Bengkel Patah Hati

Bengkel Patah Hati
(Hari ini)
Digta menyeka keringatnya sambil memarkir sepedanya di depan warung. Dimas sedang duduk-duduk bersama Radit di depan warung. Kevin sepertinya sedang di dalam warung, karena motornya terparkir dan sosoknya tak kelihatan.
Warung mereka terlihat ramai hari ini. Rencananya, sore ini Digta akan mengganti dekorasi warung bagian depan. Plang warung yang bertengger di depan pagar sudah terlihat tua dan miring. ‘Bengkel Patah Hati’, begitu bunyinya. Warung Lesehan ini mereka dirikan lima bulan lalu dengan saham investasi penuh dari Dimas. Saat mereka SMA dulu, mereka sering bermimpi memiliki warung yang pas untuk kumpul bareng, dan hari ini mimpi itu sudah kokoh berdiri di depan matanya.
Bengkel patah hati milik mereka jelas bukan warung lesehan biasa. Mereka yang bukan laki-laki dan tidak patah hati dilarang masuk kawasan ini. Di pintu masuk warung, bertengger tulisan angkuh ‘Cintamu seperti Bensin. Cintaku seperti api. Beruntunglah Tuhan tidak merestui hubungan kita. Setidaknya dunia tidak bisa menyalahkan kita atas kebakaran-kebakaran yang terjadi akhir-akhir ini’.
Tulisan nyentrik itu menjadi pembuka keanehan-keanehan yang disajikan di warung ini. Ide-ide gila Radit adalah alasan utama Dimas mau mendanai pembangunan warung lesehan ini. Dimas dengan segala pikirannya yang ‘outside the box’ pasti akan membuahkan ‘sesuatu’.
Warung itu terbagi menjadi enam ruangan lebar yang disekat dengan dinding kedap suara. Pojok kiri adalah kamar ‘mendengar’. Digta bertanggungjawab penuh atas ruangan itu. Di kamar ini, para lelaki yang sedang patah hati itu bebas bercerita dan menangis, seringkali mereka juga berteriak-teriak dan ada juga yang Cuma diam membatu berjam-jam didalamnya. Digta dan beberapa teman jurusan psikologinya akan memberikan petuah-petuah sederhana di akhir sesi ‘mendengar’. Teman-teman psikologinya yang memang sedang terobsesi menjadi psikiater dengan senang hati meluangkan waktu mampir di warungnya hanya untuk mendengarkan pelanggan-pelanggan warung ini.
Tepat di sebelah kanannya adalah ruang karaoke. Pelanggan-pelanggan warung bisa menggunakan kamar ini sesuka mereka. Di bagian kiri tengah ada dapur dan kamar mandi. Shania, si koki juga membangun kamar kecil di sebelah dapur. Shania adalah satu-satunya wanita yang dibolehkan masuk warung ini. Iapun tak kelihatan seperti ‘perempuan’. Dandanan dan cara bicaranya tak ada bedanya dengan lelaki-lekai di warung ini. Di kanan dapur dibangun ruangan segiempat dengan jendela ekstra lebar yang menghadap kebun belakang warung. Kamar ini multifungsi, sebagai kamar ‘merenung’ dan musholla. Suka-sukalah, yang jelas tiap orang yang masuk diwajibkan cuci kaki dan tidak banyak cincong di dalam kamar.
Di bagian pojok depan adalah ruangan utama alias warung lesehannya, ruangan dengan tikar-tikar pandan dan meja-meja kecil yang ditata seenaknya. Ada televisi, pemutar DVD, Sound system, dan kaset-kaset DVD yang berbaris di rak. Kaset-kaset video konyol unduhan dari Youtube itu bebas diputar oleh pengunjung warung. Di meja servis (sebutan untuk meja kasir), tersedia pemutar CD dan sound kecil. Para pengunjung akan disuguhi lagu-lagu mancanegara yang tidak terdeteksi bahasanya dan sama sekali tidak bisa dimengerti artinya. Lagu dari Thailand, lagu dari Vietnam dan lagu-lagu tidak terkenal lainnya sengaja diputar agar para pengunjung warung tidak paham maknanya. Konon, orang patah hati sensitive sekali dengan music dan lirik yang mendayu-dayu. Sebagai solusi, yang diputar di warung ini adalah music-musik berirama riang atau menghentak-hentak.
Semua yang disediakan di warung ini memang telah dikonsep khusus untuk memperbaiki kejiwaan para pengunjungnya, begitu juga menunya. Menu yang disajikan adalah minuman sangat dingin dan makanan yang sangat pedas. Es degan, es jeruk, teriyahut (sambal teri goreng), terong tertindas (penyet terong), dan gurita china (mie ramen) adalah sebagian menu warung ini. Semuanya dimasak seorang diri oleh Shania yang memang pakar di bidang produksi sambal. Para pengunjung yang tengah labil emosinya dan tergoncang jiwanya, akan sedikit melupakan penderitaannya hanya dengan menyantap masakan Shania yang aromanya terkenal menggoda perut. Dalam sekejap, mereka akan kepedasan dan sakit gigi akibat minuman yang terlalu dingin. Logikanya, sakit hati mereka akan digantikan sementara dengan sakit gigi.
Di bagian dinding warung, berdiri papan-papan whiteboard lengkap dengan spidolnya. Para pengunjung dipersilahkan menulis sesuka hatinya di papan itu.
Beberapa pigura berisi tulisan-tulisan konyol digantungkan diatas papan-papan itu. Misinya sama, menyemangati para pengunjung agar bangkit dan tidak terpuruk dalam sakit hatinya.
***
(5 tahun sebelum hari ini)
Pelajaran Sejarah pagi itu .Beberapa anak menguap lebar, beberapa lagi pura-pura tenggelam dalam cerita, sementara otak mereka memikirkan entah apa, beberapa lagi sibuk mencoreti bangku dan berkirim sms sambil terkikik-kikik, dan sisanya yang tinggal empat, tidur nyenyak di bangku masing-masing. Pak Dedi yang membaca buku sejarah di depan kelas bukannya tak tahu apa yang terjadi, hanya saja dia sedang malas menggubris, maka cerita sejarah manusia purba itu terus berlanjut.
Ia baru benar-benar naik darah setelah empat siswanya mulai mendengkur. Ini sudah keterlaluan.
“Digta!” yang dipanggil masih tidur pulas. Satu gebrakan penggaris kayu menimpa bangkunya yang malang. Brak!.
Digta menggeliat bangun. Matanya mengerjap-ngerjap mencari tahu siapa yang berdiri di depan bangkunya. Pak Dedi!, Maka ia terbatuk-batuk dan seketika tidak mengantuk lagi. pak Dedi maju dua langkah dan kali ini memelototi satu siswanya lagi yang juga baru bangun, si Dimas
“Dimas! Kevin! Radit!” dua-duanya belum sadar. Pak Dedi maju ke bangku paling belakang dan bersiap memukul penggaris kayunya ke bangku saat satu dari mereka mendongakkan kepala. Kevin menelan ludah. Matanya yang baru terbuka menatap Pak Dedi semeter di depannya. Satu tangannya mengguncang bahu Radit yang belum juga bangun.
Radit akhirnya bangun setelah kakinya diinjak Kevin.
“Kevin, saya ingin tahu, menurut Teori Darwin… kalian ini evolusi hewan apa?” Pak Dedi menutup bukunya dan menatap Kevin lamat-lamat. Kevin kisruh. Ia tahu jawabannya monyet tapi badannya yang gemetaran membuat lidahnya frustasi dan pada akhirnya tak mengeluarkan suara apapun. Ia menoleh dan si Radit melotot sambil mendesis “monyet….monyet tolol.. monyet…”. Kevin balik menatap pak Dedi lagi dan membuka mulutnya “…Gurita pak..”
Gemparlah anak satu kelas. Pak dedi tertawa terbahak-bahak. Kevin menepuk mulutnya dan memukuli kepalanya sendiri. Yang benar saja, gurita?
“Mengapa gurita Kevin? Apa menurut kamu, kalian para manusia ini mirip gurita? Mungkin bisa kamu jelaskan apanya yang mirip…..” pak Dedi bertanya lagi sambil berusaha tak tertawa. Kelas mendadak diam. Penasaran menunggu jawaban Kevin.
“Bukan gurita pak…tapi..” Kevin menoleh, melihat Radit di sampingnya. Radit membisikinya lagi, “Monyet.. monyet … monyet tolol…”. Kevin membuka mulut grogi,
“Gorila, pak” dan pak Dedi nyaris pingsan tertawa.
*
Pak Dedi memutuskan menghukum Kevin dan tiga temannya yang tertidur di kelas untuk mencabuti rumput lapangan bola. Radit yang paling manyun, paling emosi.
“Kok bisa-bisanya sih lu jawab Gurita?”
Kevin mencabut rumput di kakinya, menyerahkannya pada Digta yang paling dekat dengan tong sampah. Mereka bergerombolan mencabut rumput di bawah pohon karena kepanasan.
“Lu beneran pengen tau jawabannya Dit?”
Radit menggangguk.
“Rambut lu bikin gue mikir gurita”
Dimas dan Digta melotot. Tak tertahan lagi, mereka tertawa sampai cekikikan. Radit tak bernafsu lagi bertanya alasan penyebutan gorilla setelah itu.

tobe continued…..

One thought on “Bengkel Patah Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s