LOST

LOST
Aku tak menyangka riset ilmiah pak Tanor membuat banyak petaka. Pak Tanor, guru besar Biologi kami adalah sosok tak banyak suara yang mampu membuat mahasiswanya mengangguk dan tersaruk-saruk mengerjakan tugas yang diberikannya. Tampangnya sangar, seram, sekaligus berwibawa .
Petaka pertama, Kelompok risetku. Pak Tanor sepertinya tahu pasti kalau secara akademis aku dan ke dua puluh tujuh anak didiknya di kelas spesialisnya ini sudah layak lulus. Ia melihat lubang lebar yang membuat kami belum layak keluar dari universitas ini. Kurangnya rasa kekeluargaan diantara kami, meskipun kami sudah empat tahun berada di kelas yang sama.
Di matakuliah Taksonomi ini kami jarang mengerjakan tugas bersama. Sejak awal masuk, kami sudah ditekankan menjadi mahasiswa yang mandiri dan tak usah menunggu bantuan orang lain untuk menyelesaikan tanggungjawabnya.
Pagi ini, beliau datang membawa laptopnya dan seperti biasa tanpa bersuara memasang LCD, mataku kelap-kelip memelototi bulatan-bulatan kecil yang kemudian membentuk serangkaian huruf. Nama kelompok risetku. Kueja namaku sambil membenahi kacamataku, Haidar Rantaka-itu namaku-, Shofwan Fikri-Awan-, Fajar Raditya -Radit-, Julius Saputra –Putra-, dan, kuharap ini hanya mimpi, aku sekelompok dengan Titan?
*
Sepulang kuliah, kami memutuskan berkumpul di kantin kampus. Awan duduk di sampingku. Radit menyedot esnya disamping Awan. Putra baru datang dengan Titan berjalan disampingnya. Kami duduk melingkar mulai merancang rencana penelitian.
” Jenis makhluk apa itu Rasidove Electris?”, Titan angkat bicara. Rasidove Electris adalah jenis binatang yang harus kami teliti untuk kemudian disusun menjadi laporan penelitian ilmiah. Matanya melotot, menatap serius wajah kami berempat. Berhadapan dengan gadis itu membuat leherku tegang. Ia punya kebiasaan buruk, marah-marah karena masalah sepele dimanapun, kapanpun dan kepada siapapun. Ironisnya, karena memang cara pikir wanita dan lelaki berbeda, empat tahun bersamanya selalu saja ia salah menanggapi pendapatku dan -selalu saja- aku kena damprat tiap punya urusan dengannya.
Maka aku putuskan tak bicara dengannya hari ini. Aku sedang malas didamprat.
“Rasidove Electris ya….? mungkin ubur-ubur?!”, Awan menjawab singkat. Pemuda itu terlihat sama sekali tak tertekan menanggapi pertanyaan Titan.
“Ubur-ubur….katamu? Mana bisa begitu?” .Titan menyahut tak simpatik.
“Mana aku tahu?, kau yang tanya dan aku berusaha menjawab, ada yang salah?. Ubur-ubur sedikit berhubungan dengan barang elektronik bukan?, ELEKTRIK, ia bisa bercahaya, jadi kurasa pantas dipasangi kata elektrik” bela Awan enteng.
Titan kemudian menjelaskan hewan yang kemungkinan berhubungan dengan elektrik. Awan menyela. Lalu Titan menukas lagi-dengan emosi penuh-, ditanggapi Awan dengan alasan asal-asalan, begitu berkali-kali nyaris satu jam. Putra menulikan telinganya dengan memasang Headset di telinganya. Sementara Radit terus saja menyedot esnya, sambil menemaniku memelototi Awan dan Titan.
Menurutku, seharusnya Radit lebih tahu soal makhluk beridentitas Rasidove Electris itu. Radit digadang-gadang menjadi klasifikator spesies hewan langka terbaik di tingkat universitas tahun ini. Namun Radit, sebagaimana aku pasti malas sekali berdebat dengan gadis tak stabil itu. Tak ada gunanya, benar atau salah ia pasti menang.
“Hmmm…”, Akhirnya Radit bersuara juga, walaupun cuma deheman. Semoga pertempuran bodoh ini cepat usai. “Tan, sebenarnya ubur-ubur juga masuk akal dipasangi kata elektrik”, ia meneruskan dengan muka datar.
“Kenapa kau jadi ikut-ikutan Awan?, Rasidove itu spesies baru, kau bilang ubur-ubur?!, ITU KAN BINATANG PURBA !”.
“Kau pikir binatang purba tak bisa masuk spesies baru? Spesies baru artinya baru ditemukan dan diklasifikasikan, bukannya baru di ciptakan,… aku pernah dengar teori Heldneck Stockhorst, ‘Ra’ berarti mewakili karakter binatang berkulit lembab sebangsa cacing, dan ‘Ve’ di akhir boleh jadi binatang beracun,” Radit berargumen. “Sudahlah kalian cari tahu dulu Rasidove itu binatang apa, Aku minta data yang valid bukan teori amatiran”
Perdebatan selesai. Titan melengos, membuang muka, dan menyeretku pulang. Sepanjang jalan ia menyumpahi Radit yang dengan kurang ajar mendebatnya, dan berjanji entah pada siapa bahwa ia akan segera mendapat info terlengkap tentang binatang itu.
*
Kami berlima bertemu di kelas dua hari kemudian. Titan terlihat ceria, kelihatannya gadis itu siap bertempur dengan Awan dan Radit pagi ini. Setelah materi kuliah jam ketiga dan keempat selesai diberikan, kami berlima bergabung di kantin. Perdebatan berlangsung seru. Tak ku sangka yang memegang data terlengkap malah Putra. Ia membuka laptopnya tenang, lalu mulai menjelaskan sambil menunjuk gambar di laptopnya. Rasidove Elektrik ternyata adalah belut listrik di daerah selat Malaka, tepatnya di Kepulauan Nikobar, gugusan pulau milik India. Belut listrik memang bukan spesies baru. Lazimnya, seekor binatang dibekali satu senjata saja utuk membuat jera pemangsanya. Seperti ubur-ubur yang memiliki penyengat, cumi-cumi yang menyemprot tinta hitam pahit atau ular yang mempunyai bisa. Masing-masing memiliki satu senjata.
Menariknya, spesies baru berwarna merah hati ini memiliki dua senjata. Bisa beracun dan listrik sekaligus. Binatang ini segera menyedot perhatian kami, karena gerakannya yang lebih cepat dari ikan piranha. Panjangnya mungkin cuma satu hasta dan besarnya hanya seukuran ular pohon, namun efek sengat dan setrumnya cukup misterius.
Dalam video rekaman Brandon Zectra, -seorang biolog asal Rusia-, ku lihat peristiwa langka yang menakutkan. Satu orang kru mereka tercebur air dan membiru. Dalam adegan slow motion ku amati bahwa ternyata lima ekor Rasidove menyengat kaki dan tangannya. Mulut Radit berdecak penasaran. Tentu saja kami ingin tahu seberapa hebat aliran listrik dan bisa yang ia punya. Karena beberapa detik kemudian, kru itu meninggal dengan lima luka sengat keunguan dan mulut berbusa.
*
Kami berembug mau naik apa ke kepulauan Nikobar. Radit berkeras naik pesawat dan transit di Singapura lebih dulu. Putra, lain lagi, ia berpendapat lebih baik tak usah kesana, ia berjanji akan menggali data lebih banyak lagi tanpa perlu studi lapangan. Sementara Titan setuju dengan Radit dan menambahi: naik helikopter ilegal milik pamannya setelah sampai di Singapura.
“Kau kan pernah masuk tehnik mesin Dit, tentunya kalau sekedar helikopter kau tau cara naiknya bukan? Nanti satunya biar aku yang nyetir”. Enteng sekali ia bicara .
“Kau tahu illegal kan Tan?” Radit langsung tak setuju.
“Ilegal? Kurasa tak ada masalah.. Jadi…. kau mau ikut pendapat Putra, diam saja dan cuma mencari data di internet? Kalau begitu, Aku tak mau, kita punya waktu libur dua bulan!”.
“Aku setuju pendapatmu Tan, lagi pula ini seru bukan? berlibur naik helikopter, pasti spektakuler” Awan menambahi. Titan menatap Awan takjub, tak percaya kalau musuh permanennya itu mau sependapat dengannya.
Putra menoleh melihatku, aku menunduk tak bersuara, menoleh menatap Radit dan beberapa saat kemudian tanpa kuduga, Radit mengangguk setuju.
*
Kepulauan Nikobar masih merupakan bagian dari India. Letaknya sekitar 500 km dari Nangroe Aceh Darussalam, arah barat daya Pulau Sumatra. Iklimnya Subtropik, dengan type mangrove pada bagian pesisirnya. Tipikal tanahnya sama persis dengan hutan-hutan di Sumatra, begitu juga jenis tanamannya yang heterogen. Kami menuju kesana melalui jalur lurus dari Bandara Changi, Singapura menuju Phuket, dan naik helikopter menuju Nikobar.
Kata Titan, Helikopter yang akan kami naiki adalah helikopter buatan Jerman, Aerofox ’78 dan Nebula N985. Keduanya bukan helikopter baru. Paman Titan membelinya secara ilegal dari kawannya yang jadi staf militer di Jerman setahun yang lalu. Titan dan pamannya memang sama-sama gila.
Kami berlima berkumpul dirumah Titan dan mengumpulkan dana yang kami punya. Titan membawa camilan sepenuh kopernya. Ia terus saja berdebat dengan siapapun yang tak yakin wisata risetnya ini akan berhasil.
“Raka! Ayo naik!” Titan menyuruhku masuk mobil dan kami berangkat ke Changi siang itu dengan Asian Flight. Sepanjang perjalanan, kami ribut berdebat tentang bagaimana rupa belut listrik itu. Awan yang cerewet terus saja membual dan sesekali terkena damprat Titan. Putra, seperti biasa, menemaniku tertawa melihat tingkah Awan dan Titan. Radit malah tidur. Sepertinya ia menderita jetlag.
Tujuh jam dari bandara Soekarno-Hatta. Tepat pukul tiga sore, kami berhenti di bandara Changi dan meluncur ke rumah paman Titan, Seorang pria tambun, pendek, yang ramah dan banyak bicara. Istrinya yang berkulit putih bersih, keluar dari ruang tamu. Berdua, mereka mempersilahkan kami makan, dan mandi. Setelah mandi, aku memilih bergabung dengan Putra melacak data Rasidove di ruang tamu paman Carlos.
” Sepertinya kita akan kesulitan mendarat, lihat, pesisirnya dipenuhi bakau, “, Putra menunjuk serangkaian peta Google Wikipedia wilayah kepulauan Nikobar di laptopnya. Ia serius sendiri, bicara sesuatu yang tak kumengerti berulangkali, hingga aku tertidur.
*
Jam enam pagi semuanya sudah berkumpul di halaman, kecuali Titan. Tantenya bilang, Ia sakit perut. Mau tak mau keberangkatan kami molor setengah jam. Setengah tujuh pagi, Aerofox berangkat. Helikopter biru tua itu disopiri Radit, bersama Putra. Karena memang lebih besar, Nebula N985 dinaiki olehku dan Titan. Awan menyetir di sisi kanan.
Ia agak gugup karena diawasi Titan yang juga sama-sama bisa menaklukkan capung besi ini. Mereka ribut sekali, saling berteriak memaki melalui Aeroset besar yang menempel di telinga kami bertiga.
Tentu saja ini sangat menggangguku,
“Bukan ke kanan tolol, ganti!”
“Tuas ini sulit sekali digerakkan, ganti!”
“Kenapa kau tak bilang pada paman kalau mesinnya rusak, ganti!”
“Mana aku tahu kalau mesinnya bermasalah, ganti!”
”Helikopter ini akan berputar kalau kau tekan yang itu, ganti!”
”Kau bisa diam?, ganti!”
Telingaku gatal, tanganku melayang memukul kepala mereka berdua.
*
Kami transit di pesisir Phuket barat. Disini sedang dibangun resort dan villa pantai. Saat kami mendarat, Aerofox Radit sudah tiba 5 menit lebih awal. Untuk sementara, tak ada masalah dengan helikopter.
Saat itu, pukul 11 siang.
Kami beristirahat dan berencana terbang setengah jam lagi. Saat matahari tengah teriknya, Radit mengomando untuk segera bersiap agar kami tak kemalaman di Nikobar. Mesin Aerofox dihidupkan, berderu bersahutan dengan mesin Nebula. Kami berangkat menerobos hutan.
Perjalanan terasa begitu membosankan. Nebula milik Radit berjalan lurus didepan, dan kami, mengikuti dibelakangnya, nyaris selama dua jam. Pukul dua siang, Petaka kedua dimulai. Mendung bergayut di langit membuat jangkauan pandang memendek. Kami kehilangan jejak. Helikopter Radit tak kelihatan.
Turbin baling-baling berputar-putar tak normal. Lalu gerakan helikopter jadi tak stabil. Selanjutnya, hidungku mencium bau menyengat. Ada yang tidak beres.
“Kau menciumnya? Ganti!” tanyaku pada Awan, ia juga kelihatan panik. Tangannya masih memeriksa navigasi. Titan memeriksa tuas rem dan gas di sebelah kanannya.
” Avtur, Mungkin bahan bakar bocor…, ganti!” Awan menjawab buru-buru.
Kami bertatapan.
“Apa kau bilang? Tangki bahan bakar bocor? Ganti!” Titan menyela. Awan berteriak menjelaskan dan wajah Titan memucat. Ia menoleh ke arahku, wajahnya pias, dan tangannya meraih pundakku. Sebegitu tak bereskah sampai gadis itu merubah karakter begini-memegang pundakku-?,
“Kau yang periksa Ka, bahan bakar kita berkurang cepat sekali, ganti!” ia bicara hati-hati. Aku berdiri, kepalaku pusing mencium bau avtur yang menyengat dan asing sekali di hidungku, Titan menyuruhku melongok keluar badan helikopter untuk mengecek tangki bahan bakar. Aku melotot.
“Tan, kita 1000 meter diatas laut,…diluar cuaca buruk, kau serius menyuruhku keluar?, ganti!” ujarku panik. Titan diam. Ia, dengan wajah semakin pucat, menjelaskan padaku bahwa helikopter ini tak boleh mendarat di laut. Awan memelototi layar navigasi. Ia mengeluh karena gagal menghubungi Radit dan Putra melalui radio udaranya. Gerimis mulai lebat. Suaranya beradu dengan baling-baling helikopter.
Aku berdiri di samping Titan. Ia tengah menggantung dua tali di korset kulit yang ia sangkutkan di perutku. Masing-masing menahan punggung dan lainnya, mengikat perutku. Matanya menatapku seperti anak kecil.
“Kau pasti bisa, pegang talinya dan pertahankan posisimu di tanjakan masuk, kau mengerti, ganti?”
Aku mengangguk pasrah. Dari sini kulihat avturmeter terus melorot tajam mendekati angka nol. Badanku menggigil saat Titan membuka pintu helikopter. Air hujan menghantam wajahku.
Titan menyuruhku menginjak tanjakan besi di samping kiri badan helikopter. Air hujan membasahi wajahnya,tangannya sedingin es batu. Ia kelihatan panik dan putus asa. Aku tersenyum menatapnya.
“Aku akan baik-baik saja, Tan, asal jangan kau lepas talinya,..ganti. ”
Ia balas tersenyum. Tangannya menyalami tanganku lebih erat. Udara dingin sekali, dan air hujan yang makin lebat membuat keadaan memburuk. Tanganku bergerak merambat menuju tangki bahan bakar yang mungkin Cuma satu meter dari tempatku berdiri sekarang. Satu kakiku kokoh menanjak dan satunya berkali-kali tergelincir di badan helikopter, menggapai-gapai, mempertahankan posisi tanganku. Badanku gemetar. Aku tak berani melihat ke bawah. Aerosetku merekam gerutuan Awan, dan teriakan Titan yang masih mengintipku lewat jendela di atas kepalaku.
Mataku buram, dan aku mendapatnkannya. Tangki bahan bakar!. Tanganku terciprat avtur begitu aku membuka tangkinya. Sial, tangkinya memang bocor seukuran jari kelingkingku.
“Tangkinya memang bocor, ganti !” laporku. Kudengar sayup-sayup suara Awan dan Titan panik.
“Ka, avturnya akan habis 30 detik lagi, naik ke dalam sekarang, ganti !” Awan menyeru. Dadaku berdesir, 30 detik?.
Aku segera menarik kakiku yang menanjak besi tanjakan. Mungkin aku terlalu gugup hingga kakiku tergelincir. Tanganku menggenggam erat bingkai jendela. Aku tidak bisa bernafas ketika sadar kakiku sudah tidak menanjak apapun. Suara Titan bersahutan dengan suara Awan melalui Aeroset raksasa di telingaku. Mereka bilang bahwa tuas penarik tali kaitku macet dan tak mau bergerak. Aku tak sempat berpikir karena tiba-tiba badanku meluncur dan tali itu melilit perutku dengan kekuatan setan.
Aku gelagapan. Aerosetku melayang jatuh ke laut. Mataku perih, lalu tubuhku bergetar hebat dan kurasakan baling-baling helikopter itu bergerak tak normal. Helikopter oleng ke kanan, nyaris terbalik. Kakiku menyentuh air laut, dan terseret ke atas lagi, lalu oleng dan meluncur berkali-kali. Badanku timbul tenggelam di permukaan air laut.
Helikopter makin berisik. Semuanya kacau, aku sudah pasrah. Sebelum aku tidak sadar, aku melihat sekumpulan pohon kelapa dan bakau yang hanya terlihat hijau bergaris-garis. Perutku mual. Badanku serasa di garuk dengan tutup soda. Perih minta ampun. Mataku berkunang-kunang. Badanku tenggelam ke tengah laut lagi. Aku gelagapan.
*
Saat sadar, tenggorokanku sakit sekali. Badanku ngilu dan aku merasa tak punya kaki. Walau sebenarnya aku tak berminat membuka mata, akhirnya mataku terbuka juga.
Aku bersyukur karena dua kakiku masih utuh, menggantung, dan bergerak-gerak. Aku tak percaya bagaimana aku berada di posisi semenakutkan ini, menggelantung jauh dari permukaan tanah di bawah kakiku.Tali terkutuk itu mengikat perutku hingga darahku terkunci di pusar dan tak bisa mengalir ke kakiku. Mungkin itu sebabnya aku merasa tak punya kaki.
Aku melihat ke atas .
Helikopter yang kunaiki tersangkut di ujung pohon sejenis meranti hutan. Aku melihat celana gombrong Titan tersangkut di rerantingan, kira-kira 3 meter di atas kepalaku, tapi aku tak melihat kepalanya.
Di sampingnya dengan posisi berdiri sepertiku, Awan menggantung dengan mata terpejam. Tangan kanannya memegang kaki kiri Titan. Mereka diam tak bergerak. Aku menghela nafas, memikirkan stategi paling tepat untuk lepas dari tali ini. Ada dua tali tampar yang mengikat pinggang dan perutku.. Satu tali melilit perutku yang di ikat korset kulit dan digantungi satu tali lagi yang panjang dan masih kendor.
Aku pikir satu- satunya jalan adalah memotong tali perutku dan membiarkan tali lainnya melemparkan tubuhku ke bawah. Namun sebelumnya, aku ingin membangunkan Awan atau Titan. Setidaknya, kalau mereka bangun, mereka akan tahu kalau aku masih sempat hidup setelah dibanting helikopter tua itu, pikirku.
“Awan! Awan! Wan!” Aku berteriak berharap pemuda itu bangun. Ia tak bergerak karena mungkin tak mendengar. Memang, Jarak diantara kami tak bisa di bilang dekat. Suaraku memantul tak jelas. Aku merogoh celanaku, mencari sesuatu yang bisa kulempar ke arahnya. Hanya ada ponsel jelek milik Radit yang di titipkanya padaku tadi siang. Ponsel itu terjatuh tepat di kepalanya. Lagi-lagi tak ada reaksi.
Aku berteriak menyebut namanya dengan sisa suaraku . Lama sekali sampai aku lelah, namun, ia tak kunjung bangun. Sudah nyaris petang, dan kelihatannya aku harus memutuskan tali ini sebelum benar-benar gelap. Aku akan melakukannya sendiri. Aku mulai menghitung peluang selamat. Seandainya tampar pengait di punggungku itu tarlalu panjang mungkin aku remuk dan mati karena menabrak tanah. Tapi kalau aku menunggu dua orang itu bangun, yang terjadi mungkin akan lebih mengerikan, membusuk diatas pohon bertiga.
Setengah hati aku merogoh pisau yang biasa kusambung dengan pembuka soda dan pemotong kuku. Pisau -kalau layak disebut pisau- itu bergerigi dan tak tajam. Aku kehabisan tenaga menggeseknya ke badan tali. Akhirnya kudengar suara derap tali di atas kepalaku. Tampar keras kepala itu putus juga.
Awalnya aku lega. Namun itu tak bertahan lama karena segera badanku meluncur kebawah menghantam ranting-ranting raksasa yang keras dan kadang-kadang berduri. Suara cericit burung yang terganggu berkolaborasi dengan suara babi hutan. Jantungku melorot. Nafasku tersengal. Tali itu berhenti membuang tubuhku. Tali itu berhenti melorot tepat setengah meter diatas permukaan tanah. Aku tersedak, batuk-batuk. Helikopter yang masih tersangkut di pohon ikut melorot karena tertarik tali pengait di punggungku, aku menghela nafas karena sadar akan bahaya yang mengancam kepalaku. Kejatuhan Helikopter. Hatiku kebat-kebit.
Kudengar suara benda meluncur deras dari atas. Suaranya ribut karena menghantam pepohonan dan ranting kering. Aku menghela nafas lagi, mengucap hamdalah sebanyak yang kubisa karena benda –apapun- itu tak mencium kepalaku. Satu lagi suara derak yang lebih keras dari sebelumnya, disusul suara berisik helikopter yang mulai miring ke kanan.
Aku sudah pasrah. Biar saja helikopter itu menimpa kepalaku. “RAKA ! HEI ! LOMPAT DARI SITU ! RAKAAAAAA! CEPAT ! KAU DENGAR KAN ?”. Badanku menggigil, itu suara Titan!.
.” RAKA…..! cepat lompat dari sana !”. gadis itu berteriak lagi.
Aku menurutinya dan memotong tali punggung di korset kulitku. Badanku berdebum di atas tanah setelah tali punggungku terpotong. Aku jatuh untuk yang ketiga kalinya hari ini. Rasanya ngilu. Tak lagi seperti kehilangan kaki, tapi lebih seperti kehilangan kepala. Kepalaku pusing dan kakiku kram. Sakit sekali. Aku tak bisa menggerakkannya.
Titan menghampiriku. Setelah bertanya keadaanku, Ia terus menanyaiku di mana Awan. Gadis itu benar-benar tak peka. Ia melupakanku begitu saja setelah berteriak memaksaku turun.
“Tan…..kau …..dengar….suara derak di atas?”. Aku mencoba bicara. Titan mengarahkan senternya di depan mulutku, entah apa maksudnya.
” Sepertinya kau harus ke rumah sakit setelah ini….gigi depanmu copot”. Aku ingin menggantung kepalanya, enak sekali dia bicara seperti itu.
“Kau dengar suara ribut-ribut di atas ..?” Aku mengulang pertanyaanku.
“Ya…..Aku dengar…helikopter itu akan segera jatuh, ayo berdiri”. Ia menarik tanganku kasar. Aku mengerang. Ia balik menoleh.
“Kaki……ku kram”. Teriakku sepenuh tenaga. Ia mencari sebelah tanganku yang lain.
“Kau minta diseret?”, ia tertawa.
“Dengan senang hati”, sambungnya enteng.
Kedua tangannya menyeret tubuhku. Ia berhenti setelah berjalan agak lama, Lalu mendudukkanku di bawah batang pohon. Aku tidak melihat apa-apa selain senter yang menempel di helm Titan.
*
Malam yang menyiksa. Kakiku memang sudah bisa digerakkan dan diajak berdiri walaupun rasanya sakit sekali, tapi nyamuk hutan, suara kodok, suara jangkrik, suara babi hutan dan suhu udara yang dingin membuatku ingin mati saja. Pagi ini, Aku terbangun karena teriakan Titan. Gadis itu terengah-engah di depanku.
”Ka….aku lihat Awan Ka! Bangun Ka !…,” ia berteriak sambil kebingungan mengarahkan telunjuknya. Pagi belum sempurna. Aku menggeliat. Kepalaku masih pusing ditambah tenggorokanku yang makin perih.
”Di mana..?”, sambungku serak.
”LIHAT…!”,ia berseru lagi. Tangannya menunjuk rerimbunan ranting dan dedaunan kering tebal diatas tanah. Seutas tali menggantung di atasnya. Walau sedikit buram, aku melihat rambut Awan dari sini. Pasti pemuda itu terlampar kesitu. Titan membantuku berdiri,dan menengok rimbunan itu.
Aku mendengar rintihan dan Titan menutup mulutnya.
”Awan!” Ia berteriak begitu aku memastikan si pemilik rambut itu Awan. Ia menyibak poni Awan yang menutupi keningnya. Yang sulit kupercaya gadis itu menangis. Benar-benar sesenggukan sambil menutup wajahnya dengan tangan.
”Wan…kau baik-baik saja kan?” ia menatap Awan khawatir. Aku meneliti tubuh Awan. Ia meringis dan tak bicara.
”Tan…angkat badannya, aku mau lepas talinya” Titan mengangguk dan aku menarik tali pengaitnya. Saat itu aku tertegun. Helikopter itu masih kokoh tersangkut diatas sana, dan belum terjatuh.
Tali kait Awan terpotong. Aku melepas jaket kulitnya. Perutnya biru lebam, berdarah dan sobek dibeberapa bagian. Titan membantuku menyeret badannya ke tempat landai. Awan terus mengaduh. Ia kelihatan sangat kesakitan.
Titan mengambil ransel Awan yang terlempar dari atas beberapa meter disebelah kanannya. Ia merogoh botol air mineral dan segera memberikannya pada Awan.
Keadaanya berangsur membaik. Ia mulai berbicara namun ucapannya membuat keadaan kembali buruk.
”…Ta…ngan…ku…patah…” Titan menjerit. Awan menghela nafas. ”Bu…bukan itu…kita harus segera pulang…”. Aku mengamati wajahnya yang memar-memar, lebam. Ia mengulangi ucapannya terpatah-patah.
”Dengar… aku melihat tangki bahan bakar itu bocor ke mesin porosnya,..itu bisa meledak…,mudahnya begini, mesin poros tengah itu konduktor aktif…penghantar panas…badan pesawat itu juga penghantar panas…ia bisa meledak kapan saja, kalau mesinnya kepanasan”
”Ya…aku mengerti maksudmu…” Titan menyela. Aku diam saja.
”Intinya kita harus pergi dari sini… sebelum siang” Awan bicara setengah memaksa. Ia melirik mataku sebentar.
*
Baru pukul enam pagi, namun letak geografis hutan subtropis ini benar-benar tak menguntungkan. Masih sepagi ini sudah terasa gerah. Kata Awan memang sekarang tengah musim semi, dimana belahan bumi utara akan mengalami siang hari lebih lama sekaligus lebih panas, nyaris 490 celcius.
Tangan kiri Awan lunglai, tulangnya patah dan sikutnya robek. Titan mengikatnya dengan selimut. Aku menahan tubuh Awan lewat tangan kanannya yang cuma lecet ringan. Titan didepanku tersaruk-saruk menenteng ransel Awan dan ranselnya sendiri . Ia bilang kalau ia takut terlalu lama di tempat ini, dan tak lupa berseru ”Seharusnya kalian bilang terutama kamu Wan, kalau kalian tak becus naik helikopter!”
Ia bicara dengan emosi penuh. Aku suka gaya bicaranya yang meledak-ledak dan mukanya yang jarang tersenyum, seperti Jose Mourinho. Ia terlihat elegan dan berwibawa. Aku tak yakin bisa menemukan wanita model begini lagi selain dia. Maka aku dan Awan tak sempat marah, kami tertawa diam-diam lalu pura-pura mendengarkan. Kami cekikikan lagi lalu pura-pura berkomentar, sedikit menyenangkan.
Mungkin sudah 6 km dari lokasi helikopter itu, kami berhenti mencari minum.
”Kau tak lihat ada yang salah?” Awan menyenggol Titan yang sedang menelan rotinya. Roti tawar berbau avtur itu hampir melompat dari mulutnya. Ia buru-buru melotot, ”APANYA?” teriaknya kemudian. Awan sedikit mundur sambil menunjuk kompas disamping kaki kiri Titan.
”Tentu saja ada yang salah, kepalamu! Seharusnya dibuang ke laut!” Aku terpingkal, Awan mendelik merebut kompas Titan. Ia mengamati kompas itu lagi dan kembali adu mulut dengan Titan. Baru beberapa menit kemudian ia diam, tampak serius sekali.
Minum.
”Sepertinya kita tersesat” Ia menghela nafasnya.
”Lihat….bukannya itu ekor helikopter kita?” Awan mengacungkan tangannya keatas, mataku membuntuti jemarinya. Benar, kami kembali ke posisi awal tempat helicopter kami terbalik. Helikopter itu memang ada disana. Dekat sekali dengan kepalaku. Bau avturnya merasuki hidungku. Badannya berasap.
“Sepertinya sebentar lagi helikopter itu akan meledak”
”Kira-kira, berapa radius ledakannya ?” Titan memotong.
”Minimal setengah kilometer’”jawabku singkat.
”Dari mana kau tahu ?” Titan meyanggah, aku meliriknya.
”Sekarang dengan avtur yang bocor sebanyak itu, mesin ploretor di tengah, dan remnya yang ditahan helium, apa kaukira akan meledak seperti petasan saja?” Titan diam mendengar jawabanku.
”Berapa lama lagi?” Awan melirikku.
”Aku tidak tahu…..sekarang kukira akan lebih aman kalau kita berdiam dibawah tanah” usulku yang segera disambut pelototan Titan. Ia jelas tak setuju pendapatku.
”Bawah tanah? ….” Titan menukas. Wajahya sangsi.
”Jangan banyak bicara…… helikopter itu meledak tak akan lama lagi….lihat….matahari membakar ranting dibawahnya! Kalian lihat….disana….avturnya bocor….helikopter itu akan meledak sebentar lagi!” Awan berseru.
Telingaku menangkap suara ranting jatuh dan gemerrisik daun-daun kering yang terbakar. Satu pohon berbatang sebesar perutku ambruk menyenggol tubuh pesawat. Baling-baling helikopter itu miring, menggantung dan berderak.
”SEBENTAR LAGI MELEDAK……! KENAPA KALIAN BENGONG DISITU!” Suara Titan membuat keadaan memburuk. Awan menyeret tanganku. Titan melempar ranselnya kearahku . Artinya , aku harus membawanya. Ia sendiri menuntun Awan sambil beradu mulut.
”AWAS TAN!!!” Tenggorokanku serasa copot, jantungku berdegup buru-buru ketika mataku melihat bunga api hendak menyambar rambutnya. Didepanku kulihat bunga api kecil-kecil meletup berhamburan membakar pepohonan meranggas. Aku menarik lengan Titan dan menyuruhnya berhenti. Ia mendongak membentakku. Aku katakan padanya kalau ”KITA DALAM BAHAYA” Ia berteriak ”AKU JUGA TAHU!!!!” dan bertanya ” SOLUSINYA APA?” dengan suara Ultrasonik.
Aku menyeretnya agar lari. Ia menarik lengan Awan. Awan heboh berteriak. Titan marah-marah. Suara gemerisik dedaunan kering dan gedebum pohon roboh akibat terbakar melengkapi kecemasanku.
Aku mendengar suara aneh, seperti pintu tua yang terbuka secara paksa, ”Kreeeek…..” Panjang. Sakit sekali ditelinga. Aku sadar helikopter itu akan segera jatuh, namun tak tahu harus bagaimana.
Kudengar Titan berteriak lagi. Kalau aku tak salah dengar, Ia menyuruhku melompat. Aku meliriknya dan melirik aliran sungai kerontang pecah-pecah di yang merentang di depanku. Kaki, tangan, dan leherku kaku. Sungai itu cukup dalam dan gadis nekat itu berseru menyuruhku terjun. Aku pias, karena tangan gadis itu mendorong punggungku kedepan. Sekarang aku jatuh ke bawah sungai. Suhu udara panas yang tak tertahankan tiba-tiba menjadi dingin karena aku gemetar .Badanku berdebum. Lututku tiba ditanah lebih dulu. Pecah rasanya. Aku merintih, Tuhan, seandainya ini bukan mimpi, kuharap lututku yang Cuma dua ini tak lepas dari engselnya.
Mataku terbuka, terdengar suara ledakan mengerikan.
*
Kakiku serasa tak bertulang. Lututku bengkak sebesar buah melon, ungu, perih, dan berdarah. Aku terkapar meringkuk mengurut betis dan lututku sendiri.
Aku belum bertemu Titan dan Awan. Kami berpisah diatas sungai tadi. Aku yakin gadis itu baik-baik saja, jadi kupuskan kuobati dulu kakiku yang nyaris patah ini. Lalu aku akan mencarinya. Semuanya membuatku putus asa. Aku baru sadar kalau kakiku, kali ini, benar-benar tak bisa bergerak. Maka, aku diam dan meneliti sekelilingku. Tak ada yang bisa diminum.
Sungai ini berubah menjadi panas sekali. Mungkin kebakaran itu telah dekat,. Bahkan tanah yang kusandari pun terasa panas membakar. Aku berteriak saat melihat bayangan dua orang mendekatiku.
Baru kali ini aku merasa bahagia bertemu Titan. Ia berdiri dengan Awan di pundaknya, menatapku. Kami berteriak riuh, setelah nyaris satu jam aku sekarat sendirian mereka menemukanku. Titan tertawa melihat lututku yang seperti melon busuk. Aku balas menertawainya, karena dengan kondisiku yang sekarang, ialah satu-satunya yang berkewajiban membopongku dan Awan sekaligus. Ia mencibir. Awan ikut tertawa.
Setelah minum air terakhir dari botol air Titan, dan melahap rotinya yang tersisa, kami berangkat. Awan berinisiatif menyusuri aliran sungai saja dan kami tak punya opsi lain selain setuju. Sore itu , dengan lutut remuk, aku menggayut di lengan Titan.
*
Sampai malam hari, kami masih didalam sungai. Suhu berangsur-angsur menurun. Menuju 10º celsius . Aku yang tadinya berkeringat mulai menggigil. Lebam di lututku membuat badanku demam.
Titan merelakan bajunya yang dua potong untuk menyelimuti tubuhku. Ia menyalakan api, dan sesekali masih mengomel. Api itu mengundang perhatian binatang pengerat yang ada dibawah tanah dan itu sungguh tak menguntungkan karena suasana jadi berisik.
”Kau jangan cerewet! Tidur saja! kalau aku tak menyalakan api, kau mau lututmu dimakan ular?”, ia mengultimatum. Aku dan Awan bertatapan keberatan.
”Dengan badan terkilir begini, siapa yang bisa tidur nona Titan?” Awan menyahut lirih dan ia harus puas dipukul helm.
”Cerewet”, balas Titan.
*
Esok harinya tak ada yang tersisa. Tenggorokanku kering, perutku keroncongan dan badanku remuk. Pagi sekali Titan memaksaku dan Awan bangun untuk meneruskan perjalanan. Menjelang siang yang sangat menyengsarakan, kami menjejak lumpur. Awan beropini, bahwa kami sudah dekat laut.
Titan memasang tali dan membantuku merangkak keatas, kami tak mungkin melewati lumpur ini. Karena mungkin saja lumpur ini lumpur hidup. Awan telah sampai di atas. Ia duduk memegangi lengannya lagi. Aku duduk didekatnya. Dan Titan merangkak di bawah kakiku, merambati talinya.
Sebentar kemudian ia menyuruh kami jalan lagi, kami tertatih, tersaruk-saruk, tersangkut dipundak Titan. Kami kehabisan tenaga saat tiba di pantai. Titan menyuruh Awan mencari kayu panjang. Ia mengikat bajunya yang kujadikan selimut tadi malam di ujung tiang itu. Nyaris petang. Semoga Radit, Putra atau siapun yang melihatnya, menemukan kami. Titan berbaring terlentang membelakangiku. Awan tersenyum juga dengan dengan terlentang di sebelahku. Kami terlentang bersisian. Kelelahan.
****
Tersesat 4 hari 4 malam dengan kaki dan tangan patah di pulau primitif .Tentu saja hanya Radit dan Putra yang percaya cerita itu, mereka berdua yang menemukan kami di hari keempat, saat aku bahkan trak yakin bisa hidup sejam lagi. Titan sudah pingsan. Awanpun sudah tak mampu berbicara saat Nebula N985 itu menemukan kami.
Saat ku tanya tentang Rasidove Electric terkutuk itu, Radit dan Putra menatapku serba salah.”Itu hanya spesies belut beracun yang terkena radiasi instalasi listrik akut di pulau Nikobar,”. Mereka berdua bersahutan bercerita bagaimana mereka menemukan belut itu. Aku tersenyum.
”Apa kalian tak sadar kami hilang?” tanyaku kemudian. Mereka bertatapan lagi. ”Tentu saja kami sadar….”, Putra menunduk, ” tapi kami yakin kalian baik-baik saja, jadi……..kami teruskan riset ini, kalian juga pasti penasaran dengan belut itu bukan?”. Aku mengangguk tapi hatiku sakit. Mudah sekali mereka bilang begitu.
”Maafkan kami Ka….harusnya kami mencari kalian dulu dan baru teruskan riset”, Radit menggigit bibirnya. Ia memelukku erat.
****
Hasil riset kami membawa petaka ketiga. Pak Tanor, tak percaya kalau kami benar-benar menginjak Kepulauan Nikobar. Apalagi, data yang dibawa Radit hilang sebagian. Pak Tanor, dengan sangat kejam memberi kami nilai Cukup untuk materi Biologi Riset ini. Beliau menganggap kami main-main dengan pelajarannya. Aku tertawa saat Titan melihat huruf C di laporannya. Ia memarahi Radit lagi.
Riset ini memang membawa banyak petaka.
-haidar-fikri-

3 thoughts on “LOST

  1. nggak kebayang kalo itu beneran…
    lutut remuk! ohh, lutut aku yang cuma kejedot tembok aja nggak bisa jalan seharian.. gimana itu..

  2. Sumpah..
    Ini kalau trjdi bneran ksian bgett.. Udh mnderita 4 hari 4 malam, dikira main main d pelajaran, gak d percaya, trus dpt C.. Ooh God, pasti skit hti bgett

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s