Bebas Gila dengan Menulis

Bebas Gila dengan Menulis
Saya lahir dari keluarga yang banyak aturan. Jujur, saya mengakuinya. Apakah saya bosan? Hampir setiap hari ‘iya’. Sejak saya masih SMP, saya sadar bahwa ada sesuatu yang harus saya keluarkan dari otak saya. Sesuatu yang akan jadi masalah kalau terus-terusan mengendap di kepala saya. Sesuatu yang berkobar-kobar dan tidak wajar. Sesuatu itu sifatnya ‘tidak masuk akal’ dan kadang-kadang ‘dilarang orang-orang’, seperti : naik helikopter pribadi, mendaki gunung Kilimanjaro, tersesat di India, pacaran dengan orang Korea dan lain-lain.
Maka, menulis adalah pembebasan. Menulis adalah salah satu aktifitas yang tidak melanggar peraturan rumah saya. Karena menulis sifatnya sangat privasi, tidak bisa dipantau, dan tidak mencurigakan ataupun berefek buruk pada prestasi akademik saya.Ia mewujudkan ide-ide gila yang tentu saja ditentang sepenuh hati oleh keluarga saya jika saya lakukan di dunia nyata. Saya menuliskannya. Di kertas, di computer dan di semua media yang bisa saya tulisi. Walau belum pernah benar-benar menang dalam sebuah kompetisi menulis, tulisan saya banyak mendapat respon positif dari saya sendiri (hehe) dan dari teman-teman saya yang dengan setia membaca tulisan saya.
Saya menyukai mimpi. Mimpi saya banyak sekali. saya tipikal perempuan yang mudah kagum dan mudah juga mencela. Maka mimpi saya tidak jauh-jauh dari profesi atau kegiatan orang-orang yang saya kagumi.
Dan menulis adalah mewujudkan mimpi saya. Merangkainya dalam barisan kata. Membacanya terasa seperti saya sudah menggapainya.
Saat saya sudah jadi anak kuliahan, kegilaan yang saya sadari itu kini punya nama. Saya sebut dengan ‘menggilai’. Yang saya gilai, tentunya adalah tokoh-tokoh virtual yang seratus persen tidak mengenal saya dan sering muncul di televisi dan internet. Dalam setahun, orang yang saya gilai bisa berubah lebih dari limabelas kali tergantung kualitas karakter dan kemasannya.
Disamping itu, saya juga orang yang tidak rasional dan tidak sistematis. Lihatlah betapa kacaunya organisasi tulisan saya ini. Jalan pikiran saya lompat-lompat. Saya sangat tidak ahli dalam urusan ‘fokus’. Pikiran saya mudah sekali berganti ‘angle’ dalam hitungan detik. Mungkin itulah sebabnya, walaupun menurut saya, daya tangkap saya cukup tinggi (hehe), saya belum pernah menguasai suatu bidang hingga benar-benar ‘master’. Saya sering berhenti di titik ‘lumayan bisa’ dan kemudian dengan drastisnya berubah menjadi ‘bosan’.
Dengan menulis, saya ingin mengabadikan kegilaan saya yang mudah sekali berubah topik menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan ditunjukkan. Saya ingin mengenang bahwa saya pernah mengagumi ‘ini’ dan ‘itu’. Bagi saya itu sangat menarik. Saat membaca tulisan saya dulu, saya sering tertawa menyadari betapa konyol dan memalukannya saya. Uang saya sering sekali habis untuk membeli benda-benda yang dikemudian hari akan saya telantarkan. Saya hobi beli majalah, walaupun tidak sering karena takut ketahuan ibu saya –yang dengan terang-terangan mengharamkan benda-benda begini masuk kamar saya-. Saya juga sering beli tempat pensil, buku gambar, pensil lucu, boneka kecil murah dan banyak benda aneh lain. Keluarga saya berpikir bahwa saya ini hiperbolik. Saya ini sudah mendekati tidak normal.
Saya sering khawatir sendiri bahwa saya tidak normal dan keterlaluan dalam menggilai hal-hal yang juga keterlaluan. Maka saya menyibukkan diri dengan menulis. Dengan menulis, saya bebas jadi orang gila tanpa diprotes orang.
Menulis kembali menjadi solusi saat saya ingin ‘berkuasa’, sementara di dunia nyata saya bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Saya suka menulis karena saya ingin menguasai ‘ending’ suatu peristiwa. Saat saya mengarang cerita, saya bebas berubah kelamin menjadi laki-laki. Atau saya bebas memilih lahir sebagai orang cantik yang disukai orang ganteng. Ke-tidak mungkinan di dunia nyata bisa saya atasi dengan sangat memuaskan melalui menulis. Dengan menulis, saya menjadi pribadi yang baru, punya keluarga dan bahkan pacar baru. Dengan menulis, artis manapun boleh saya akui sebagai pacar, kakak, atau suami. Dengan menulis, saya bisa membunuh dan melahirkan seenaknya.
Yang lebih penting, dengan menulis semua orang tidak bisa menyalahkan pendapat saya (salah sendiri baca). Saya adalah tuhan dalam tulisan saya, dan pembaca adalah pembaca (hehe).
Menulis dan mengirimkan tulisan ini ke media adalah mimpi saya. Saya ingin remaja-remaja seperti saya bisa bernafas dan berteriak dengan lega bahwa ‘kegilaan yang kita alami itu normal, banyak pengidapnya, tidak buruk dan sangat mungkin menghasilkan sesuatu’. Yang perlu dilakukan dengan kegilaan ini, adalah dengan mengabadikannya secara positif . Saya memilih menulis sebagai tindak lanjut. Ada yang berminat?.

-fida-husnie-

One thought on “Bebas Gila dengan Menulis

  1. Ak jga lagi jatuh cinta dengan menulis. Ak rasa dg menulis membuat hati dan jari ku lega. Tpi, setiap jari2 ngebet pgen nulis, sang ide tak mau muncl, ketika muncul malah bingung mau nlis apa, jahh >,< #curcol. Ak msh ingin blajr byak ttg menulis. Ngmong2 tulisan kakak (sok kenal) bgus2 lho,byak ngasilkan ff pula! Pgeeeen…
    Oia, slam kenal y…:), i'm a kpopers too, hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s