Delegasi Masa Lampau

Delegasi Masa Lampau
“Besok saja Kai,kau bisa mati kedinginan malam-malam begini di luar ……” Andika menepuk bahu Rakai yang masih bersikukuh meneruskan membersihkan bagian dalam arca dengan kuas. Rakai menggeleng sambil tersenyum.
“Kau duluan saja… hampir selesai… tinggal bagian ini” Rakai menunjukkan bagian tangan arca Roro Jonggrang yang hampir selesai ia bersihkan. “Keras kepala sekali bocah ini….Oke, aku duluan,” Andika akhirnya memutuskan berbalik arah menuju kontrakan mereka.
Rakai mengganti kuasnya yang sudah penuh debu dan tanah, menyemprotkan lagi cairan alkohol ke area tangan arca. Dadanya agak sesak. Malam ini memang dingin sekali. Angin pegunungan berhembus kencang sejak sore. Walau sudah memakai jaket rangkap, tetap saja angin menyergap pori-porinya. Ia merasa sedikit janggal, sepertinya angin kencang tidak hanya berhembus dari belakang punggungnya, namun dari batu-batu berongga di depannya. Buru-buru ia menggelengkan kepalanya . Ia menyipitkan matanya, memelototi bagian wajah arca yang sedikit kotor, ini adalah bagian terakhir arca yang akan ia bersihkan. Rakai bangkit berdiri sambil membereskan kuas dan botol alkoholnya. Tangan kanannya melihat sebercak noda di lengan arca dan segera mengelapnya dengan jari telunjuk.
Hangat. Lengan yang ia pegang itu terasa hangat. Ia segera mengangkat tangannya dan melotot lagi. Ada apa lagi dengan arca itu sekarang, tadi menghembuskan angin dan sekarang terasa hangat. Ia memegang lengan arca itu dan memastikan ia tak berhalusinasi. Ia seperti melihat cahaya redup berwarna kuning langsat merambati lengan itu, membuatnya terlihat hidup. Rakai mundur beberapa langkah dan membetulkan letak kacamatanya. Ia melotot dan menyambar tasnya. Mungkin benar kata Andika kalau tempat ini sedikit mistis.
Ia sudah hampir pergi ketika mendadak hujan turun. Bukan gerimis, tapi hujan lebat. Memaksanya berlindung di ceruk-ceruk candi yang baru saja ia bersihkan. Ia sengaja tidak memilih berlindung di arca Roro Jonggrang yang tampak menakutkan sekali malam itu. Langit tak bersahabat, kilat menyambar beberapa kali dan angin dingin menyerbu wajahnya . Sinyal ponselnya juga macet. Ia kedinginan dan sedikit ketakutan. Bayangan lengan arca Roro Jonggrang yang tadi ia bersihkan membuatnya semakin tidak nyaman.
Matanya terasa berat juga setelah menunggu hujan yang tak kunjung reda. Ia mengantuk sekali dan tertidur.
*
“Hei….” Rakai mendengar suara seseorang membangunkannya. Ia membuka mata dan memasang kacamatanya. Ia masih setengah terbangun saat menyadari sosok yang membangunkannya. Seorang wanita, berambut panjang, seperti seseorang dari zaman kerajaan kuno. Wajahnya familiar di mata Rakai. Cantik. Sangat cantik malahan. Rakai mematung. Ia sangat terkejut sekaligus ketakutan. Ia ingin lari namun perempuan itu tepat di depan wajahnya. Lidahnya membeku dan seluruh tulangnya serasa copot dari sendi.
“S..Ss..Siapa kau?” Rakai akhirnya bicara juga. Perempuan itu tersenyum. Rakai memegang erat tasnya dan memendangi perempuan itu takut-takut. Perempuan itu mundur dua langkah, seperti memberi ruang agar Rakai bisa bergerak sambil menata bajunya yang berjuntai-juntai seperti selendang.
“ S..Si..apa kau?” Rakai bertanya lagi. ia sekarang sudah berdiri di luar ceruk candi. Ia sedikit menjauh dari perempuan aneh di depannya, memastikan bahwa posisinya memungkinkan untuk melarikan diri. Perempuan itu menoleh menatap wajah Rakai.
“Kau tidak mengenalku?” perempuan itu balik bertanya.
Rakai menggeleng.“Siapa?” .
“Aku semalaman bersamamu hari ini… kau tak ingat?”
Rakai menggeleng cepat. Semalaman ini, bahkan mungkin seharian ini ia sibuk membersihkan candi dan tidak bertemu seorangpun selain pekerja konstruksi dan kru arsitek. Semuanya laki-laki. Jadi, siapa perempuan ini?
“Tunggu….” Rakai mendadak ingat wajah perempuan itu.
“Kau.. Kau… patung itu?” Rakai tak percaya yang ia pikirkan. “ap.. Aapa K.. kau.. Han… hantu?..” . Perempuan itu tertawa. “Terserah kau sajalah…. aku mau air” perempuan itu menjawab.
“Air?” Rakai memastikan. “Aku mau air..” perempuan itu menukas tak sabar.
“Kau minum air?.. setidaknya kau bukan hantu… hantu tidak mungkin minum air..” Rakai menenangkan dirinya sendiri. Perempuan itu mendengus. “Ambilkan aku air ….” perempuan itu semakin terlihat tak sabar.
Rakai membuka tasnya dan menyerahkan sebotol air mineral yang masih setengah. Perempuan itu menyambarnya dan menenggaknya habis. Ia memegang botol plastik itu sambil mengamatinya penasaran seakan baru melihatnya pertama kali. “Terimakasih untuk airnya.. juga untuk kerja kerasmu… aku mengawasimu sejak lama dan aku yakin kau pasti berhasil melakukannya… lihat.. aku bebas sekarang…” perempuan itu tertawa senang. Wajahnya terlihat terang dibawah sinar bulan. “Jadi.. kita akan kemana?” perempuan itu membuatnya terkejut lagi.
“Apa maksudmu?… Kau mau ikut aku?”
“Tentu saja… jadi kau tak tahu ceritanya… Baiklah, aku telah berjanji akan menikahi siapapun lelaki yang berhasil membangun seribu candi untukku, dan kau melakukannya…. aku akan jadi istrimu dan kau jadi suamiku”
“APA?”
*
Empat tahun lalu, Rakai memutuskan ikut tim Konstruksi Radit bersama Andika dan Radar, teman-teman karibnya di SMA. Dalam sebulan, mereka berhasil memborong beberapa proyek konstruksi di Medan dan Jakarta. Tim Konstruksinya dengan cepat berkembang menjadi perusahaan bonafide di Medan. Ayah Radit adalah seorang pemborong juga. Radit ahli dalam membuat link dan jaringan kerja. Andika, arsitek ahli di timnya adalah lulusan Sorbonne. Sedangkan Radar dan ia sendiri hanya arsitek lulusan universitas negeri di Jogja.
Keberuntungan mereka tak lepas dari ide-ide ngawur Radit yang spektakuler. Pada tahun pertama, mereka berani mengambil proyek pembangunan jembatan layang di Palembang, Galeri Batu Alam di Tasikmalaya, gedung Magnesium di Surabaya dan beberapa proyek aneh lainnya. Pekerjaan yang menuntut kreativitas tinggi sekaligus menguras tenaga dan emosi itu mencapai puncaknya di pertengahan tahun kedua. Radit mengajukan proposal pembangunan kawasan wisata di Jogja, tepatnya di candi Prambanan. Radit berencana membangun seribu candi di kawasan Prambanan. Ide berbahaya itu ternyata lolos. Seorang investor dari Belanda bersedia membiayai proyek gila itu. Rakai, Andika dan Radar hanya menghela nafas saat mengetahui bahwa mereka benar-benar akan membangun 763 candi.
Pada Maret 2008, proyek dimulai. Mereka mulai mencari bahan, merancang konstruksi, merekrut pekerja kasar, dan meninjau lokasi. Mereka juga mengontrak rumah di Jogja. Ekstrem. Pekerjaan itu benar-benar membuat banyak orang putus asa. Sekali mereka mulai, maka mereka tak mungkin berhenti.
*
Rakai benar-benar pusing sekarang akan membawa perempuan itu kemana. Ia sudah menyuruhnya ganti baju, memakai kemeja dan jaketnya yang kebesaran dan membelikannya sandal. Beberapa orang yang ditemuinya di jalan memandangi perempuan itu tak berkedip. Terpaksa ia juga menyuruhnya memakai topi. Ia berpikir keras bagaimana akan menyembunyikan perempuan semencolok itu.
“Baik.. aku akan memanggilmu Rara,..” Perempuan itu mengangguk-angguk. “Kalau kau ditanya, bilang saja kau… temanku dari Medan yang akan kuliah di Jogja”
“Kuliah?Apa itu?”
Rakai menepuk dahinya. “Kuliah… semacam tempat belajar.. belajar di sekolah.. ah.. bukan, belajar di pesanggrahan..kau tahu maksudku?” Rakai menjelaskan buru-buru.
“Belajar menari?” Rakai melotot.
“Baiklah, belajar menari…. Jurusan seni tari…, jangan banyak bicara dengan orang asing, kalau tidak ditanya, diam saja..”
“Menarik sekali hidup zaman sekarang… ada kuliah menari juga…”
Rakai meringis. Kuliah menari? “Setelah itu aku akan mengantarmu pulang”
Wajah perempuan itu mendadak redup. “Pulang?”
“Ya… pasti ada cara untuk mengembalikanmu ke candi itu…” Rakai melirik perempuan itu takut-takut. Tadinya ia tak percaya kalau perempuan itu berasal dari arca di candi yang sedang ia pugar, namun saat ia lihat arca itu lenyap dari tempatnya, mau tidak mau ia percaya. Rakai kini hanya punya dua opsi, menganggap Rara mantan stupa atau menganggapnya hantu.
“Dan kau pikir aku kan membiarkanmu mengurungku lagi di tempat itu… aku bisa saja membunuhmu di sini saat ini juga..” Rara melirik Rakai. Matanya menatap liar, seperti akan memakan kepala Rakai. Buru-buru Rakai mengalihkan pandangannya seraya pura-pura tak memperhatikan. Bagaimanapun tangannya tetap saja gemetaran.
“Baiklah.. aku percaya kau hebat sekali hingga bisa berubah jadi manusia.. dan k au bisa saja membunuhku,.. tapi ada satu hal yang tidak kau tahu.. bukan aku yang membangun candi ini, temanku yang melakukannya, jadi aku akan membantumu bertemu dengannya” Rakai menemukan alas an untuk menyelamatkan diri.
Rara mengernyitkan keningnya. “Pemuda berambut coklat kemarin?”
“Kau tahu?”
“Hei… walaupun aku patung… aku tahu siapa saja yang lewat didepanku selama ini… termasuk kau dan laki-laki itu…”
“.. Ya.. kau benar sekali… namanya Raditya.. dia yang mengusulkan pembangunan candi ini..bukan aku… jadi kau salah orang” Rakai menjawab lega. Rara mengangguk-anggukkan kepalanya lagi.
“Sekarang untuk sementara kau akan ikut denganku… aku sudah tahu akan menempatkanmu di mana”.
*
Seperti prediksi Rakai, Rara benar-benar membawa banyak masalah. Rakai harus diinvestigasi polisi karena dituduh mencuri arca Roro Jonggrang dan nyaris jadi tersangka. Ia kemudian berbohong bahwa ia tengah memperbaikinya dan berjanji akan mengembalikannya sebelum acara peresmian. Rakai yang dulu tak berkonflik sekarang juga harus berhadapan dengan teman-teman dan kru kerjanya yang tertarik dengan Rara. Rara memang sangat menarik dan bersinar. Wajahnya kuning langsat, hidungnya mancung, matanya tajam dan indah, alis, bulu mata, dan bentuk tubuhnya benar-benar sempurna.
Selain terlalu cantik, Rara juga terlalu bodoh dan terlalu kuat. Ia tak tahu cara berkomunikasi dengan baik dan tidak tahu apa-apa tentang teknologi. Rakai seperti membawa nenek-nenek dari jaman PKI tiap kali mengajaknya keluar mencari makan. Ia tidak tahu dan sulit sekali diajari cara menggunakan ponsel, sikat gigi, membuka botol minuman, mengunci pintu dan hal-hal sederhana lainnya. Rara tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Di jalan, Rara akan tiba-tiba berhenti terkagum-kagum saat melihat mobil atau kendaraan melaju. Setiap kali terpikirkan untuk menelantarkan wanita itu, malam harinya ia akan mimpi buruk, bermimpi bahwa ia sendiri yang dikutuk menjadi batu.
Walau ia tidak tahu seberapa sakti Rara, ia tahu bahwa gadis itu mampu melakukan hal buruk padanya. Ia pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri Rara merobohkan pintu kontrakannya saat kunci yang Rakai pegang hilang dengan sekali tendang.
“Maaf aku akan memperbaiki pintunya… kau tenang saja Kai…” ujarnya saat itu sambil mengangkat pintu dan meletakkannya lagi di bingkai pintunya. Pintu itu kemudian roboh lagi. Ia juga pernah melihat Rara memecahkan kaca saat bermain lempar kacang dengannya. Maka Rakai tak punya pilihan lain selain bertahan menunggu Radit pulang dan menyerahkan urusan wanita itu padanya.
Rara juga punya tabiat buruk. Ia berlagak seperti puteri keraton dan memperlakukan Rakai seperti abdi ndalemnya. Rara tak perlu mengancam. Benda apapun yang dilempar Rara sudah pasti mampu membunuh Rakai dan Rakai tahu benar soal itu. Satu-satunya hal yang ditakuti Rara adalah kilat. Rara bisa menangis bila hujan deras turun dan sendirian di rumah. Saat Rakai kesal, ia pernah meninggalkan Rara sendirian menangis karena hujan deras. Setelah itu Rara sakit dan Rakai dengan sendirinya tak tega melakukan hal itu lagi. Ia benci sekali melihat perempuan menangis. Membuatnya teringat ibunya di Medan. Baru satu bulan dan Rakai benar-benar sudah stress menghadapi Rara. Untungnya, Proyek Konstruksi tim Radit akan rampung minggu depan. Radit sendiri berjanji akan datang tiga hari sebelumnya. Rakai mencium harapan baru. Ia akan segera lepas dari wanita itu!.
“Kai… ini minumnya…” Rara keluar dari dapur membawa segelas air. Rakai memakai kios tua pamannya di Jogja sebagai tempat tinggal Rara. Kios itu sudah lama tutup dan sedikit terpencil dari desa. Rakai melarang Rara menjalin hubungan dengan siapapun.
“Radit akan ke Jogja Kamis depan, … kau bisa ketemu dengannya saat itu juga.. dan bahkan kalian juga bisa langsung menikah..” Rakai berkata bahagia. Rara menatap wajah Rakai serius.
“Walaupun dia yang mengusulkan membangun lagi istanaku.. aku sama sekali tak merasa dekat dengannya.. aku tidak ingin dia jadi suamiku…”
Rakai gelagapan. Tidak, Rara tidak boleh berpikir yang bukan-bukan mengenai masa depan mereka. Ia benar-benar tak mau punya istri tidak normal seperti itu.
“Kau tak boleh berpikir begitu… aku yakin pasti Radit mau memahamimu dan menerimamu sepenuhnya… kalian berdua sangat cocok.. kau cantik dan dia juga tampan.. kau mau lihat fotonya?” Rakai mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan foto Radit.
Rakai tahu benar bagaimana sifat Radit. Radit takkan mungkin percaya tentang asal-muasal Rara dan ia juga jelas tak peduli asalkan Rara cantik dan penurut sudah pasti Radit akan menerimanya dengan senang hati. Rara memandangi foto Radit dan tampak tak sennang.
“Aku selalu merasa bahwa kau adalah calon suamiku Kai..” Rara berkata lirih. Rakai agak kaget dan pura-pura tersentuh. Otaknya bekerja keras mencari alibi.
“Tentu saja bukan aku… aku takkan merebut calon istri temanku sendiri bukan?”
“Apakah kau keberatan menerimaku karena aku bukan manusia biasa?” Rara bertanya lagi.
Rakai diam tak menjawab.
“Aku tahu kau pasti malu membawaku keluar jalan-jalan… aku tak tahu apapun tentang banyak hal.. dan aku membuatmu menjadi pusat perhatian karena wajahku.. aku menghabiskan uang bulananmu dan membuat banyak orang salah paham padamu..aku berjanji akan menggantinya satu hari nanti..”
Rara berdiri masuk ke kamarnya dan Rakai masih membisu di kursi ruang depan. Ia benar-benar tak tahu akan bicara apa. Ia tak pandai berbohong.
*
Rakai tak tahu mengapa belakangan dia terganggu dengan pertanyaan Rara tentang keberatannya menerima Rara karena dia bukan manusia normal. Rara jadi aneh sejak itu. Rara sering mengunci diri di kamar dan selalu sudah tidur saat ia kesana. Termasuk hari ini. Pagi-pagi ia ke kios yang ditinggali Rara sambil membawa nasi kuning kesukaannya dan perempuan itu tak ada. Ia meninggalkan nasi itu di ruang tamu. Sepanjang hari ia berpikir mengenai perempuan itu. Saat istirahat makan siang, ia memutuskan akan menemui Rara lagi.
*
Rakai mimpi buruk saat tidur siang itu. Ia bangun dengan wajah berkeringat. Rara sudah di sampingnya saat ia membuka mata. Rara menatapnya cemas.
“Kau baik-baik saja?” Rara bertanya.
“Ya…ya.. aku baik-baik saja” Rakai mengelap keringat didahinya dengan saputangan.
“Apa kau sudah lama disini?” Rara bertanya lagi.
“Ya… tadi jam sebelas.. aku ingin kau menemui Radit malam ini…”Rakai menjawab cepat.
Rara mengangguk dan tersenyum. “Akhirnya tiba juga…”
*
Sepanjang jalan Rara dan Rakai tak banyak bicara. Mereka berjalan bersisian di trotoar sambil memasukkan tangan ke saku jaket.
“Jadi apa rencanamu kalau kau bertemu dengan Radit?” Rakai akhirnya membuka mulut. Rara tersenyum simpul. Matanya menatap lurus lantai trotoar.
“Tidak ada… aku tak punya rencana… mungkin aku hanya akan bercerita yang sebenarnya..”
“Dan kalau dia tak percaya?” Rakai bertanya lagi. Nada suaranya terdengar cemas.
“Kenapa aku harus repot memaksanya percaya? Kalau dia tak percaya aku takkan memaksanya percaya,,,”
“Bagaimana dengan kutukanmu?”
Kali ini Rara pias. Ia benar-benar tak punya ide. Kepalanya buntu. Ia tak punya banyak waktu sebelum kutukan itu menemui tenggatnya. Pada bulan purnama kedua ia harus telah menikah dengan Radit.
“Jadi batu lagi juga bukan berita buruk…” Rara menjawab ringan. Rakai menoleh dan berhenti berjalan. Ia menarik tangan Rara dan memastikan perempuan itu tidak sedang bergurau.
“Dulu.. seorang pangeran mati-matian mengejarku bahkan mau membangun seribu candi untukku, karena aku keras kepala dan demi harga diriku aku dikutuk menjadi batu.. apakah menurutmu aku akan dengan bodohnya menyembah seorang lelaki agar ia mau jadi suamiku?.. aku lebih senang menjadi batu..”
Rakai menatap Rara marah.
“Kau memang keras kepala dan angkuh.. dulunya memang kau seorang putri.. tapi kau juga harus ingat sekarang kau bukan siapa-siapa.. kau hanya seorang perempuan yang bahkan menggantungkan hidupnya menjadi parasit orang lain..”
Rara diam tak berkomentar. Tenggorokannya serak dan matanya berair.
“Aku tak ingin menyakitimu.. aku hanya ingin kau berpikir perasaan orang-orang di sekelilingmu.. kau bisa bicara dengan mudahnya kau mau menjadi batu.. seakan kau lupa dengan apa saja yang aku korbankan demi membuatmu masih hidup hingga hari ini.. apa kau tak bisa berhenti bertindak tolol dan memutuskan semuanya dengan pikiran panjang?.. kau takkan mati hanya dengan sedikit membujuk Radit.. itu takkan melukai harga dirimu.. apa kau pernah berpikir seberapa sulit aku harus membiasakan hidup dan mendengarkan cerita konyolmu tentang masa lalumu yang sama sekali tak bisa kumengerti?.. sekarang kau akan aman bersama Radit, satu hal yang kumohon darimu, pastikan ia mau menerimamu.. aku tak mau kau jadi batu dan aku tak mau terikat denganmu selamanya..”
Rara menangis. Wajahnya menunduk dalam.
*
Rakai melamun pagi itu. Pagi keenam setelah Rara pergi dari kios pamannya. Perempuan itu sakit hati. Perempuan itu juga patah hati. Sebenarnya, hati Rakai juga berantakan. Ia merasa bersalah dan sangat kehilangan. Perempuan merepotkan yang setiap hari menempel padanya itu tiba-tiba tak muncul di hadapannya lagi. Ia cemas bagaimana keadaan Rara sekarang. Lebih dari itu, ia takut Rara nekat menjadi batu. Rakai rindu Rara. Sangat merindukannya.
*
Hari ini adalah peresmian kompleks seribu candi di Prambanan. Beberapa channel televisi nasional ikut meliput. Rakai duduk diam tak banyak bicara di sebelah Radit, Rangga, dan Andika.
“Adanya peraturan pemerintah yang menyebabkan beberapa candi di Indonesia tak bisa dipugar menginspirasi kami untuk menggunakan batu-batu tersebut sebagai bahan utama pondasi candi-candi ini. Seperti yang Anda lihat, candi-candi baru ini terlihat serupa dengan candi aslinya” Radit menjawab pertanyaan seorang reporter televisi. Rakai tak berselera mengikuti acara itu sampai selesai. Ia menyambar jaketnya dan menyelinap pulang. Sebentar lagi pasti para reporter itu menanyakan kabar arca Roro Jonggrang dan sudah pasti Radit akan menyuruhnya menjawab.
Benar saja, beberapa menit kemudian seorang reporter kembali bertanya mengenai kabar menghilangnya arca Roro Jonggrang. Rakai setengah berlari menyelinap di kerumunan tamu.
“Oh.. kemarin memang arca itu menghilang karena memang sedang diperbaiki, tapi semalam perbaikannya sudah rampung. Anda sekarang sudah bisa melihatnya lagi di sana..”
Rakai membeku di tempatnya berdiri. Kakinya lemas. Arca itu telah kembali ke tempatnya…
*
Malang, 29 Maret 2011

One thought on “Delegasi Masa Lampau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s