setinggi Raditya didepan kelasnya.

Sudah kuduga Bayu pasti punya solusi untuk menyelesaikan masalah ini dengan cukup cerdas.

Sebulan berlalu, dan Karin sudah hafal semua hal tentang seniornya yang mirip Raditya itu, namanya Rafael. Ia belajar banyak pada pemuda itu, ia tak berharap takkan mengulangi kesalahan yang sama, mencintai dan tak mengaku. Maka, siang itu ia menghampiri Rafael.
“Kamu tahu Kisah Cinta paling tragis?” ia bertanya pelan. Dulu, dulu sekali, saat itu masih SMP, Raditya pernah bertanya begitu padanya.
Rafael tertawa.
“Cinta yang tak sempat dikatakan, ya kan…!”
Karin mengangguk.
“Bagaimana kau bisa tahu jawabannya? Kau pernah begitu…maksudku kau terlambat menyatakan cinta pada seseorang?”
Rafael diam.
“Untuk menyadari mencintai seseoarang, butuh waktu dan pertimbangan. Aku rasa semua orang takkan terlambat untuk urusan satu ini, cinta tak harus dikatakan bukan?”
Karin membeku di kursinya.
“Jika seseorang mencintai dan urung mengakuinya, menurutku itu lebih baik. Artinya Ia tak ingin orang yang dicintainya terikat status, dan mungkin itulah cinta yang tulus, mencintai bukan untuk dimiliki sebentar dan dipamerkan, lebih tinggi dari itu, menikah misalnya”
Karin bangkit berdiri, Ia tak jadi membuka mulutnya. Pamit pulang. Mungkin benar kata Rafa. Cinta tak pernah telat, juga butuh waktu untuk dibahasakan.
Ia menstarter motornya, mengunjungi balkon tua di ujung taman tempat Ia dan Raditya biasa istirahat. ia melihat bayangan Raditya disana, memegang tali layang-layang. Karin berdiri dan mengintip pohon Akasia di depannya.
Karin menangis sambil memeluk lututnya.
“Kenapa kamu nggak mau pacaran Rin, Reza cakep lho!”
“Ga’”
“Kenapa?”
“Denger ya Dit, kamu kira Reza bakalan ngizinin aku temanan sama kamu, kalau dia jadi pacarku?”
Raditya tertawa.
“Ada-ada saja kamu Rin. Eh, kapan-kapan kamu yang ngambilin layang-layang itu, tadi diajak maen ga’ mau, main sekali, tuh layang-layangnya langsung nyungsep.”
“Ga’, kamu aja yang ngambil, pohonnya tinggi Dit”
“Itu namanya temen Rin, ga’ cuma nyusahin tapi juga mbantu, ngambil layang-layang doang aja kau protes. Inget ga’ kau pernah menyuruh aku beli tiket di bioskop sampai malem?”
“Iya deh, kapan-kapan”
“Janji? Nanti kamu pasti seneng kalo’ udah dapetin layang-laynag itu”
“Emang ada apanya?”
“Ambil dulu, nanti juga tahu”

Aku memegang buletin itu gamang, tanganku bergetar meraih HP disakuku, mungkin mataku merah sekarang.
“Bayu…”
“Sudah baca?”
“Ya”
“Gimana? Bagus ngga’?”
“Hmmm, lumayan…….”
“Mel…, kamu nangis?”
“Ngga’!”
“Hahaha, aduh Amel, gitu aja nangis”
“Bay, boleh nanya sesuatu ngga’?”
“Boleh…”
“Apa hal kayak gitu mungkin terjadi, ya?”
Bayu diam. Aku juga diam.
“Cerpenmu?”
“Ya”
“Mungkin saja, emang kenapa?”
“Raditya itu temenku, sahabatku, dia udah mati” Aku terbata dan Bayu kembali diam.
“Kamu yang nyuruh aku menghapus nama depanku, bukan? Kamu ingat? Nama depanku Karin” ucapku selanjutnya.
Bayu tertawa disana.
“Aku sadar sejak dulu, Mel… dan kubuatkan ending yang bagus buat ceritamu”
Aku menangis.
“Dan layang-layang itu?”
“Masih tetap disana, kemarin aku menemukannya, kamu dulu bilang sering kesana bareng temenmu, kan!”
Mataku terus berair.
“Mel, masa lalu bukan buat ditangisi”
“Apa layang-layang itu bener-bener masih ada disana Bay?”
“Ya, aku melihatnya sekarang”
“Kamu dimana?”
“Hahaha, diem dulu Mel, aku dibawah pohonnya Radit”
#####

Aku berlari dan mendapati lelaki sialan bernama Bayu itu ada disana.
“Mel…”
Aku tak menggubrisnya. Aku mencari layang-layang itu. Bayu diam disampingku, ia kelihatan bingung dan enggan berkomentar.
“Kamu mau aku mengambilnya?”
Aku mengangguk. Bayu memanjat pohon tua itu dan meraih layang-layang Raditya,
Saat itu aku menyadari sesuatu. Tulisan yang cuma ada dalam mimpiku itu benar-benar ada.
—————-***********—————-
“Orang yang mencintai kita tak pernah benar-benar meninggalkan kita. MET ULTAH, MEL. Sudah saatnya kamu tersenyum. 2 tahun terlalu lama untuk sekedar dibuat termenung, semua selalu ada masanya, mau kado? Buka jendela kamarmu, aku ada diluar sana, jangan lama-lama, keburu aku mati gosong, cepetan AMEL !”
SMS dari Bayu,
Ini masih jam 7 pagi. Ia memang paling rajin mengganggu manusia. Dulu saat aku masuk Tim Redaksi, ia terus-terusan bertanya ini itu, melaporkan ini itu, menyuruh membeli buku aneh-aneh. Orang aneh. Tapi, aku cukup penasaran juga, lagi pula jendela kamarku hanya satu meter dari tempat dudukku sekarang.
“AMEL!” suara Bayu langsung terdengar saat jendela terbuka, bersamaan dengan berdenyutnya ponselku, ada pesan masuk. “Lihat ke langit”.
Aku menatapnya yang terlihat kecil karena kamarku berada di lantai 2, Ia memegang tali layang-layang. Mataku merah sekarang, silau sekali. Disana, diantara langit yang putih biru karena matahari berkilau terlalu terang, Aku melihat layang-layang biru menari-nari dipeluk angin. Ponselku berdenyut lagi.
“Kelihatan ga’? Kayaknya silau, ya?”
Aku tertawa, Bayu lucu sekali. Belum sempat aku membalas SMS-nya, ia sudah mengirim pesan lagi.
“Dasar matahari, ga’ bisa diajak kompromi. Ya udah , ga’ bisa baca tulisannya, kan! Jangan ngira tulisannya sama kayak layang-layangnya Radit, ini lebih eksotis Non, ga’ percaya? Bentar lagi aku telfon, angkat ya!”
Sebentar kemudian ponselku bergetar lagi, ia benar-benar menelpon sambil menatapku diluar pagar.
“Hei Bay, kamu ngapain siang-siang maen layang-layang disitu?”
Bayu tertawa. Diluar kulihat ia menutupi keningnya dengan tangan.
“Kamu ga’ lihat layang-layangku Mel?”
“Ga’, silau Bay !”
“Yah, ga’ seru kamu Mel……..”
“Emang ada apanya?”
“Hehehe…ada tulisannya! Mau denger?”
“Hehehe…apa bunyinya?”
“Dengerin ya… NIKAH YUK….”
Aku melotot.
-end-

10 thoughts on “Nothing but Love

  1. Wow . Keren ..
    Gilaa .. Hahahahaha .. Bayu menyebalkan sekaligus emm.. So sweet ..
    Suka nulis ya ?
    Hmm, btw, enaknya aku manggil apa ya ??
    Salam kenal, reader baru =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s