Mengapa Korea?

Mengapa Korea?
Demam Boyband Korea dan drama Korea atau semua yang berbau Korea nampaknya bukan hal yang asing lagi di seantero Asia. Termasuk di Indonesia. Boyband dan Girlband seperti Super Junior, SHINee, SNSD, Wonder Girls dan masih banyak lagi mendominasi chart music di banyak Negara Asia. Saya sendiri terkagum-kagum dengan fakta-fakta ketenaran mereka yang kadangkala sangat tidak masuk akal. Pertanyaannya, mengapa Korea?
Padahal menengok beberapa tahun yang lalu, Asia masih dikuasai industry musik dan drama Taiwan dengan Meteor Garden-nya. Tentunya ada sesuatu yang menjadi alasan mengapa Korea begitu mewabah di Asia.
Maka jawaban pertama yang mungkin sekali muncul adalah bahwa Industri music Korea benar-benar ‘entertain’ alias menghibur. Coba kita tengok aksi Boyband Korea, baik di Music Video (MV) atau di panggung. Mereka menguasai skill menyanyi dan menari dengan professional. Tarian dan music berpadu dengan rapi dan rancak. Seseorang yang melihat MV mereka untuk pertama kali, akan kesulitan melepaskan pandangan mereka dari Layar, karena mereka memang sangat menghibur dan sangat menarik. Kedua, mereka memang serius mengabdikan diri di bidang ‘entertainment’. Mereka merelakan masa-masa muda mereka untuk menjalani ‘trainee’ atau latihan yang berat selama bertahun-tahun. Hal ini berbanding terbalik dengan yang tengah ngetren di tanah air, yakni ‘artis atau musisi instant’. Karena ketenarannya yang serba kilat, maka kualitasnya pun tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebagai akibatnya, artis-artis kilat ini hilang dari peredaran dengan secepat kilat juga.
Alasan ketiga mungkin adalah kenyataan bahwa wajah dan postur mereka menarik dan bagus. Selain kualitas yang mumpuni, dunia entertainment juga menuntut kemasan yang sempurna. Tidak dapat kita pungkiri, bahwa kemasan menentukan nilai jual di industry musik. Maka industry entertainment Korea telah melengkapi prasyarat utama ini. Secara fisik, mereka menarik dan enak dipandang.
Hal ini juga didukung dengan kehadiran beraneka ragam Reality Show yang mendongkrak popularitas mereka. Reality Show Korea dikonsep sedemikian rupa dengan berbagai ide baru yang kreatif. Tengok saja konsep acara Exploration of the Human Body (pengujian reaksi tubuh manusia dan trik-trik unik menyiasati olahraga fisik yang diujicobakan pada member-member Boyband), Strong Heart (mengadu kehebohan cerita yang pernah dialamai oleh artis-artis Korea), atau Intimate Note (ajang berbaikan artis-artis yang sedang bermasalah) yang selalu kocak dan menghibur.
Reality Show mereka tidak terjebak hanya pada sesi wawancara, sesi menolong orang (yang terlihat sangat tidak natural) atau jebakan-jebakan yang sudah sangat biasa dan tidak lagi menarik untuk ditonton. Mereka menggunakan ide-ide baru yang masih fresh dan belum disajikan oleh industry hiburan Negara lain.
Dominasi Korea di bidang Drama juga mempunyai daya tarik sendiri. Drama-drama serial Korea mempunyai alur cerita yang baru dan sekali lagi, unik. Mereka mempunyai patokan waktu syuting yang jelas sehingga tidak terjadi ‘pemanjangan’ episode seperti yang terjadi pada sinetron-sinetron di Indonesia.
Ini sangat menguntungkan karena penonton tidak akan merasa bosan atau lelah menunggu ‘ending’. Di sisi lain, dengan patokan waktu ‘ending’yang pasti, drama Korea tidak akan terjebak konflik-konflik yang serupa dengan drama lain. Sebagai contoh, tokoh drama Korea tidak akan mendadak ‘mati’ lalu ‘hidup lagi’ atau mendadak ‘amnesia’ serta tidak mungkin mendadak ‘menjadi anak orang lain’ hanya karena rating film yang tinggi dan penonton meminta perpanjangan episode. Drama Korea memfokuskan diri pada satu jenis cerita, misalkan menyamar menjadi lelaki, menaklukkan pemuda kaya-raya, atau menikahi putera mahkota. Maka cerita yang dikemas tidak akan melenceng atau ditambahi cerita-cerita yang tidak ada hubungannya dengan fokus cerita.
Sisi lain Drama Korea adalah setiap pemain yang bermain didalamnya bersikap ‘manusiawi’. Yang berperan antagonis akan bersikap jahat dalam kadar yang wajar. Yang berperan protagonist juga tetap bisa marah. Sisi kemanusiaan ini mendapat porsi yang sesuai dalam drama Korea sehingga tidak terjadi adegan-adegan yang hiperbolik. Di drama serial Indonesia sering kita jumpai karakter antagonis dan protagonist yang keterlaluan yang ditambah dengan pengambilan gambar yang juga berlebihan.
Drama Korea juga dengan berani menayangkan kultur budaya masyarakat lokalnya. Kita dapat mengamatinya dengan banyaknya drama Sejarah Korea (Dong Yi, Dae Jang Geum, Queen Seon Deok) yang dikemas dengan menarik. Sebaliknya, hal ini tidak terjadi di Indonesia. Adanya drama serial Sejarah seperti Angling Darma atau Karmapala malah tidak nampak lagi di layar kaca digantikan dengan serial-serial bertema semi-India.
Tentunya artikel ini tidak sepenuhnya membela produk Korea. Ada juga beberapa Drama serial produksi Indonesia yang berkualitas dan tidak mengalami insiden mendadak yang terlalu mengada-ada serta sangat Indonesiawi seperti serial produksi Deddy Mizwar. Ini juga bukan berarti drama Korea sepenuhnya bagus karena ternyata ada juga drama Korea yang mengalami nasib serupa dengan drama serial alias sinetron Indonesia.
Sebagai generasi muda Indonesia, akan sangat baik kalau kita mulai berbenah diri menyikapi kemuduran kualitas dunia entertainment kita. Mari kita ciptakan ide-ide unik untuk menggantikan tema industry hiburan kita yang terlalu seragam dan tidak menarik lagi. Bukankah televisi sekarang ini memegang peranan penting dalam mendidik anak bangsa?.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s